Sebelum ditemukannya senapan berpeluru modern, pedang telah menjadi senjata tradisional yang banyak digunakan oleh berbagai kerajaan kuno di seluruh dunia. Salah satunya adalah sebuah senjata tajam bernama Shotel yang biasa digunakan oleh prajurit kekasisaran Abyssinia asal Ethiopia, Afrika Timur. Jika dilihat dari bentuknya yang melengkung, sekilas mirip dengan celurit Madura namun berukuran sedikit lebih besar.

Para ksatria yang menggunakan Shotel sebagai senjata mereka, disebut sebagai Shotelai. Dikutip dari atkinson-sword.com, pedang yang memiliki desain melengkung itu merupakan pedang dua sisi hasil tempaan dengan kualitas terbaik. Ukurannya berkisar 13 inchi dengan mata lengkungan mata pisau yang mencapai 27 inchi. Sebagai pegangan, Shotel dipasangkan dengan bilah kayu dengan piringan tembaga pada gagangnya, yang kemudian dibungkus dengan kulit.

Shotel Ethiopia yang mirip dengan celurit Madura [sumber gambar]
Merujuk laman ancient -origins.net, saat Amda Semyon I berkuasa atas kekaisaran Ethiopia, ia membentuk sebuah satuan elit yang bernama Axurarat Shotelai. Di mana para anggotanya dipersenjatai dengan Shotel sebagai pertahanan diri. Keberadaan pasukan elit ini, ditunjang oleh hadirnya kavaleri Hareb Gonda dan Korem, dan satuan pemanah bernama Keste Nihb. Pada saat itu, Shotel dianggap senjata yang mematikan lantaran mampu digunakan untuk menyerang di sekitar daerah vital seperti ginjal dan paru-paru.

Para prajurit Abyssinian yang menggunakannya, akan bertarung dari balik perisai kulit bundar berukuran besar seraya mengayunkan Shotel milik mereka. Berbeda dengan pedang-pedang kerajaan Eropa yang lurus dan kerap digunakan dengan teknik tusukan, Shotel tidak demikian lantaran desainnya yang melengkung dan lebih cocok untuk gerakan menebas. Ujungnya yang lancip, mampu menerjang sisi bagian tubuh lawan pada sisi kanan dan kiri meski mereka memakai tameng di depannya.

Dikutip dari laman atkinson-sword.com, Shotel berasal dari abad pertengahan dan bertahan dalam gelombang pengaruh barat hingga abad ke-19. Keberadaannya diyakini tak lepas dari khopsh (Flachion, Kopesh), yang merupakan pedang buatan era Mesir kuno Periode Menengah ke-2 (Hyksos). Uniknya, Shotel dianggap bukan sebagai pedang untuk pertempuran, melainkan sebatas hiasan untuk mengesankan perhatian seorang gadis.

Dalam kisah-kisah yang diceritakan oleh orang-orang Eropa, Shotel digambarkan sebagai senjata yang tidak praktis digunakan dalam pertempuran. Bahkan saking sangsinya mereka dengan Shotel, ia dianggap tak mewakili “roh ksatria berpedang” yang sesungguhnya, akibat dari bentuknya yang dianggap bukan sebagai pedang kebanyakan serta minimnya fungsi untuk digunakan dalam perang.

Mampu digunakan untuk menyerang sisi samping lawan [sumber gambar]
BACA JUGA: Inilah Alasannya Kenapa Katana Disebut Sebagai Pedang Terbaik di Dunia

Dengan bentuk ukiran pada bilah melengkunya yang khas, Shotel dianggap tak mewakili karakteristik pedang konvesional yang terkesan lurus. Meski demikian, keberadaannya di masa lampau begitu diandalkan hingga dijadikan sebagai senjata pasukan elit kekaisaran Ethiopia. Hingga pada akhirnya dianggap tak lebih dari sekedar pemanis untuk menarik perhatian seorang wanita, Shotel tetap menjadi senjata legendaris dari kekaisaran Ethiopia yang telah mendunia.