Gesekan antar negara rumpun Melayu di kawasan Asia Tenggara ternyata memang masih kerap terjadi. Setelah Malaysia yang kerap mengganggu masyarakat Tanah Air dengan tingkah polahnya yang cenderung provokatif, kali ini Singapura pun melakukan hal yang serupa. Entah disengaja atatu tidak, negeri Singa bentukan Inggris itu menjual PRT asal Indonesia secara online.

Tentu saja, hal ini pun menjadi kasus yang mendapatkan sorotan keras di Tanah Air. Tak hanya mengecewakan rakyat Indonesia, Kementerian Luar Negeri RI pun ikut prihatin dengan adanya peristiwa tersebut. Benarkah negeri yang katanya ‘kaya raya’ ini hanya dianggap sebagai tempatnya mencari babu alias PRT? Lantas, bagaimana kita harus menyikapi kejadian semacam ini?

Berawal dari unggahan PRT di situs jual beli online

Iklan online yang bikin heboh [sumber gambar]
Pada sebuah situs jual beli online, Carousell, terdapat sebuah unggahan yang menampilkan wajah-wajah PRT Indonesia. Di mana mereka diiklankan alias dijual secara daring bagi pengguna yang berminat. Kita sebagai rakyat Indonesia, tentu akan merasa malu ya Sahabat Boombastis. Terlebih, stigma Tanah Air memang lekat sebagai negeri pengekspor pembantu di wilayah Asia Tenggara dan secara global. Kementerian Luar Negeri RI pun, telah turun tangan dengan mengirimkan nota Diplomatik kepada pihak berwenang Singapura.

Faktor kesengajaan atau jangan-jangan..?

Kasus yang membuat Menteri kedua negara kaget [sumber gambar]
Bukan hanya pihak Indonesia yang merasa tak enak, Kemenaker Singapura, Ministry of Manpower (MOM) pun ikut terkejut dengan adanya peristiwa tersebut. Seperti yang dilaporkan kantor berita BBC yang dikutip dari detik.com, pihak berwenang Negeri Singa itu kini tengah menyelidiki kasus ‘penjualan’ PRT yang ikut melibatkan sebuah situs jual beli online. Mereka bahkan telah memberikan pernyataan resminya melalui laman Facebook. Entah disengaja atau tidak, yang jelas kedua negara kini sama-sama terkejut dan berupaya mencari solusinya.

Kami tengah menyelidiki kasus ini, dan telah mengatur agar penawaran ini dicabut,” sebut Kementerian Tenaga Kerja Singapura yang dilansir dari news.detik.com.

Sadar diri akan realita Indonesia sebagai negara pengekspor babu

Ilustrasi PRT Indonesia [sumber gambar]
Memang, kejadian tersebut betul-betul sangat memalukan bagi segenap bangsa Indonesia. Namun, peristiwa semacam ini sejatinya berkaitan erat dengan realita yang ada. Menurut Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), M Jumhur Hidayat, setidaknya ada 6,5 juta jumlah TKI yang bekerja di 142 negara. Jika ditelusuri lagi, TKI tersebut berasal dari 392 Kabupaten/Kota. Padahal di seluruh Indonesia terdapat 500 Kabupaten/Kota.

Para TKI itu datang dari 392 Kabupaten/Kota. Artinya kabupaten kota kita kan ada 500 jadi memang gila pertumbuhannya,” imbuhnya yang dilansir dari finance.detik.com.

Bagaimana kita sebagai masyarakat harus bersikap?

Isu tentang PRT harus disikapi dengan bijak [sumber gambar]
Kasus penjualan PRT secara online ini, seharusnya tak perlu disikapi secara berlebihan. Apalagi sampai menyalahkan atau bahkan menjatuhkan nama pemerintah. Sebagai masyarakat, kita harusnya belajar mengubah pola pikir dari adanya kejadian tersebut. Bagaimana agar bisa meningkatkan kemampuan dan kualitas diri. Supaya saat akan dikirim bekerja ke luar negeri, menjadi tenaga yang dihargai karena skill dan keterampilannya dalam bidang tertentu. Bukan tunduk menghamba sebagai babu. Kalau enggak setuju, kritik sih boleh-boleh saja ya Sahabat Boombastis. Asal yang membangun dan memberikan jalan keluar. Bukan hanya koar-koar belaka.

Solusi yang bisa diambil pemerintah Indonesia

Permasalahan PRT harus bisa dicarikan solusinya [sumber gambar]
Berkaca dari kejadian di atas, setidaknya pemerintah bisa mengambil tiga kebijakan strategis. Pada sisi sosial, pejabat terkait negeri ini harusnya mencarti tahu, kenapa profesi PRT sangat diminati di Indonesia. Lalu dalam sudut pandang ekonomi, jelas sudah bahwa mereka merasa Tanah Airnya tidak bisa memberikan penghidupan yang layak. Hingga akhirnya memilih pergi mencari nafkah ke luar negeri sebagai PRT. Terakhir pada kacamata politik, bagaimana pemerintah bisa menjamin keamanan serta hal-hak mereka di tanah seberang. Terkadang, PRT yang bermasalah dengan hukum, sering tak tertangani secara maksimal karena terbentur alasan politis antar kedua negara.

Kasus PRT dijual secara online, memang terlihat tak etis dari sisi kemanusiaan. Tentu saja, ini bukan hanya pekerjaan rumah bagi pemerintah, tapi juga kita semua yang tinggal di Indonesia. Tak hanya bicara soal aturan, politik, dan hukum. Tapi bagaimana upaya kita untuk menyiapkan SDM Indonesia lebih matang lagi di masa depan. Agar negeri tercinta ini, tak lagi dikenal hanya sebagai penghasil babu di kawasan Asia Tenggara.