Membahas tentang suku dengan gadis cantik maka yang langsung teringat biasanya Uighur. Tidak salah memang karena bangsa ini sungguh memiliki wanita-wanita yang luar biasa. Tapi tentu mereka bukanlah satu-satunya. Geser sedikit ke Pakistan, ternyata juga ada suku yang terkenal dengan kecantikannya, khususnya ciri khas matanya yang berwarna biru.

Hal yang jadi pertanyaan tentu tidak hanya soal kecantikannya saja nih, tapi juga tentang mata birunya. Usut punya usut, ada yang mengatakan jika suku bernama Kalash ini ternyata keturunan Alexander Agung yang dijuluki sang penakluk itu. Lalu seperti apa pesona dan cerita tentang suku ini? Simak ulasannya berikut.

Suku Kalash yang dianggap keturunan Alexander Agung

Suku Kalash sering dianggap sebagai keturunan Alexander Agung. Walaupun secara garis sejarah perlu ditelusuri, tapi kalau dari fisik mungkin ada benarnya. Suku Kalash memiliki ciri-ciri berkulit putih serta memiliki mata yang berwarna biru. Hal ini senada dengan ciri-ciri umum Alexander yang merupakan kelahiran Eropa, atau tepatnya Yunani.

Suku Kalash [sumber gambar]
Nah, yang kemudian jadi pertanyaan adalah bagaimana bisa Alexander dianggap tetua dari bangsa Kalash? Ternyata ada cerita yang mengatakan jika Sang Penakluk ini pernah singgah di daerah itu. Kemudian beliau menikahi wanita di suku tersebut. Akhirnya dari situ lahirlah keturunan-keturunan spesial yang jadi ciri khas orang-orang Kalash sekarang. Meskipun terlihat meyakinkan, tapi catatan sejarah ini perlu untuk dipastikan kebenarannya.

Budaya pengasingan ketika haid tiba

Di balik pesona cantik dan mata birunya, suku Kalash ternyata punya budaya atau tradisi yang unik ketimbang yang lain. Salah satunya adalah ritual pengusiran bagi anggota suku yang sedang mengalami haid maupun hamil. Dilansir dari Detik, mereka dilarang untuk tinggal di rumah dan kampungnya hingga proses itu selesai. Jangankan untuk menjenguk bahkan bersentuhan secara langsung pun tidak diperbolehkan.

Budaya ketika haid [sumber gambar]
Dalam pengasingan para perempuan ini harus bertahan hidup secara mandiri. Namun demikian mereka tetap menjalaninya dengan pikiran yang positif. Ketimbang memikirkan mengenai ‘pengasingan’ bagi mereka ritual ini adalah waktu untuk berlibur, mengobrol dan jauh dari kebisingan yang ada.

Tradisi bertahan hidup yang bikin geleng kepala

Tidak hanya budaya pengasingan bagi para perempuan, ternyata ada tradisi lain yang bikin banyak orang melongo. Salah satunya adalah tradisi kedewasaan yang harus dijalani oleh para pemudanya. Dilansir dari Tribunnews, ternyata seorang remaja yang dianggap siap menuju dewasa maka harus menjalani sebuah ujian.

Tradisi yang bikin geleng kepala [sumber gambar]
Ya, mereka harus bertahan dengan diasingkan dari kampung dalam waktu yang lumayan lama. Namun demikian, mereka dibekali dengan seekor kambing selama menjalani proses ujian itu. Para remaja itu harus bertahan hidup dengan memakan daging dan susu kambing yang sudah dibawanya tadi. Setelah itu barulah mereka turun dan melanjutkan proses ritual selanjutnya.

Ritual kedewasaan yang sempat bikin heboh dan mulai jarang dilakukan

Setelah tradisi bertahan hidup di gunung itu diselesaikan, maka para pemuda itu kembali ke desanya untuk melanjutkan ritual lain. Nah di sinilah tradisi yang bikin bengong banyak orang. Bagaimana tidak, dilansir dari Tribunnews ternyata para pemuda yang melewati ritual itu bisa melakukan hubungan badan dengan wanita yang ada di desa. Bahkan sekali pun perempuan itu adalah istri orang lain.

Akhirnya mulai ditinggalkan [sumber gambar]
Hal inilah yang sempat dipandang negatif oleh banyak orang. Akan tetapi setelah menerima banyak masukan dan komentar dari dunia luar, membuat tradisi tersebut tidak lagi dilakukan. Pasalnya pariwisata juga jadi sumber pemasukan di sana oleh sebab itu suku Kalash harus menjaga nama baiknya.

BACA JUGA: 4 Fakta Uighur, Suku Tempat Lahirnya Para Wanita Paling Cantik di Dunia

Hal ini membuktikan kalau suku ini memang memiliki keunikan tersendiri sehingga banyak orang ingin datang ke sana. Terlepas dari tradisi negatif yang kini telah dilupakan itu, yang jelas mereka tetap menjaga adatnya sampai sekarang. Dan hal itulah yang menjadi nilai plus bagi mereka.