Sore itu, saya memberanikan diri bertandang ke Rumah Bengawan Solo, usai mengikuti diskusi buku Laut Bercerita yang ditulis oleh Leila S Chudori. Sekedar informasi untuk Sahabat Boombastis (Saboom), buku baru Leila S Chudori ini bercerita tentang carut-marut tragedi 1998—pemberontakan mahasiswa diikuti tragedi penculikan dan penghilangan paksa 9 dari 22 orang di antara mereka. Salah satu dari korban hilang bernama Petrus Bima Anugerah.

Di ruang diskusi itulah saya pertama kali bertemu dengan orangtua korban penculikan 1998 tersebut di Fakultas Hukum, Universitas Brawijaya Malang. Lalu saya bertanya, “apa boleh sowan ke rumah Bengawan Solo?” Mereka menyilakan saya dengan hangat. Dari sinilah saya mulai mengenal lebih dekat siapa Petrus Bima Anugerah dan keluarganya yang tetap setia menanti di Rumah Bengawan Solo selama 20 tahun.

Mengenal Petrus Bima Anugerah

Siapa Petrus Bima Anugerah? Pasti pertanyaan tersebut yang pertama kali terbersit di pikiran Saboom sekalian. Ia adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga Surabaya, angkatan 1993. Lahir di Malang, 24 September 1973, anak kedua dari empat bersaudara Dionysius Utomo Rahardjo dan Genoveva Misiati.

Rumah Bengawan Solo

Dia melakukan apa untuk Indonesia, kok kita harus mengenalnya? Ini pasti menjadi pertanyaan kedua Saboom sekalian. Jika saya menyebut Munir, kalian pasti sudah tahu lah ya bagaimana kisahnya. Ternyata, di balik Munir masih ada 22 aktivis pemberontakan rezim kejam Orde Baru yang menerima perlakuan tidak adil dan kekerasan. Mereka telah berjasa membuat Indonesia cukup aman dan bebas menyampaikan pendapat seperti saat ini. Mereka bukan hanya tak diadili rezim penguasa, bahkan hilang tanpa kabar sampai sekarang.

Di Kuil Penyiksaan Orde Baru dan Laut Bercerita

Merujuk artikel yang ditulis Nezar Patria, di majalah Tempo edisi khusus Soeharto berjudul Di Kuil Penyiksaan Orde Baru,  tahun 1998 ia pindah dari Yogyakarta ke Rumah Susun Klender, Jakarta Timur bersama tiga orang teman, Aan Rusdiyanto, Mugiyanto, dan Petrus Bima Anugerah. Mereka anggota Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID). Bimo—panggilan akrab Petrus Bima Anugerah menjabat sebagai Koordinator Divisi Pendidikan, Agitasi, dan Propagada di SMID.

Dionysius Utomo dan Laut Bercerita

Novel Laut Bercerita karya Leila S Chudori mengambil kisah Bimo sebagai tokoh Biru Laut yang tak gentar melawan kekejian Orde Baru. Pemuda ini selalu saja rindu masakan rumah yaitu gulai tengkleng, yang belakangan diketahui sebenarnya sayur lodeh, ungkap Pak Tomo, ayahnya. Dalam novel tersebut dikisahkan dengan mendalam bagaimana mereka berempat diculik oleh Tim Mawar di bawah naungan Kopassus untuk disiksa (dipukuli, dipaksa berbaring di balok es, serta disetrum) sambil diinterogasi. Apa yang tertulis dalam novel persis dengan apa yang disampaikan Nezar Patria dalam artikelnya.

Surat terakhir Bimo untuk keluarga di Rumah Bengawan Solo

Dari awal saya menyebut Bengawan Solo, mungkin Saboom sekalian merujuk pada sungai terpanjang di Indonesia itu. Bukan, bukan, Bengawan Solo yang dimaksud adalah salah satu nama jalan di Malang, tempat tinggal Bimo. Rumah Bengawan Solo berada di pojokan gang kecil. Rumah mungil dengan papan nama D. Utomo, nomor 20. Saya disambut hangat dengan suguhan air putih yang menyegarkan tenggorokan ketika tercekat menyimak kesaksian demi kesaksian orangtua Bimo. Paduan kehangatan dan kesegaran yang bermakna.

Surat Terakhir Petrus Bima Anugerah

Pak Tomo membeberkan surat-surat Bimo, karikatur, serta potret terakhir yang tersimpan rapi di Rumah Bengawan Solo. Hal yang terasa paling ironis yaitu saat menyimak selembar surat terakhirnya, saya bilang, “mas Bimo detil sekali ya bu,” sebab di akhir tulisan tangan itu Bimpet berjanji akan pulang pada Paskah, April 1998. Ternyata setelah 20 tahun berlalu, keluarga Bimo tak pernah lagi merayakan Paskah dengan lengkap.

Janji Jokowi saat kampanye

Sebelum terdapuk sebagai presiden, Jokowi sempat mengundang Pak Tomo dan beberapa keluarga orang-orang yang dihilangkan secara paksa, tergabung dalam Ikatan Orang Hilang Indonesia (IKOHI), untuk berdiskusi. Kala itu Pak Tomo hadir antara lain bersama Fitri Nganthi Wani—putri pertama Wiji Thukul yang juga korban penghilangan paksa pada era rezim Orde Baru. Mereka berpikir akan mendapat sedikit angin segar dari Jokowi.

Apa Kabar Janji Jokowi

Selayaknya politikus yang berjanji, Jokowi menyatakan akan mengulas kembali dan mencari korban hilang dalam kasus pelanggaran HAM ’65, ’78, serta ’98. “Simpelnya, orang hilang ya dicari, tapi enggak tahu bakal ditemukan atau tidak,” ungkap Pak Tomo pasrah. Beliau hampir selalu mendapat pertanyaan yang sama tanpa titik-terang. Menjelang masa akhir jabatan Jokowi ini pun, IKOHI belum mendapat kepastian atas janji empat tahun lalu.

“Melawan Lupa,” pesan bagi kids zaman now terkait sejarah negara ini

Sekarang kita bisa bebas berkomentar, menjadi netizen yang julita jaya dan maha benar, namun sadarkah kita berkat Bimo dan kawan-kawan hak tersebut bisa kita dapat. Maka dari itu, sudah menjadi kewajiban kids zaman now untuk melawan lupa dan lebih jauh mempelajari bagaimana Indonesia bisa mencapai kemudahan dan kebebasan seperti yang kita kecap sekarang.

Bimo Petrus Belum Pulang

Pak Tomo dengan rendah hati menyatakan banyak terima kasih pada penggiat media, serta Leila S Chudori khususnya yang telah melahirkan kisah bangsa Indonesia di tahun 1998. For your information, sebelum Laut Bercerita terbit, penulis asal Malang, Ratna Indraswari Ibrahim juga mengangkat kisah serupa dalam novel berjudul 1998. Hanya dengan membaca dan terus merawat memori tersebut, kids zaman now tentu tak segan bertindak jikalau kejadian tersebut terulang di Indonesia. Jangan sampai! Amit-amit, Saboom.

Perjuangan keluarga Bimo di Rumah Bengawan Solo untuk menanti kehadiran putra mereka memang tak mudah. Tak sedikit dipandang sebelah mata oleh tetangga. Ibu Genoveva berpesan pada saya sebelum pamit, “yang kami butuhkan selama ini hanya satu, kepastian. Kalau memang masih ada sekarang ada di mana? Kalau memang sudah tidak ada, mbok yo dikasih tahu kapan dan kena apa, biar kita bisa mendoakan.” Hari ini, tepat 20 tahun yang lalu Bimo dinyatakan hilang, Rumah Bengawan Solo pun tetap merayakan Paskah, tanpa kehadirannya.