Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani sempat menyinggung perihal sulitnya perekonomian Indonesia akibat utang di masa lalu yang diwariskan oleh kolonial Belanda. Tak hanya itu, Indonesia juga mewarisi perekonomian yang rusak hingga efeknya tetap dirasakan hingga saat ini.

Menurut Sri Mulyani yang dikutip dari Detik (12/10/2020), harta kekayaan milik Indonesia rusak karena perang. Dari sana, seluruh investasi yang sebelumnya dibukukan Belanda, akhirnya dibebankan menjadi utang bagi Indonesia sebesar $1,13 miliar. Lantas, bagaimana utang-utang di masa lalu itu diwariskan?

Warisan utang sebesar $1,13 miliar yang dibebankan pada Indonesia

Konferensi Meja Bundar [sumber gambar]
Salah satu hasil perjanjian dari Konferensi Meja Bundar (KMB) adalah menyangkut kesepakatan antara Indonesia dan Belanda di bidang ekonomi. Menurut Prof. Dr. Boediono dalam Ekonomi Indonesia (2017), salah satu dari empat syarat yang diajukan adalah, Indonesia menanggung pembayaran utang pemerintah Hindia Belanda sebesar $1,13 miliar dolar AS.

Presiden Sukarno sempat mengabaikan utang meski telah dibayar sebanyak 82 persen

Presiden Sukarno saat berpidato [sumber gambar]
Kondisi Indonesia di awal-awal merdeka memang carut marut. Mulai dari sarana dan prasarana yang rusak akibat perang (1945-1949), hingga birokrasi di pemerintahan yang belum sepenuhnya mapan. Sukarno pun akhirnya mengabaikan utang-utang yang dibebankan sesuai perjanjian KMB pada Agustus 1956.

Pemerintah Orde Lama memilih pinjaman ke negara-negara Blok Timur

Momen Sukarno saat bersama Nikita Kruschev [sumber gambar]
Selain mengabaikan utang, pemerintah Orde Lama juga memilih untuk mengajukan pinjaman kepada negara-negara Blok Timur, yakni Uni Soviet dan sekutu-sekutunya yang memang dekat dengan Indonesia. Sebagian hasilnya digunakan untuk membayar utang warisan Belanda yang pada saat itu telah dilunasi sebanyak 82 persen.

Masuk ke era Orde Baru Soeharto yang mewarisi beban utang Orde Lama Sukarno

Momen Ronald Reagan dengan Soeharto sewaktu berada di Amerika Serikat [sumber gambar]
Hingga pecah peristiwa Gerakan 30 September 1965 dan lengsernya pemerintahan Orde Lama Sukarno, Soeharto yang naik ke kursi kepresidenan harus menanggung beban utang warisan tersebut. M.C. Ricklefs, dalam Sejarah Indonesia Modern 1200-2008, 2008: 602 menuliskan, utang pada masa Orde Baru Soeharto mencapai $2,36 miliar di akhir 1965. Di mana 59 persennya adalah pinjaman kepada negara-negara komunis.

Utang yang kini terus diwariskan ke era presiden setelahnya

Soeharto saat menandatangani pinjaman kepada IMF [sumber gambar]
Gaya pemerintahan Orde Baru yang cenderung pro ke pihak Barat, juga tak lepas dari masalah utang. Soeharto juga diketahui meminjam lewat lembaga-lembaga bikinan Barat seperti Intergovernmental Group on Indonesia (IGGI) yang beranggotakan Bank Dunia, IMF, dan ADB sejak tahun 1967, dan menambah utang lewat Consultative Group on Indonesia (CGI) sampai lengser pada 1998. Era presiden berikutnya bisa dibilang hanya meneruskan warisan utang yang ada dengan cara mengajukan utang pula.

BACA JUGA: 5 Negara Besar Tapi Memiliki Paling Banyak Utang di Dunia

Sejak berdaulat sebagai bangsa yang merdeka, Indonesia memulainya dengan tumpukan utang warisan kolonial Belanda. Hal ini diperparah dengan kondisi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang jumlahnya sangat besar. “Dari sisi ekonomi waktu kita merdeka, kita diberikan warisan Belanda tidak hanya perekonomian yang rusak namun juga utang dari pemerintahan kolonial,” ucap Sri Mulyani yang yang dikutip dari Detik (12/10/2020).