Jika berbicara perilaku bar-bar di sepak bola Indonesia hanya dilakukan oleh oknum suporter, tentu hal tersebut adalah kesalahan. Pasalnya, selain para pendukung yang melakukan pengeroyokan seperti kasus Haringga Sirila kemarin, pemain juga kerap enteng tangan di atas lapangan hijau. Bahkan tak jarang para pemain tersebut terlihat begitu mudah menanggalkan nilai seportivitas yang mustinya sangatlah penting di olahraga ini.

Seperti menjadi budaya, perilaku tersebut kini bisa dibilang telah menjakiti semua kasta kompetisi sepak bola Indonesia. Kendati banyak yang berdalil hal tersebut terjadi lantaran perilaku wasit yang curang, namun sebagai atlet harus mejunjung tinggi nilai-nilai sportivitas. Dan berikut perilaku pemain babar yang membuat kita mengelus dada. Nomor empat biki emosi kita memuncak seketika.

Perswangi Vs PSBK peragakan olahraga MMA di lapangan

Persewangi Vs PSBK [Sumber Gambar]
Jika berbicara pertandingan Persewangi Vs PSBK apa yang ada dipikiranmu? Ya, betul sekali, laga sepak bola yang menyajikan laga MMA. Selayaknya aksi atlet di cabang olahraga tersebut kedua pemain klub Jawa Timur itu terlibat baku hantam satu sama lain. Entah apa yang ada pikiran mereka, namun yang psti gerakan-gerakan yang seharusnya dilarang begitu mudah dikeluarkan di laga tersebut, mulai dari tendangan tanpa angin sampai cekikan garuda. Bahkan dalam pertandingan tersebut pengadil lapangan yakni Suhardiyanto harus mengeluarkan tiga kartu merah. Mungkin mereka lupa ya sobat jika berlaga di sepak bola atau malah cocokya ikut pencak silat saja.

Seperti halnya maling ayam, wasit Liga3 dikeroyok oleh pemain

Pemain Persiawa menyerbu Abdul [Sumber Gambar]
Dalam sejarahnya kasus kekerasan di lapangan hijau, pengadil lapangan juga kerap terkena dampaknya. Mereka yang kerap dituduh berperilaku tidak adil atau curang acap kali menjadi bulan-bulan pemain. Seperti salah contohnya adalah Abdul Rozak yang harus rela dikeroyok pemain Persiwa Wawena lantaran keputusannya memberikan penalti kepada tim lawan Persigres Gresik United. Rozak menerima pukulan ke bagian wajahnya dan menerima tendangan hingga membuatnya tersungkur. Hal yang membuatnya layaknya maling ayam yang ketahuan oleh masyarakat.

Keroyok wasit, pemain PSAP Singli masuk penjara

Aksi tidak terpuji PSAP Singli [Sumber Gambar]
Selain laga tadi, pertandingan antara PSAP Singgli Vs Aceh United tahun 2107 juga berakhir dengan penganiayaan wasit. Dilansir laman Bolasport, keputusan pengadil lapangan yang kontroversi yang berujung pemukulan pemain Singli Muhammad Causar disebut menjadi pemicunya. Wasit bernama Aidil Azmy harus rela dikeroyok oleh sejumlah pemain PSAP. Hal tragis ini akhirnya berujung ke meja hijau dengan dihukumnya tiga pemain klub Harimau Sumatra itu. Sebuah ironi ya sobat olahragaku, inginnya sih menegakkan keadilan tapi berujung tinggal di sebuah kurungan.

Pemain Persiwa Pieter Rumaropen pukul wasit hingga berdarah

Pieter Rumaropen [Sumber Gambar]
Pieter Rumaropen, pastinya bukanlah nama yang asing di telinga kita. Sebagai pemain asal Papua kemampuannya bisa dibilang jempolan. Hal ini dibuktikan lewat gol-golnya yang kerap bantu Persiwa Wawena memperoleh kemenangan. Namun di balik hal tersebut, Pieter menyimpan sisi kelam yang tidak patut untuk dicontoh. Dilansir laman Kompas.com, berkat tidak bisa mengendalikan amarahnya mantan pemain Timnas sempat membuat wasit berlumuran darah. Ketika itu keputusan wasit yang memberikan hadiah penalti kepada lawannya yakni Pelita Bandung Raya menjadi penyebabnya tangan Pieter menghujam wasit muhaimin.

Pemukulan atau pengeroyokan baik itu membela diri atau bentuk kekesalan tetaplah bukan hal yang diperbolehkan di lapangan. Sejelek-jeleknya pengadil lapangan kita sangat diwajibkan tetap menjaga sportitivitas. Jika hal tersebut luntur atau ditanggalkan mestinya hanya hal-hal negatif yang akan diperoleh sepak bola negara kita. So, mari terus junjung nilai fair play dalam setiap pertandingan sepak bola