Soekarno, sebuah nama besar untuk negeri yang megah ini. Nasib orang besar, tidak selalu sebesar dan seharum namanya. Seringnya mereka adalah orang-orang sederhana, dan Soekarno adalah salah satunya.

Baca Juga : Kisah Cinta Soekarno dan 9 Istrinya

Soekarno tidak memerlukan banyak uang maupun arogansi untuk bisa memperjuangkan Indonesia atau membawa nama tanah air ke luar negeri. Hanya berbekal kecintaannya pada negeri ini, Soekarno mampu menorehkan sejarah dan menjadi pemimpin yang disegani di jamannya. Meski, pada akhir hayatnya, negeri ini seolah-olah ‘lupa’ akan jasa besarnya.

Artikel Lainnya
Ada yang Baru! Kini Tilang Bisa Dilakukan Secara Online
Michael Bambang Hartono, Orang Terkaya Indonesia yang Ikut Bertanding di Asian Games 2018

Soekarno Mencintai Rakyat

Blusukan di jaman sekarang, sudah pernah dilakukan oleh Soekarno di jamannya. Hal ini karena Soekarno sangat senang berada di tengah rakyat, bicara dengan orang-orang seperti kawannya sendiri. Bedanya, Soekarno lebih senang menyamar, agar orang tidak melihatnya sebagai seorang Presiden.

Soekarno ingin dekat dengan rakyat, seperti kawannya sendiri [Image Source]
Soekarno ingin dekat dengan rakyat, seperti kawannya sendiri [Image Source]
Dalam beberapa buku tentang Bung Karno, dijelaskan betapa Putra Sang Fajar ini sempat menyamar beberapa kali dengan sandal biasa, kemeja dan kacamata. Dengan begitu, siapa bisa mengenal Soekarno yang merupakan pemimpin negara itu?

Soekarno, kalau boleh meminjam istilah jaman sekarang, blusukan, dengan menanggalkan segala atributnya. Pakaian kebesarannya, pecinya. Lalu datang ke pasar, ke gerbong-gerbong kereta, ke desa-desa, sendirian. Tanpa kawalan asisten atau pengamanan. Sesekali dengan Ibu Fatmawati.

soekarno mengunjungi rakyat
Soekarno sudah blusukan lebih dulu. Foto Soekarno yang menunjukkan kedekatan dengan rakyat [Image Source]
Ia bahkan tidak ragu, maupun jijik, untuk mengambil cacing di tengah jalan, lantas mengembalikannya ke sawah. Padahal saat itu, Soekarno bisa saja meminta pengawal untuk melakukannya. Dengan penyamaran ini, Soekarno lebih bisa memahami negeri dan rakyatnya.

Soekarno Mencintai Wanita yang Sederhana

Banyak kisah wanita di sisi Soekarno. Namun kesederhanaan cinta dengan Ibu Fatmawati adalah yang paling banyak mencuri hati. Bung Karno yang kharismatik dan bisa menggaet wanita Amerika sekalipun, pada akhirnya tunduk pada kesederhanaan perempuan berbaju kurung merah, berkerudung kuning, Fatmawati.

Soekarno dan Fatmawati [Image Source]
Soekarno dan Fatmawati [Image Source]
“Kukatakan padanya, aku menyukai perempuan dengan keasliannya. Bukan perempuan modern yang pakai rok pendek, baju ketat, dan gincu bibir yang menyilaukan,” ujar Soekarno saat itu.

Soekarno dan Fatmawati menikah tahun 1943, hingga akhirnya memiliki lima orang anak. Termasuk di antaranya adalah Megawati Soekarno Putri dan Guruh Soekarno Putra. Sebagai ibu negara yang mendampingi Soekarno, Fatmawati mengakui bahwa mereka tidak pernah melangsungkan ulang tahun pernikahan. Selain tidak ingat tanggalnya, lebih banyak perkara tentang negara ini yang lebih penting untuk diselesaikan.

Presiden yang Mencintai Kesenian

Seni sering terlihat berada di pinggir-pinggir kehidupan sebuah negara. Sebuah topik yang hanya kelihatan sebagai hiasan yang mempercantik, topik ringan yang tidak banyak membawa nasib suatu bangsa.

Soekarno memberikan keris pada fidel castro [image Source]
Soekarno memberikan keris pada fidel castro [Image Source]

Padahal, seni dan budaya adalah identitas. Dan Soekarno amat mencintai budaya tanah airnya. Ia bisa berdansa seperti orang Amerika atau Eropa, namun Soekarno juga sangat kagum dengan tari selamat datang dari Papua. Soekarno bahkan pernah memberikan cinderamata berupa keris pada seorang FIdel Castro yang memimpin Kuba saat itu.

Istrinya pandai menari. Istananya, penuh dengan lukisan, patung dan beragam benda seni yang menakjubkan. Saat dipenjara pun, ia ditemani pertunjukan wayang. Dari karakter wayang ini, Soekarno memiliki keyakinan bahwa Indonesia suatu hari akan bebas dari penjajah. Ya, salah satu kekuatan negeri ini adalah karena saat itu, pemimpinnya dikuatkan oleh nilai-nilai moral yang ia dapat dari seni dan budaya negerinya sendiri.

Soekarno Cinta Makanan Indonesia

Orang bilang, ‘eat like no one is watching’. Soekarno dalam hal makanpun tidak muluk-muluk. Ia suka makan dengan tangan, dengan menu rumahan orang indonesia kebanyakan. Sayur lodeh, sayur asem, nasi, ikan asin, hingga sambal. Setelah makan, pria kelahiran Blitar itu suka sekali merokok atau minum kopi.

Soekarno suka makan dengan tangan [Image Source]
Soekarno suka makan dengan tangan, meski tidak suka difoto saat sedang makan.
Oh iya, makan rame-rame itu lebih nikmat kan? Soekarno juga pernah mengajak pembantu ajudan presiden makan pagi bersama. Itupun beliau tetap makan dengan tangan, meski kedua ajudannya makan dengan sendok garpu.

Menunya cukup sederhana. Nasi, sayur daun singkong, sambal dan ikan asin. Buahnya sawo dan pisang, sedangkan minumannya adalah teh. Menu bersahaja, tapi terasa nikmat karena dinikmati bersama orang-orang yang dekat dengannya. Ia juga suka makan sate ayam di sebuah rumah makan di Menteng yang dulunya bernama Tungkong. Ia selalu mengajak anak-anaknya makan di sana bersama.

Bagi Soekarno, yang Lawas Itu Lebih Membekas

Soekarno amat menyukai barang-barangnya yang telah usang. Misalnya sandal jepit lawas atau kursi dudukan lawas yang terbuat dari rotan. Kursi lawas yang sudah sering dipakai Bung Karno, katanya terasa lebih nyaman karena sudah mengikuti bentuk tubuh.

Soekarno hidup dengan sederhana bersama keluarganya [Image Source]
Soekarno hidup dengan sederhana bersama keluarganya. Suka duduk di kursi bambu lama, karena lebih mengikuti lekuk tubuh.  [Image Source]
Seorang presiden yang harusnya bisa gonta-ganti pakaian pun lebih suka pakai kemeja lama. Kalau sudah rusak, kemejanya akan dijahit lagi. Bahkan ketika sudah banyak jahitan, Soekarno masih mau memakainya.

Walau begitu, presiden pertama kita ini adalah orang yang senantiasa rapi. Pakaian tambal sulam, bukan berarti orangnya tidak rapi, bukan berarti orangnya tidak tahu bagaimana berpenampilan. Bung Karno dengan akrab akan membantu merapikan dasi yang miring dari wartawan atau siapapun, lagi-lagi, seperti kawannya sendiri.

Baca Juga : 7 Alasan Kenapa Indonesia Lebih Hebat di Masa Lalu!

Kita pernah punya sosok besar yang tidak membentang jarak dengan rakyatnya. Sosok yang dengan tulus mencintai negeri ini. Soekarno tidak hanya mewariskan sebuah negara. Secuplik cerita kecil akan sisi manusiawi seorang Soekarno ini, juga merupakan contoh yang bisa kita pelihara sebagai seorang INDONESIA. Merdeka!