Duka masih menyelimuti Indonesia pasca terjadinya gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tenggara. Meskipun bantuan sudah mulai berdatangan, warga masih tinggal di tenda pengungsian dan mengandalkan pertolongan yang ada. Ya, rumah, sekolah, serta tempat ibadah semuanya amblas rata dengan tanah.

Di tengah gempa, ada sebuah kejadian yang cukup menarik untuk Boombastis.com bahas kali ini. Adalah ritual balia yang dianggap oleh masyarakat bertentangan dengan nilai yang mereka anut. Banyak pula netizen yang malah mengaitkan hal tersebut dengan kejadian yang menimpa mereka. Apakah benar faktanya seperti itu? Mari simak uraian ini sampai akhir.

Hidangkan sesajen yang dianggap memuja setan

Sesajen yang dipersembahkan [Sumber gambar]
Kegiatan yang cukup mendapat perhatian ini dimulai ketika seorang warga berusia lanjut (sekitar 80 tahun) menghidangkan sesajen berupa aneka nasi, telur, pisang, serta seekor ayam yang masih hidup di pinggir Pantai Talise Mantikulore, Palu Timur, Sulawesi Tengah. Sesajen tersebut dipersembahkan untuk penguasa laut Palu yang katanya menyebabkan tsunami terjadi. Dengan adanya kegiatan tolak balak tersebut, mereka mengharap bisa melindungi warga dari marabahaya. Ritual yang dipimpin seorang nenek ini ternyata diikuti oleh beberapa warga lain.

Kecaman dari banyak masyarakat

Kondisi Palu pasca tsunami [Sumber gambar]
Sesaat setelah kejadian persembahan ini berlangsung, banyak warga yang mengecam tindakan pemberian sesajen ini. Mereka menilai bahwa hal tersebut termasuk ke dalam perilaku syirik (balia) yang mengarah ke pemujaan setan. Di sisi lain, mereka malah memperingati bahwa adanya bencana sebagai sebuah peringatan. Seperti dilansir dari pojoksatu.id, “Kegiatan ini merupakan salah satu upaya agar orang mengetahui kebesaran-Nya untuk segera sadar atas apa yang sudah diperbuatnya,” ujar Tokoh Masyarakat Palu, Abdurahman.

Kegiatan pemberian sesajen yang diganti dengan dzikiran

Penolakan terhadap Balia dan diganti dzikir [Sumber gambar]
Akhirnya setelah video tentang pemberian sesajen ini beredar, ratusan warga langsung menggelar zikir dan doa bersama di lokasi tersebut. Kegiatan tersebut diakhiri dengan pelaksanaan salat gaib berjamaah. Dengan adanya zikir tersebut, mereka berharap lokasi sekitar Pantai Talise segera aman, karena tempat tersebutlah merenggut paling banyak nyawa saat tsunami. Warga juga memasang spanduk yang berisi penolakan terhadap balia atau hal yang berbau syirik.

Asal usul balia dalam tradisi masyarakat Sulawesi

Pembukaan Festival Palu Nomoni [Sumber gambar]
Melansir cnnindonesia.com, Ritual balia biasanya dilakukan oleh masyarakat adat yang percaya api dapat mengusir penyakit. Berbagai ritual tersebut dapat memakan waktu hingga tujuh hari tujuh malam, tergantung tingkat keparahan penyakit yang ingin diobati. Tercatat dalam sejarah, ritual balia ini dilakukan oleh penduduk Sulawesi Tengah jauh sebelum Islam masuk ke daerah itu. Selain sebagai penyembuh, ritual ini juga bertujuan untuk meminta perlindungan kepada nenek moyang mereka. Balia ini sebenarnya sudah lama tidak dilakukan, baru 3 tahun terakhir ini ia dihidupkan kembali dalam Festival Nomoni. Sayangnya, saat pembukaan festival, selalu ada peristiwa alam yang terjadi.

Apakah kegiatan ini ada kaitannya dengan bencana yang terjadi? Wallahua’lam. Yang jelas kita tidak boleh mengaitkan hal tersebut dengan azab ya Sahabat Boombastis. Kita berdoa saja semoga tak ada lagi bencana, gempa susulan, serta peristiwa alam yang terjadi di Palu dan sekitarnya.