Pendidikan sejatinya tidak pernah mengenal usia. Berapa pun umur seseorang asal masih ada keinginan dari dalam dirinya untuk belajar, maka ia sama sekali tidak dilarang untuk melakukannya. Jangankan anak kecil usia di bawah lima tahun, para orangtua sepuh pun tidak masalah untuk terus belajar. Dan faktanya banyak kok kakek nenek yang kembali ke sekolah. Seperti yang dilakukan orang opa-oma Thailand ini.

Layaknya anak-anak sekolahan, para orang tua di sana mengenakan seragam dan pergi lagi ke tempat belajar. Hal ini ternyata adalah program dari pemerintah Thailand. Tujuannya sendiri cukup mulia ternyata, yakni memberikan pengetahuan-pengetahuan yang selama ini mungkin belum mereka ketahui. Para orang tua di sana tentu antusias dengan program ini. Namun siapa sangka di sisi lain ternyata aktivitas tersebut menyimpan cerita yang cukup miris.

Banyak lansia Thailand yang kini kembali ke sekolah

Umumnya masa sekolah berakhir ketika seorang anak sudah berhasil sampai di jenjang tinggi semisal SMA hingga S3. Namun ternyata tidak demikian dengan yang ada di Thailand. Bagaimana tidak, jangan  kaget jika banyak lansia di sana yang memakai seragam dan pergi ke sekolah.

Lansia sekolah [Sumber Gambar]
Bukan berarti mereka belum lulus hingga usia tua, justru mereka kembali lagi sekolah dengan program pemerintah. Tak hanya memakai seragam, bahkan ada bus serta kelas sendiri bagi para lansia ini. Program ‘lansia kembali sekolah’ ini dinilai lumayan berhasil dalam menghilangkan problem sosial dan mental yang dialami murid yang berumur tua ini.

Mereka diajarkan banyak hal yang tidak pernah diajari sebelumnya

Jangan samakan sekolah lansia ini dengan SD, SMP atau tingkat pendidikan serupa. Pasalnya mereka sendiri meskipun berusia lanjut sudah paham dengan segala pelajaran itu. Yang ada nanti di sekolah mereka akan diajarkan beberapa pengetahuan yang tidak pernah diberikan sebelumnya.

Pelajaran para lansia [Sumber Gambar]
Entah itu budaya atau bahasa negara lain, kerajinan tangan yang jarang ditemui, hingga seni dan tari. Yang jelas ketika mereka kembali ada ilmu baru yang dimiliki. Sedangkan masalah keadaan sekolahnya sendiri, mirip dengan yang biasa. Ada ruang kelas, jam pelajaran dan guru yang akan selalu membimbing mereka. Bisa dibilang ini sekolah ‘tambahan’ selain yang formal.

Kesepian adalah alasan utama didirikan sekolah ini

Usut punya usut, alasan berdirinya lansia kembali sekolah ini juga karena melihat keadaan mereka. Bagaimana tidak, pasalnya banyak dari mereka ini mengalami kesepian lantaran tak ada keluarga yang menemani di masa tuanya. Dengan kembalinya mereka ke zaman sekolah, diharap bisa sedikit  membantu mereka dalam menghilangkan rasa kesepian.

Kesepian alasan utamanya [Sumber Gambar]
Apalagi saat di sekolah para lansia ini juga dapat bertemu dengan teman yang seumur serta tak merasa sendirian lagi. Oleh sebab itu pelajaran dibuat senyaman mungkin agar para lansia bahagia serta dapat berinteraksi dengan mereka yang bernasib sama dengan yang lainnya.

Perubahan keadaan di masyarakat terpaksa mendorong ke jurang kesepian

Lantaran kesepian lantaran tak ada keluarga, bukan berarti mereka dibuang. Pasalnya sudah jadi ciri khas bangsa Asia untuk merawat orang tua yang telah lama membesarkan anaknya, di Thailand pun begitu. Namun lantaran kemajuan zaman anak-anak muda lebih menginginkan hidup terpisah alias mandiri dengan anak dan istrinya.

Diharap ada perubahan baru [Sumber Gambar]
Banyak juga dari anak-anak muda yang memilih meninggalkan kampung untuk mencari kehidupan baru. Dan sudah diduga apa yang selanjutnya terjadi, para orang tua hanya bisa hidup di kampung sendirian. Seolah tak punya pilihan, banyak generasi tua yang tetap tinggal, oleh sebab itulah program lansia kembali sekolah ini akhirnya dicanangkan.

BACA JUGA: 4 Fakta Ini Membuktikan Thailand Saat Ini Berubah Jadi Negara Miskin

Dari kejadian di Thailand ini kita jadi paham betapa menderitanya para generasi tua yang ada di sana yang disiksa kesepian. Mungkin ini jadi pelajaran buat kita untuk merawat dan memperlakukan orang tua dengan baik. Apalagi mengingat jasa mereka tak akan pernah terbalaskan.