Film Kong Vs Godzilla mungkin jadi salah satu tontonan yang sangat dilihat tahun ini. Hal ini tidak telepas dari latar belakang dari dua karakter itu yang sudah ada sejak tahun 1950-an dulu. Nah, apalagi dengan teknologi zaman sekarang yang tentunya membuat banyak adegan di film itu seolah nyata dan benar terjadi. Kamu ada di team mana nih? King Kong Atau Godzilla?

Bicara soal film monster raksasa, Korea Utara dulu juga punya loh film serupa. Dia adalah Pulgasari saingan Godzilla pada masanya dulu. Baik dari segi pengambilan gambar dan cerita film ini gak kalah dengan  buatan Jepang atau Amerika loh. Yuk mengenal film Kaijuu buatan Korut yang melegenda di ulasan di bawah ini.

Pulgasari sang monster raksasa Korea Utara

Bisa dibilang kalau Pulgasari ini adalah ‘Godzilla’-nya Korea Utara. Hal ini karena tema dari film yang dibuat cenderung sama, mengenai monster raksasa. Namun bedanya Pulgasari tidak punya asal sci-fiction seperti Godzilla yang tercipta dari radiasi nuklir. Justru mahkluk ini lekat dengan mistis dan legenda yang ada di Korea Utara.

Sosok Pulgasri [sumber gambar]
Ya, sejatinya Pulgasari sendiri memang terinspirasi dari legenda rakyat mengenai Bulgsari. Sosok binatang mistis yang lahir dari patung kayu buatan seorang biksu yang lama kelamaan tubuhnya membesar karena memakan logam. Begitu pula di filmnya, Pulgasri adalah sosok monster yang lahir dari boneka seorang pandai besi dan akhirnya menjadi raksasa.

Alur cerita Pulgasari yang lumayan unik

Sebagai salah satu film andalah buatan Korut, tentunya ceritanya harus dibuat menarik. Hal itu tidak terlepas dari campur tangan Shin Sang-ok seorang sutradara ternama Korsel dan beberapa kru yang pernah menggarap Godzilla milik Toho, Jepang. Alur cerita Pulgasari sendiri adalah lahirnya monster ini dari boneka beras yang dibuat oleh seorang pandai besi. Pulgasari benar-benar hidup ketika anak dari sang pandai besi itu tak sengaja meneteskan darah pada boneka itu.

Kisah Pulgasari [sumber gambar]
Monster ini awalnya berbentuk kecil namun lama kelamaan membesar sebesar gunung karena memakan metal. Hingga akhirnya membantu warga yang kesusahan melawan raja penindas. Walaupun akhirnya Pulgasari malah berkhianat dan memakan metal desa hingga habis.

Penculikan dilakukan pemimpin Korut agar film ini jadi

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya kalau ada campur tangan sutradara Korsel dalam film ini. Namun dirinya tidak suka rela berpartisipasi melainkan diculik oleh Korut. Awalnya Shin Sang-ok, mengetahui kalau istrinya diculik terlebih dahulu oleh Korut. Hingga akhirnya dirinya datang ke Hong Kong dan malah diculik juga. Ketika sampai di Korut, dirinya dipenjara terlebih dahulu agar mau membuat film.

Diculik pemimpin Korut [sumber gambar]
Hingga akhirnya Shin Sang-ok menulis sebuah pesan pada Kim Jong Il untuk setuju melakukanya. Proyek film Pulgasari pun rampung dan Shin Sang-ok mendapat kesempatan untuk mempromosikannya ke beberapa negara. Hingga pada satu kesempatan, dirinya berhasil kabur dan berlindung ke kedutaan Amerika.

Propaganda yang ingin disampaikan di film Pulgasari

Sebenarnya adanya film ini bukan hanya untuk hiburan saja melainkan mengadung pesan yang tersembunyi. Sejatinya film ini sendiri ada untuk proganda pada dunia  mengenai buruknya ideologi kapitalis menurut Kim Jong Il. Pulgasari sendiri adalah perwujudan dari kapitalisme itu sendiri yang awal mula bersikap baik namun lama kelamaan malah mengorbankan dan menyerang warganya sendiri.

Saingan Godzilla Jepang [sumber gambar]
Belum lagi adanya tirani kerajaan yang menindas rakyat dengan semena-mena akhirnya tumbang karena para petani dan rakyat yang bersatu. Hal itu menujukkan pula ideologi komunis yang dianut Korut dan ingin dunia mengetahuinya dan ikut dengannya.

BACA JUGA: Bertemu Beberapa Tahun Sekali, Inilah 10 Potret Haru Reuni Masyarakat Korut dan Korsel

Memang film ini sangat penuh dengan muatan propaganda, sehingga sempat ditolak beberapa negara. Meskipun banyak intrik pula di dalamnya tapi tidak menutup fakta kalau Korut bisa bikin fim Kaijuu menyaingi Godzilla pada waktu itu. Sayang sekali itu, tidak ada film dari Korut lagi yang bisa mendunia.