Kalau bicara tentang emansipasi wanita, pasti tidak terlepas dari sosok Kartini. Ya, perjuangan beliau untuk mendapatkan kesetaraan menjadi sebuah titik balik dalam sejarah Indonesia. Oleh sebab itu, banyak perempuan Indonesia yang ingin mewarisi semangat juang beliau yang tak akan pernah padam.

Sejatinya, simbol emansipasi wanita pada masa penjajahan bukan Kartini saja. Salah satu contohnya adalah Ratu Zaleha yang berjasa mengumpulkan banyak suku Dayak untuk berjuang bersama melawan Belanda waktu itu. Nah, biar kamu tahu lebih dalam mengenai Ratu Zaleha sang tokoh emansipasi dari Banjar ini, simak ulasan berikut.

Ratu Zaleha dan semangat pejuang yang mengalir di darah

Sosok perempuan tangguh ini bukanlah bangsawan biasa, karena beliau adalah pejuang wanita yang ditakuti oleh Belanda. Ratu Zaleha ternyata memiliki darah pejuang yang mengalir dalam dirinya. Dilansir dari laman Republika, beliau adalah anak dari Muhammad Seman sekaligus cucu pangeran Antasari.

Lawan Belanda sejak kecil [sumber gambar]
Perjuangan melawan penjajah bukanlah sebuah pengalaman baru, pasalnya beliau bahkan sejak kecil sudah ikut ayahanda melakukan perlawanan pada Belanda. Ratu Zaleha sejatinya punya nama asli Gusti Zaleha dan lahir tahun 1880. Akhirnya dalam perjuangannya barulah beliau diberi nama Ratu Zaleha, karena dapat memimpin banyak pemberontakan fisik sekaligus dianggap simbol emansipasi wanita dari Banjar.

Masuk Islam dan menghimpun banyak suku Dayak lawan Belanda

Sepeninggal Muhammad Seman, beliau meneruskan perlawanannya ayahnya itu dalam melawan Belanda. Dalam masa sulit, beliau akhirnya memantapkan diri untuk memeluk agama Islam dengan sahabat perjuangannya bernama Bulan Jihad. Ratu Zaleha bukanlah seorang sosok wanita Banjar biasa, pasalnya dirinya menghimpun beberapa suku Dayak untuk berjuang bersama melawan Penjajah.

Ratu Zaleha [sumber gambar]
Beberapa suku yang berhasil dihimpun adalah Dayak Dusun, Kenyah, Ngaju, Kayan, Siang, dan Bakumpai. Tak jarang Ratu Zaleha dan para pasukannya itu harus melewati pertempuran fisik yang sangat sengit namun demikian beliau tak pernah menyerang bahkan sampai akhir.

Pernikahan Ratu Zaleha dan masa pengasingan

Ratu Zaleha menikah dengan Gusti Muhammad Arsyad, selain jadi suami yang setia beliau juga membantu perjuangan sang istri melawan penjajah. Namun sayang saat melakukan perlawanan, pasukan Gusti Muhammad Arsyad dapat ditaklukkan dan akhirnya beliau diasingkan. Ratu Zaleha tak gentar, beliau tetap berjuang sendiri walaupun tak bersama suami.

Pejuang Wanita [sumber gambar]
Akan tetapi perlawanannya pun dapat ditaklukkan oleh penjajah. Pada tahun 1904, pasangan suami istri ini diasingkan bersama ke Bogor, barulah tahun  1937 mereka diperbolehkan kembali ke Banjarmasin. Pengasingan itu menjadi bukti betapa takutnya Belanda dengan kekuatan pasangan suami istri pejuang ini, bahkan pemberontakannya disebut kelompok paling bahaya di Kalimantan Selatan dan Tengah pada masanya.

Akhir kisah Ratu Zaleha dan penyesalan sahabatnya

Tepatnya 23 September 1953, kabar duka mengiringi para pengikut perjuangan Ratu Zaleha. Ya, sosok wanita tangguh itu telah berpulang kepada Yang Maha Esa. Beliau akhirnya dimakamkan di kompleks makam raja-raja Banjar di Banjarmasin. Tak selang beberapa bulan, sahabatnya Bulan Jihad baru keluar dari pengasingan diri selama 49 tahun selama perjuangan.

Siasat Belanda [sumber gambar]
Mendengar kabar kalau Ratu Zaleha telah tiada, kesedihan luar biasa menerpa dirinya. Sebagai sebuah penghormatan atas jasa-jasa Ratu Zaleha, Pemerintah Martapura, Kabupaten Binjai, menamai rumah sakit umum daerah dengan nama beliau. Ya, meskipun raganya telah tiada, namun jasanya akan tetap harum selamanya.

BACA JUGA: Nyimas Gamparan, Wonder Woman Indonesia Pemimpin Pasukan Wanita Melawan Belanda

Ratu Zaleha menjadi salah simbol emansipasi bagi wanita selain Kartini pada masa penjajahan. Beliau membuktikan kalau bahkan wanita juga akan berjuang sekuat tenaga melawan penjajah meskipun dalam pertempuran fisik. Hal inilah yang harus dicontoh anak muda zaman sekarang, baik dari segi perjuangannya maupun kegigihannya.