Fenomena likuifaksi tanah yang meluluhlantakkan Petobo dan sekitarnya, menyisakan ratusan korban jiwa yang hingga kini masih belum ditemukan keberadaannya. Struktur tanah yang ambles dengan ratusan bangunan yang tenggelam ke dasar bumi, menyulitkan petugas berwenang dan relawan untuk mengevakuasi sebagian warga yang masih terjebak. Entah mereka masih dalam kondisi hidup atau sudah tidak bernyawa.

Dilansir dari news.detik.com, proses evakuasi dan pencarian di Petobo dan Balaroa telah dihentikan sepenuhnya pada 11 Oktober 2018 silam. Sebagai akhir dari proses tersebut, diadakan proses do’a bersama dan wilayah yang terdampak likuifaksi akan ditutup. Sebagai gantinya, pemerintah setempat akan mendirikan monumen peringatan di tempat tersebut. Bagaimana lika-liku kisahnya? Simak ulasan di bawah ini.

Kondisi Petobo dan Balaroa yang menyulitkan evakuasi

Kondisi Petobo dan Balaroa pasca bencana likuifaksi [sumber gambar]
Akibat likuifaksi yang terjadi, wilayah Petobo dan Balaroa disulap menjadi kuburan massal bagi mereka yang tidak berhasil menyelamatkan diri. Segala upaya penyelamatan dan proses evakuasi, menjadi sangat sulit karena medan nya telah berubah sama sekali. Praktis, banyak dari mereka yang terkubur di reruntuhan bangunan dan lumpur belum ditemukan. Dilansir dari news.detik.com, BNPB juga mengalami kesulitan mencari ekskavator amfibi untuk mengangkat korban likuifaksi.

Proses evakuasi dihentikan karena berbagai alasan

Proses evakuasi terpaksa dihentikan karena berbagai alasan [sumber gambar]
Setelah sekian lama mencoba, proses evakuasi korban likuifaksi akhirnya dihentikan pada 11 Oktober 2018. Selain kondisi medan yang tidak memungkinkan untuk dilakukan pencarian, kondisi para korban hilang pun bisa menjadi masalah tersendiri. Dilansir dari news.detik.com, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB, utopo Purwo Nugroho mengatakan, jenazah yang melebur dan tidak dikenali, berpotensi menjadi penyakit jika ditemukan. Selain itu, keterbatasan alat juga menjadi salah satu alasan dari proses pencarian korban likuifaksi tersebut.

Lokasi Petobo dan Balaroa akan dibangun monumen

Lokasi Petobo dan balaroa bakal dibangun monumen [sumber gambar]
Karena tidak memungkinkan lagi untuk dihuni, Petobo dan Balaroa akan diubah menjadi sebuah areal hijau terbuka dan didirikan monumen di atasnya. Dilansir dari news.detik,com, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, tempat tersebut akan difungsikan sebagai memorial park dan sarana edukasi tempat bersejarah untuk mengenang bencana likuifaksi. Dilansir dari kumparan.com, tanah di Balaroa amblas 3 meter dan terangkat 2 meter. Sedikitnya ada 5.000 orang di kedua lokasi yang hilang tertelan lumpur dan tanah saat likuifaksi terjadi.

Sebuah monumen sekaligus kuburan bagi mereka yang tak ditemukan

Bakal menjadi monumen bagi mereka yang hilang karena bencana [sumber gambar]
Jika memang benar wilayah Petobo dan Balaroa akan dibangun monumen di atasnya, hal ini secara tidak langsung juga menjadi kuburan massal bagi ribuan korban yang belum ditemukan. Meski berkonsep ruangan hijau dan memorial park, ada baiknya jika nantinya lokasi itu juga digunakan sebagai sarana penyuluhan tentang bahaya serta dampak likuifaksi bagi kehidupan. Diharapkan juga, keberadaan monumen tersebut bisa menjadi semacam indikator jenis wilayah yang sewaktu-waktu bisa hancur karena bencana.

Memang, tak ada pilihan selain menjadikan Petobo dan Balaroa sebagai ruangan hijau yang terbuka. Selain tak bisa lagi ditinggali, kesulitan proses evakuasi dan keterbatasan sarana juga menjadi salah satu alasan didirikannya monumen tersebut. Semoga dari peristiwa ini, kita bisa belajar sekaligus mempersiapkan diri sebelum datangnya bencana yang tidak disangka-sangka.