Nama Letnan Jenderal TNI (Purn.) Sintong Hamonangan Panjaitan memang tak terpisahkan dari satuan elit Kopassus. Bagi pria kelahiran Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, 4 September 1940 itu, korps Baret Merah adalah tempat dirinya meniti karir hingga sukses menjadi salah seorang perwira yang disegani di Indonesia.

Dilansir dari tirto.id, dirinya bahkan dianugerahi penghargaan pemerintah daerah dan masyarakat Timor Timur atas jasa-jasanya memulihkan keamanan di daerah tersebut. Sayang, Sintong malah dicopot jabatannya dari militer karena dianggap terlibat kasus kekerasan oleh pemerintah Indonesia. Sejatinya, ada banyak jasa yang diberikan dari sang Jenderal untuk Indonesia dan satuan Kopassus.

Diberi penghargaan oleh Pemerintah Daerah Timor Timur

Sintong Panjaitan dapat penghargaan dari Gubernur Timor-Timur [sumber gambar]
Saat terjadi kerusuhan pada di Santa Cruz, Dili Timor Timur pada 12 November 1991, Sintong menjadi salah satu petinggi militer era Orde Baru yang dianggap bertanggung jawab atas peristiwa yang menewaskan banyak orang tersebut. Dilansir dari tirto.id, kasus yang menghebohkan itu sempat mencoreng nama Indonesia di mata Internasional. Meski demikian, Sintong justru diberi penghargaan dari Pemerintah Daerah Timor Timur yang ditandatangani oleh Gubernur Mario Viegas Carrascalao. Ha ini sebagai rasa terima kasih mereka atas jasanya membantu pembangunan negeri yang kini bernama Timor Leste itu.

Sosok Perwira yang kerap terlibat di misi-misi penting

Sintong Panjaitan kerap terlibat misi-misi penting [sumber gambar]
Sebagai sosok prajurit Kopassus, Sintong kerap terlibat oleh misi-misi khusus yang berbahya. Dalam buku Sintong Panjaitan: Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando (2009: 260-262) yang dilansir dari tirto.id, ia ditunjuk sebagai komandan operasi pembebasan sandera di peswat Garuda DC-9 Woyla yang dibajak dan diminta untuk segera mengumpulkan pasukannya. Sintong pun sukses melaksanakan misi yang akhirnya membuat harum nama RPKAD (sekarang Kopassus) di mata dunia. Juga diberitakan oleh medan.tribunnews, Perwira Baret Merah itu sempat dikirim menjelajahi lembah X yang belum terjamah peradaban modern pada 1969 di pedalaman Papua.

Karir militer yang cemerlang di tubuh Kopassus

Sukses membebaskan sandera di Pesawat Garuda DC-9 Woyla [sumber gambar]
Dalam buku Sintong Panjaitan: Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando, karir Sintong terbilang sangat moncer di kemiliteran. Saat lulus dari AMN pada tahun 1963 dengan pangkat Letnan Dua, ia melanjutkan pendidikan sekolah dasar cabang Infanteri di Bandung dan lulus pada tanggal 27 Juni 1964. Setelahnya, ia ditempatkan sebagai Perwira Pertama di tubuh RPKAD (sekarang Kopassus). Bersama korps Baret Merah, ia sukses mengatasi pembajakan pesawat Garuda DC-9 Woyla yang berbuah penghargaan Bintang Sakti hingga pangkatnya dinaikkan satu tingkat. Sayang, dilansir dari tirto.id, ia dicopot dari jabatannya sebagai Pangdam IX /Udayana oleh Dewan Keamanan Militer (DKM) karena dugaan terlibat dalam kekerasan yang terjadi di Santa Cruz, Dili Timor Timur pada 12 November 1991.

Menulis buku dan pernah diangkat menjadi penasihat bidang militer di era Habibie

Sintong Panjaitan menulis buku tentang perjalanan karirnya [sumber gambar]
Setelah beberapa masa berlalu, Sintong kemudian diangkat menjadi penasihat di bidang pertahanan dan keamanan. Saat itu, Jakarta tengah dilanda kemelut saat proses peralihan kekuasaan dari Jenderal (Purn) Soeharto kepada B.J. Habibie tahun 1998. Dalam bukunya, Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando pada bab Kopassus Ditarik dari Kuningan yang dilansir dari viva.co.id, ia menjelaskan bagaimana gentingnya suasana pada saat itu. Sintong menanggapi, ia merasa adanya kejanggalan pada proses pengamanan yang dilakukan.

Tetap dihormati dan menjadi bagian dari legenda prajurit Kopassus

Sintong Panjaitan dan Prabowo saat menghadiri acara Kopassus [sumber gambar]
Naik turun perjalanan karir Sintong di kemiliteran bersama Kopassus, tetap menjadi sebuah cerita yang mengesankan bagi prajurit baret merah lainnya. Hal ini terlihat saat dirinya menghadiri HUT Kopassus yang ke-63. Dilansir dari nasional.sindonews.com, ia bersama dengan dengan Prabowo mendapatkan tepuk tangan meriah dari para undangan yang hadir. Kedua orang Jenderal ini, dinilai sukses mengemban misi yang telah dilakukannya masing-masing. Jika Prabowo berhasil pada medan pertempuran di Timor Leste, Sintong juga mendapat pengakuan atas kiprahnya membebaskan sandera di pesawat Garuda DC-9 Woyla. Tak salah jika keduanya kemudian menjadi legenda di satuan Kopassus.

Tak salah jika nama Sintong Panjaitan tetap bergema di dalam diri satuan elit Kopassus. Selain dibesarkan oleh Korps Baret Merah itu, rekam jejaknya sebagai perwira militer di masa lalu juga menjadi prestasi tersendiri. Meski akhirnya harus lengser dari militer, sosok Sintong Panjaitan merupakan salah satu perwira terbaik yang pernah dimiliki Indonesia.