Kita mungkin sudah hafal dengan betapa gaharnya kemampuan militer Indonesia. Nggak hanya soal peringkat saja, tapi bahkan ada beberapa negara yang sampai berguru kepada angkatan perang kita. Sehingga nggak heran juga kalau sampai sekarang Indonesia cukup dipertimbangkan dan diperebutkan pengaruhnya. Untung saja sampai detik ini kita masih jadi negara non-blok.

Ada banyak hal yang memang bisa jadi bukti kalau militer kita kece. Termasuk salah satunya adalah deretan prestasi di ajang-ajang internasional. Jika dihitung sudah seringkali para perwakilan TNI kita dapat medali dan naik podium. Hmm, makin bangga nggak sih dengan militer kita? Lalu seperti apa kisah mentereng TNI di ajang kejuaraan internasional? Simak ulasan menariknya berikut.

Jadi juara olimpiade, para TNI bikin bangga

Sebuah keberhasilan ditorehkan oleh tentara republik Indonesia dalam gelaran olimpiade militer dunia. Tepatnya pada tahun 2015 lalu bertempat di Korea Selatan, beberapa kontingen di Indonesia berhasil membawa pulang medali dari sana. Salah satunya adalah Serda (Kowad) Dessy Alvionita berhasil membawa pulang medali perak dalam cabang parachuting.

TNI memang olimpiade [Sumber Gambar]
Sedangkan dua medali perunggu ditorehkan oleh  Serda (Kowad) Ni Putu Virgynia Widayanti dalam cabang Judo dan Serda (Wara) Benanda Fransiska dalam cabang parachuting. Atas keberhasilan mereka, panglima TNI waktu itu, Gatot Nurmatyo memberikan hadiah 150 juta bagi mereka yang membawa medali perak dan 75 juta untuk medali perunggu.

Indonesia yang jadi Best Fair Play Orienteering dalam olimpiade 2011

Sebelum keberhasilan di Korea, ternyata negara kita juga sempat menorehkan kemenangan dalam ajang World Military Games 2011 di Rio, Brasil. Bagaimana tidak, pasalnya hanya negara kita yang mendapatkan predikat sebagai Best Fair Play Orienteering. Meskipun tidak mendapatkan sebuah medali, namun anugerah gelar ini sendiri jadi kebanggaan buat kita.

TNI Best Fair Play Orienteering [Sumber Gambar]
Tak dapatnya medali kala itu bukanlah hal yang aneh pasalnya belum ada organisasi yang menaungi cabang Orienteering. Sebagai informasi, jenis olahraga ini adalah perpaduan antaran navigasi darat dan lari lintas alam. Namun demikian di tahun-tahun berikutnya TNI semakin membenahi diri dan mulai unjuk gigi.

Dua belas kali jadi juara tembak ASEAN, TNI tak mengecewakan

Meskipun dalam cabang Orienteering TNI belum menunjukkan taringnya, lain lagi dalam olahraga menembak. Pasalnya Indonesia bisa disebut sebagai jawara kalau urusan menembak. Buktinya dalam ajang pertandingan menembak yang diadakan di ASEAN, Indonesia menang berturut-turut dan dinobatkan jadi juara bertahan.

TNI juara tembak ASEAN [Sumber Gambar]
Kurang lebih hampir 12 kali negara kita merajai cabang ini. Alhasil atas aksinya dalam ASEAN Armies Riffle Meet (AARM) ini membuat banyak negara di ASEAN yang minta ajari mengenai cara menembak yang baik seperti mereka. Jadi jawara hampir 10 kali lebih, tentu ini jadi kebanggaan tersendiri buat Indonesia.

Gak hanya di ASEAN, kejuaraan di Australia pun ikut diembat

Tak cukup menang di ASEAN, Indonesia mencoba menjajal kemampuan di Australia dalam cabang menembak. Dan benar apa yang dikira, negara kita mengukir sebuah prestasi baru. Tak hanya pulang dengan medali saja, bahkan Indonesia menjadi juara umum dalam ajang tersebut.

TNI juara termbak Australia [Sumber Gambar]
Bayangkan saja, di lomba yang diikuti 20 negara tersebut, Indonesia memborong 23 medali emas dari total 50 yang ada. Yang lebih mencengangkan lagi kalau ini bukan kali pertama Indonesia memborong gelar juara, namun sudah ke sembilan kalinya kemenangan dipersembahkan pada bangsa. Ternyata tentara kita sudah tak perlu diragukan teknik menembaknya ya.

BACA JUGA: Lagi-Lagi Senjata Buatan dalam Negeri Berhasil Mengantarkan TNI AD Menjuarai Lomba Tembak di Australia

Beberapa prestasi yang ditorehkan ini menjadi bukti betapa hebatnya kemampuan TNI kita. Kemenangan dalam cabang olahraga membuat bangga bangsa dan makin dicintai. Semoga ke depannya tentara nasional Indonesia bisa lebih berprestasi lagi. Nggak cuma dari sisi manusia, tapi juga alutsista dalam negerinya.