Dalam adat pernikahan orang Makassar, pasti selalu ada uang panai yang konon jumlahnya bisa membuat rakyat jelata tercekik, karena saking mahalnya. Uang panai ini ibaratnya adalah mahar, tanda hormatnya lelaki kepada perempuan yang akan ia pinang.

Selain itu, besarnya uang panai juga ditentukan oleh strata sosial, pendidikan, asal keluarga, titel perempuan, serta wajahnya. Semakin tinggi kualitas perempuan itu, maka semakin besar uang panai yang pantas ia terima. Selama ini, ada banyak sekali cerita uang panai ratusan juta hingga miliaran dalam pernikahan orang Bugis. Kali ini, kita akan melihat kembali seorang perempuan yang tak hanya mendapat uang panai, tetapi juga emas dan ruko. Iya, kamu enggak salah baca kok, Sobat.

Pernikahan mahar Uang Panai [Sumber gambar]
Info pernikahan ini pertama kali diunggah oleh akun Instagram @makassar_iinfo pada Senin (25/3/19) lalu. “Kembali terjadi pernikahan mahal di Sulsel. Kali ini di Kabupaten Maros, seorang wanita dilamar dengan Uang Panaik ratusan juta rupiah di tambah satu stel emas. Buat anak muda, semangat cari Uang Panaik…” begitu caption yang dipakai oleh akun tersebut.

Menurut sumber, pernikahan ini sudah dilaksanakan pada Minggu 24 Maret 2019 bertempat di Pattene, Kab. Maros, Sulawesi Selatan. Adapun nama pengantin tidak disebutkan dengan jelas. Hanya saja, ada beberapa slide foto yang diunggah memperlihatkan seorang perempuan yang mendekati paruh baya. Perempuan tersebut tampak memakai riasan dan memegang kota perhiasan emas di tangannya, sedangkan uang ‘bergepok-gepok’ dibiarkan tergeletak di hadapannya.

Pernikahan dengan uang panai, emas, dan ruko [Sumber gambar]
Di lain slide, tampak sekelompok orang yang duduk menghadap meja –di atas meja tersebut ada mahar uang panai, ada makanan, serta kue. Orang-orang yang hadir pun tampak dari berbagai golongan, mungkin ini saksi yang datang untuk melihat pernikahan kedua mempelai. Setelah postingan pertama, akun @makassar_iinfo kembali memberikan update info bahwa ternyata yang menikah tersebut adalah seorang janda. Dirinya memang diberi uang panai sejumlah 200 juta Rupiah oleh sang suami, satu set perhiasan emas, plus satu unit ruko.

Enggak mengherankan jika kemudian bermunculan komentar dari berbagai pihak. Dari Iqbal Ardianto, seorang penulis buku berjudul Uang Panai, misalnya. Ia mengatakan bahwa ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam memberi uang panai. Pertama, uang panai bukanlah ajang pamer harta, pamer harga, ataupun berlomba-lomba memperlihatkan kemewahan.

Kedua, uang panai memang sebuah adat yang menunjukkan kesungguhan seorang lelaki demi hidup bersama orang yang ia cintai, dan yang terakhir adalah uang bukan segalanya tapi, segalanya butuh uang. Jangan memberi protes dengan uang panai yang terlalu banyak atau tampak memberatkan, jika sang lelaki mau dan mampu memberikan kenapa tidak? Yang penting, jadilah perempuan yang pantas, agar kelak mendapatkan lelaki yang pantas pula.

BACA JUGA: Panai, Mahar Pernikahan Suku Bugis yang Bikin Kantong Pria Kempis

Selama ini mungkin kita punya persepsi bahwa setiap perempuan Bugis pasti memberikan syarat uang panai yang jumlahnya fantastis. Nyatanya enggak semua kok, guys. Ada pula mereka yang hanya memberi syarat ‘yang penting mampu’ kepada calon suami mereka. Singkatnya, uang panai juga tidak memberikan jaminan hidup rumah tangga akan bahagia dan langgeng selamanya, seperti kisah Kakek Tajuddin, ingat?