Hari ini, suasana di beberapa wilayah Indonesia semakin memanas lantaran aksi turun ke jalan yang dilakukan oleh barisan mahasiswa dari berbagai universitas. Bukan lantaran peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera dan Kalimantan, mereka turun berdemo karena menolak sejumlah RUU yang dicanangkan pemerintah.

Untuk mengantisipasi hal ini, pihak kepolisian telah bersiap sedia dengan pasukan dan peralatan miliknya. Bukan apa-apa, demo yang ada biasanya kerap berakhir dengan gesekan yang berujung kericuhan. Hal ini ternyata nyata terbukti dan memang betul-betul terjadi saat ini. Lantas, seperti apa peralatan dan pasukan milik Polri untuk mengatasi hal tersebut?

Pelontar gas air mata jadi andalan untuk pukul mundur massa demonstrasi

Polisi menembakkan senjata pelontar gas air mata [sumber gambar]
Benda yang satu ini memang populer dan jadi senjata andalan polisi dari berbagai belahan dunia. Pertama kali ditemukan oleh Corson dan Stoughton, gas air mata akan mengeluarkan asap tebal yang mengandung zat Ortho-Chlorobenzylidene Malononitrile atau disingkat CS saat ditembakkan. Efeknya, organ tubuh seperti mata, hidung, dan mulut akan langsung bereaksi jika terhirup. Jelas, benda ini sangat efektif untuk menghalau para demonstran yang mulai memancing kericuhan.

Mobil Raisa untuk mengurai konsentrasi massa agar membubarkan diri

Mobil Raisa Polri [sumber gambar]
Bukan sosok seorang penyanyi wanita Indonesia, Raisa yang merupakan singkatan dari ‘Pengurai Massa’, merupakan kendaraan taktis milik Polri untuk mengurai kerusuhan massa. Dilengkapi berbagai teknologi canggih seperti kamera video, alat komunikasi, dan alat pengeras suara berkekuatan 1.000 watt, mobil ini mampu mengeluarkan suara bising yang dapat mengganggu saraf setiap orang yang mendengarnya. “Kalau diaktifkan, dapat mengganggu saraf melalui indra pendengaran, biasanya bikin mual bahkan sampai muntah” ujar Brigpol Nasaruddin, anggota Direktorat Sabhara Polda Sulawesi Selatan yang dikutip dari Liputan 6.

Kawat berduri dipasang demi menghalangi gerak para demonstran

Kawat berduri untuk menhambat gerak laju massa [sumber gambar]
Untuk menghambat gerak para demonstran, polisi memiliki barikade kawat berduri yang biasa dipasang di lokasi vital dan rawan terjadi kerusuhan. Dilansir dari Popular Science, Alat ini pertama kali dikembangkan oleh Lucien B Smith dari Kent, Ohio Amerika Serikat, yang menggunakan kawat berduri untuk mencegah hewan ternak kabur dari kandangnya. Smith pun kemudian mematenkan kawat berduri temuannya itu pada 25 Juni 1864, yang juga bisa digulung sedemikian rupa. Hingga kini, penggunaannya telah meluas untuk kepentingan militer hingga kepolisian.

Water canon digunakan jika keadaan semakin tidak terkendali

Water Canon Polri tampak diparkir di depan gedung dewan [sumber gambar]
Sesuai namanya, kendaraan besar ini memiliki alat penyemprot air dengan daya tinggi untuk membubarkan massa pedemo. Kendaraan bernama Water Canon buatan PT. Pindad (persero) tersebut, memiliki dua alat penyemprot untuk mengarahkan air ke kerumunan massa dan mampu menyemburkan air dengan jarak sekitar 50 meter jauhnya. Dilansir dari situs resmi Pindad, kendaraan buatannya telaj dilengkapi dengan lapis baja, berkapasitas 5.000 liter air dan berbobot seberat 16 ton. Untuk mobilitas, dapur pacu dari kendaraan water canon disokong mesin diesel 11.051 cc dengan kecepatan maksiman mencapai 80 km per jam.

Pasukan Brimob diterjunkan untuk menetralkan situasi

Ilustrasi pasukan anti huru-hara Polri [sumber gambar]
Tak hanya peralatan berupa kendaraan taktis, pasukan dari satuan Brigade Mobil (Brimob) juga diturunkan untuk mengantisipasi jika para demonstran mulai bertindak anarkis. Dengan peralatan penunjang seperti shield (tameng), body vest (rompi pelindung badan), elbow, leg, and tight protector (pelindung siku, kaki dan rusuk), gloves (sarung tangan), helmet (helm) dan anti-riot baton (pentungan), mereka turun ke lapangan untuk mengamankan situasi jika terjadi kericuhan, sekaligus memantau kondisi yang ada.

BACA JUGA: Perjalanan Demonstrasi Mahasiswa Indonesia dari Masa ke Masa yang Penuh Perjuangan

Semua peralatan di atas, menjadi andalan dari Polri saat menugaskan pasukannya di lapangan saat terjadi demonstrasi. Meski berharap agar tidak terjadi kericuhan, toh mereka tetap bersiaga bersama peralatan yang diperlukan, sambil mengamati situasi yang ada.