Terkadang, yang menghancurkan sebuah negara bukanlah bangsa asing dan penjajah tetapi orang yang ada di negeri itu sendiri. Hal ini terjadi di Yaman saat ini. Sejak tahun 2014 lalu, negara yang terkenal dengan julukan Petro Dollar ini dilanda perang saudara sehingga porak poranda.

Satu kubu mendukung pemerintahan Abd Rabbuh Mansur Hadi dan berbasis di Aden, satu lagi mendukung pemerintah Komite Revolusi kelompok Houthi yang juga melibatkan nama mantan Presiden Ali Abdullah Saleh. Akibatnya, tak ada yang dikorbankan selain rakyat yang menderita dan bangunan serta peradaban yang hancur. Singkatnya, beginilah keadaan mengenaskan yang terjadi karena perang ini.

Kelaparan dan kekurangan pangan terburuk sepanjang sejarah

Potret anak yang kelaparan dan kekurangan air bersih [sumber gambar]
Menurut data PBB dilansir dari matamatapolitik.com, sebanyak 13 juta orang di Yaman menghadapi kelaparan, dalam apa yang bisa menjadi kelaparan terburuk yang pernah terjadi di dunia selama 100 tahun. Rakyatnya sudah sangat putus asa karena dua kubu yang terus berseteru tak kunjung membaik, dari hari ke hari, penderitaan semakin mereka rasakan. Selain pasokan pangan yang susah didapat, rakyat juga tidak mendapatkan supply air bersih untuk minum dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Melansir dari Vice.com, sebanyak 18 dari 29 juta penduduk yang tinggal di Yaman, mereka sangat membutuhkan uluran tangan dan bantuan kemanusiaan.

Setiap hari pasti ada nyawa yang hilang

Gencatan senjata terus menghilangkan nyawa [sumber gambar]
Menurut hasil statistik terbaru yang dirilis oleh oleh Proyek Data Peristiwa Konflik Bersenjata dan Lokasi (ACLED) pada hari Kamis, sebanyak lebih dari 70.000 orang tewas dalam perang saudara yang terus berkecamuk di Yaman, seperti dilansir dari Liputan6.com. Dalam lima bulan belakangan ini saja, setidaknya ada 10.000 orang yang tewas sia-sia. Mereka yang meninggal ini disebabkan oleh bencana kelaparan dan haus, serta serangan udara yang dengan tega terus menerus meneror masyarakat.

Perang saudara ini melibatkan Arab Saudi sebagai pembantu salah satu pihak

Ada campur tangan Arab Saudi [sumber gambar]
Abd Rabbuh Mansur Hadi diketahui melarikan diri dari Yaman pada Maret 2015. Dirinya ternyata mendapat bala bantuan militer dari koalisi pimpinan Arab Saudi. Menurut voaindonesia.com, satu-satunya alasan Arab Saudi membantu salah satu kubu adalah, pemerintah Saudi yang beraliran Sunni ketakutan melihat kekuatan kelompok Houthi (pendukung Ali Abdullah Saleh) yang beraliran Syiah, yang konon mendapat dukungan Iran, dan merupakan musuh besar Arab Saudi. Oleh karenanya ia berdiri dan memberikan bantuan militer untuk menumpas kelompok Houthi yang dinilai akan membahayakan negara Arab Saudi.

Yaman masuk dalam list negara paling miskin

Negara miskin yang sudah hancur [sumber gambar]
Tak kalah dengan negara-negara di Afrika, Yaman menurut data dari Indeks Pembangunan Manusia PBB juga masuk dalam list negara miskin. Dari 187 negara, Yaman berada di 154. Hal ini karena Yaman sudah sangat sulit memperoleh pangan, harga barang melonjak tinggi, banyaknya pengangguran, serta sumber-sumber air yang akan segera kering dalam waktu dekat. Beberapa jejak foto yang berhasil diabadikan oleh para fotographer juga menunjukkan jika banyaknya rumah yang sudah hancur dan orang-orangnya yang hidup dengan cara menggembel.

BACA JUGA: Di Tengah Kecamuk Perang Tak Berkesudahan, Beginilah Pilunya Puasa Orang-orang Palestina

Tak ada untungnya memang perang saudara yang meletus ini. Sebagai seorang pemimpin, tidakkah kedua belah kubu merasakan penderitaan yang ditanggung oleh rakyat, berapa banyak nyawa tak bersalah yang melayang setiap hari, tidakkah ada yang melihat rumah hancur karena terkena Meriam dan bom? Tak akan ada yang diuntungkan dari perang ini, kecuali mengubah peradaban suatu negara, dari aman damai ke porak poranda.