Masyarakat Indonesia yang hidup selaras bersama semboyan Bhineka Tunggal Ika, akhir-akhir ini agak sedikit memudar dengan ramainya isu sosial yang berkaitan dengan SARA. Tampak jelas, faktor kedewasaan dan bijaksana dalam berpikir maupun menyaring informasi yang ada, masih sangat minim ditemukan di negeri ini. Alhasil, berita yang masuk kategori ‘rawan gesekan’, dilalap begitu saja tanpa mencoba untuk mengkritisi lebih dalam.

Seperti sebuah foto wanita yang tengah shalat di dalam sebuah Gereja beberapa waktu lalu, banyak menimbulkan polemik dan perdebatan sana-sini. Namun, fakta di lapangan yang dilansir dari laman asumsi.co, akan membuka mata hati kita dengan hal sebenarnya yang tengah terjadi pada saat itu.

Berawal dari wisata Bhineka komunitas Wisata Kreatif Jakarta

Usut punya usut, wanita yang tampak shalat di dalam Gereja tersebut merupakan salah satu pengurus masjid yang menjadi bagian dari agenda tur Komunitas Wisata Kreatif Jakarta. Di mana, acara itu memperkenalkan ragam budaya dan corak rumah peribadatan di Indonesia.

Berawal dari tur wisata kebhinekaan [sumber gambar]
Sesuai jadwal yang ada, agenda pertama dalam tur tersebut adalah mengunjungi sejumlah tempay ibadah. Di antaranya adalah Masjid Lautze, Kuil Sikh, Kuil Tricakti, Kuil Sai Baba, dan Gereja GPIB Pniel. Kebetulan, para peserta tur dari Komunitas itu datang dengan latar belakang budaya dan agama yang berbeda.

Acara tur yang bertujuan untuk merawat toleransi dalam keberagaman

Pada masing-masing tempat yang dikunjungi, semua peserta disambt dengan hangat dan ramah oleh pengurus. Di sana, mereka mendapatkan wawsan dan informasi mengenai sejarah tempat ibadah yang dikunjungi.

Tur yang diikuti anggota dengan latar budaya dan agama berbeda [sumber gambar]
Saat berada di Masjid Lautze, peserta mendapatkan paparan secara singkat mengenai sejarah Masjid karena lokasi akan digunakan untuk shalat Ashar. Para peserta pun melanjutkan tur mereka dengan menuju ke tempat terakhir yakni Gereja GPIB Pniel. Saat itu, waktu telah menunjukan pukul 17.10 WIB.

Berbuka puasa bersama di dalam Gereja

Tak terasa, waktu terus bergulir hingga berkumandangnya suara adzan maghrib. Pertanda berbuka puasa telah tiba. Pengurus Gereja pun mempersilahkan peserta agar bersiap untuk makan-makan bersama. Ternyata, para pengurus Masjd Lautzee sudah berada di lokasi, lengkap dengan minuman, nasi dan lauk pauk yang mereka masak sendiri.

Buka bersama lintas agama [sumber gambar]
Para ibu-ibu jamaah Masjid Lautze akhirnya berbuka puasa bersama dengan para peserta tur Komunitas Wisata Bhineka. Mereka makan, minum dan bercanda di dalam Gereja GPIB Pniel. Seperti tak ada sekat dan jarak antara ibu-ibu jamaah Masjid dengan Pengurus Gereja.

Shalat di dalam Gereja

Shalat merupakan ibadah utama dalam Islam yang tidak tergantikan dengan apapun. Begitu pula dengan seorang ibu dalam gambar di atas. Ia terlihat begitu khusyuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim.

Teerpaksa karena faktor jarak dan waktu [sumber gambarmsu]
Kenapa shalat di Gereja? Tak lain karena saat itu menunjukan pukul 18.45 WIB. Di mana waktu maghrib tersisa sedikit sekali. Sementara masjid terdekat dengan Gereja Pniel hanyalah masjid Lautze yang berjarak 1, 2 Km jika naik motor dan 800 meter dengan berjalan kaki. Terlebih, situasi jalanan sedang macet dan berpotensi membuang waktu.

Perkara shalat, memang lebih utama dilakukan di dalam Masjid. Namun jika dalam kondisi harus menunaikan kewajiban tersebut di luar, sah-sah saja. Asal, seluruh aspek syariat, kebersihan dan lainnya, memnuhi syarat untuk melaksanakan shalat. Jadi jangan keburu negatif thinking dulu ya Sahabat Boombastis.