Indonesia sebenarnya punya banyak atlet berbakat yang bisa mengharumkan nama negeri ini di kancah dunia. Bukan hanya di olahraga seperti badminton atau sepakbola, di cabang balap atau otomotif juga banyak putra bangsa berbakat yang berusaha dan bahkan ada yang mampu mengibarkan bendera Indonesia di podium tertinggi.

Baca Juga : 5 Perempuan ini, Pembalap Tercantik Di Dunia

Salah satunya adalah Rio Haryanto. Pembalap satu ini digadang gadang sebagai pembalap Asia terbaik di kategori single seater. Bahkan kini Rio tengah berjuang memperebutkan satu tempat untuk tampil di ajang balap Formula 1. Nah, penasaran seperti apa sosok ini sebenarnya?? Yuk, kita sedikit berkenalan di sini!

1. Sosok Yang Cinta Indonesia

Selain bakat, ternyata sosok Rio Haryanto sendiri menjadi salah satu daya tarik utamanya. Rio adalah pembalap yang dikenal sebagai pribadi cerdas, kalem, bersahaja dan cinta keluarga. Ada lagi yang menarik dari Rio adalah bahwa dia sosok yang religius. Ini terbukti dari selembar kertas bertuliskan ayat kursi yang selalu menempel di samping kokpit tempat dia duduk saat sedang balapan.

rio sosok yang religius [Image Source]
rio sosok yang religius [Image Source]
Oh iya, ada lagi satu hal dari Rio yang bisa kita teladani, yaitu rasa cinta tanah air. Ada suatu kisah dimana ia pernah ditawari fasilitas dan dukungan penuh dengan berganti kewarganegaraan Malaysia atau Singapura. Namun Rio menolak semua itu, karena meskipun minim dukungan dari negaranya sendiri, Rio masih ingin mewujudkan mimpinya menjadi pembalap Indonesia yang berlaga di ajang F1.

2. Lahir Dan Besar Di Keluarga Pembalap

Mengenal Rio Haryanto rasanya kurang lengkap jika tak mengenal keluarganya. Iya, Rio Haryanto lahir di Solo, 22 Januari 1993. Ia adalah putra dari pasangan Indah Pennywati dan Sinyo Haryanto yang ternyata seorang mantan pembalap nasional.  Tak hanya ayahnya, dua orang kakaknya, Roy dan Ryan Haryanto juga merupakan pembalap yang berlaga di cabang balap Gokart nasional.

Usia 6 tahun terjun di dunia balap [Image Source]
Usia 6 tahun terjun di dunia balap [Image Source]
Bakat balap Rio mulai terlihat saat pada umur 6 tahun dia terjun di arena balap gokart dan sekaligus menjadi juara nasional untuk kelas kadet. Pada tahun 2005 dan 2006, IMI (Ikatan Motor Indonesia) menganugerahkan penghargaan Atlet Gokart Terbaik Junior kepada Rio.

3. Terjun Ke Arena Balap Mobil

Setelah berkiprah selama kurang lebih 7 tahun di cabang gokart, Rio Haryanto naik kelas dengan mengikuti Asia Formula Renault dan Formula Asia 2.0 sekaligus menandakan awal karir Rio di dunia balap mobil. Kelas yang berbeda tidak lantas membuat Rio kerepotan. Saat itu ia berhasil menjadi juara ke 3 dengan total 2 kemenangan.

Terjun ke arena balap mobil [Image Source]
Terjun ke arena balap mobil [Image Source]
Pada tahun 2009, Rio mengikuti ajang balap Formula BMW, membela Tim Meritus Malaysia. Di ajang ini, Rio semakin menjadi jadi dengan berhasil menang 11 kali. Total Rio mendapat 14 podium dari 15 balapan, termasuk diantaranya 4 kemenangan, pole position dan fastest lap dalam 4 balapan berturut turut di sirkuit Sentul.

4. Perjalanan Menuju Formula 1

Demi mewujudkan mimpinya menjadi pembalap F1, Rio meninggalkan Asia untuk mengikuti ajang GP3 Europe Series 2010. Perbedaan sirkuit, cuaca, serta lawan yang lebih kompetitif sempat membuat Rio yang membela Tim Manor Racing kesulitan beradaptasi dengan balapan di Eropa. Pada seri pertama di sirkuit Catalunya, Rio hanya mampu finish di luar 10 besar bahkan di luar top 20 saat sprint race. Namun pada seri berikutnya di Istambul Park Turki, Rio mampu tampil memukau dengan berhasil menjadi juara dan 2 podium lagi pada seri seri berikutnya. Menempatkannya di posisi ke 5 di klasemen akhir. Majalah Autosport pun menyebutkan penampilan Rio sebagai ” Salah satu yang paling mengejutkan musim ini “.

Menuju Formula 1 [Image Source]
Menuju Formula 1 [Image Source]
Asa menjadi pembalap F1 datang saat di tahun yang sama, Rio mendapatkan tawaran untuk menjalani test drive mobil F1 milik Marussia Virgin Racing. Ini menjadikan Rio sebagai pembalap Indonesia pertama yang menaiki mobil F1 secara resmi dan pembalap berusia 17 tahun satu satunya yang melakukan uji coba mobil F1.

Tahun 2011, Rio kembali menambah rekor kemenangannya, dengan menjadi juara di sirkuit Nurburing Jerman dan Hungaroring.  Sayang penampilannya yang tidak konsisten menyebabkan dia harus puas berada di posisi ke 7 di klasemen akhir

5. Karir Di GP2

Tahun 2012, Rio naik kelas ke ajang balap GP2. Sayang, ia kesulitan meraih hasil maksimal di ajang ini. Di musim pertamanya, Rio tidak mampu naik ke podium meski berhasil meraih 1 kali pole position dan fastest lap. Baru pada 2 musim berikutnya, ia berhasil meskipun bukan juara. Termasuk naiknya Rio ke podium 3 seri Monaco, menjadikannya pembalap Indonesia pertama dan satu satunya yang mampu naik ke podium di salah satu sirkuit legendaris tersebut.

Nama Rio baru benar benar berkibar dan di perhitungkan di musim 2015 ini. Bersama dengan Campos Racing, Rio berhasil tampil kompetitif dan memukau dengan berhasil naik podium 5 kali. Termasuk 3 kemenangan yang di raih sirkuit Bahrain serta berturut turut di Red Bull Ring Austria dan Silverstone Inggris.

Kematangan strategi dan pengalamannya, membuat penampilan Rio banyak dipuji oleh para komentator serta pengamat, bahkan beberapa mengatakan bahwa Rio adalah pembalap Asia terbaik saat ini. Rio sempat menjadi runner up dan berjuang untuk klasemen 3 meskipun harus berakhir anti klimaks saat di seri pamungkas di sirkuit Yas Marina. Saat itu balapan harus dihentikan saat baru berjalan 1 putaran, padahal Rio sedang berada di posisi ke 2 dalam balapan. Seri musim ini pun berakhir dengan menempatkan Rio di klasemen 4.

Baca Juga : 5 Pembalap Cantik Yang Membanggakan Indonesia

Itulah sekilas tentang karir dan perjalanan Rio Haryanto. Sosok berbakat dan bersahaja yang berjuang keras mengibarkan merah putih dan mengumandangkan lagu Indonesia Raya di panggung tertinggi dunia. Tentunya masih banyak Rio Rio lain di luar sana yang punya mimpi dan cita-cita yang sama, namun ironisnya kendala dan masalah yang dihadapi sama pula, minim dukungan atau malah terlupakan oleh negaranya sendiri.