Beberapa tahun yang lalu ada cerita pilu tentang sepak bola Italy. Pada saat itu tim Juventus harus menyerahkan gelar yang didapatkan kepada Inter Milan. Kasus yang menggegerkan dunia ini disebut Calsiopoli atau dalam bahasa Indonesia pengaturan skor. Dan hal ini membuat beberapa petinggi Juve harus masuk penjara. Dalam sepak bola cara ini tentu sangat dilarang, bahkan FIFA akan menindak tegas perbuatan tersebut.

Tidak hanya di Italy saja, Indonesia juga pernah melakukan hal serupa. Bahkan ada banyak praktek seperti ini di negara kita yang sampai saat ini belum terungkap. Sepak bola gajah yang menimpa PSIS Semarang adalah sedikit contohnya. Pengaturan skor merupakan perbuatan yang sangat merugikan, karena hasil sebuah pertandingan dapat ditentukan oleh salah satu orang. Lalu bagaimana hal ini simak ulasannya berikut.

Indonesia VS Thailand adalah awal mula Sepak bola model ini dikenal

Indonesi VS Thailand [Image source]
Pertandingan piala AFF 1998 tentu menjadi pertandingan yang tidak pernah dilupakan oleh Bima Sakti dan kawan-kawan. Pada saat melawan Thailand terjadilah pertandingan yang sangat memalukan hingga sampai saat ini, bahkan sempat mendapatkan peringatan dunia internasional. Kisah itu terjadi saat kedua tim ingin menghindari Vietnam di semifinal. Pertandingan dimulai dengan saling jual beli serangan. Sampai pada akhirnya semua penonton dibuat tercengang dengan goal bunuh diri pemain Indonesia. Dan hal ini merupakan pengaturan skor pertama terlihat di dunia.

Mursyid Efendi adalah korban dari praktek hitam ini

Mursyid Efendi [Image source]
Nasib sial tentu dialami pemain berposisi sebagai pemain belakang ini. Pasalnya dirinya yang mencetak goal bunuh diri pada partai Indonesia melawan Thailand tersebut. Mengaku mendapat instruksi dari orang tidak disebutkannya ini, dan aksi Mursyid ini terjadi pada menit 90 sebelum. Saat itu terjadi saling berbalas goal, dimulai Indonesia yang mencetak goal terlebih dahulu lewat Miro Baldo Bento, lalu dibalas pemain Thailand, saling mencetak goal itu ditutup Mursyid lewat goal bunuh dirinya. Akhirnya tim gajah putih itu menang dengan skor 3-2, meskipun sudah diatur tim negara kita akhirnya kalah pada partai semifinal.

Godaan uang jutaan membuat pengaturan skor terus berjalan

Uang [Image source]
Uang dapat membeli segalanya, mungkin pernyataan yang tepat untuk hal ini. Setiap orang yang berani melakukan match fixing ini pastinya sudah mendapatkan dana yang melimpah. Dorongan inilah yang membuat pemain sepak bola mau melakukan kegiatan tidak sportif. Melansir pada laman Kompas pada saat tim Purwodadi mau melakukan ini dibayar 400 juta sekali pertandingan dan setiap pemainnya dapat mendapatkan 10-15 juta. Hebatnya uang yang didapatkan pemain ini langsung dapat dirasakan usai pertandingan karena dalam praktek ini bonus langsung diberikan tidak pernah melalui transfer. Tentu suatu hal yang menggiurkan siapa saja ya sahabat sobat.

Kiper adalah posisi paling rawan pada kegiatan ini

Penjaga Gawang [Image source]
Agar tidak terlihat kegiatan pengaturan skor ini biasanya menyerang posisi vital pada sebuah tim. Meskipun semua anggota kesebelasan tetap terlibat pada praktek ini. namun, melihat apa yang dikatakan oleh pelatih Agus Yuwono posisi kiper adalah paling rawan. Hal ini disebabkan karena posisi ini apabila melakukan hal yang telah diatur tidak begitu kelihatan. Selain itu pemain penyerang juga salah satu posisi yang dapat melaksanakan tugas ini. Seperti halnya yang dilakukan oleh Marcio Saouza yang ditenggarai menjual dirinya pada sebuah pertandingan saat membela Perseman Manukwari. Bahkan karena hal ini pemain asal Brazil ini ditangkap oleh Polisi.

Kasus yang sangat susah untuk di bongkar

Pengaturan Skor [Image source]
Selain karena banyak orang butuh uang, alasannya lain kenapa bisnis ini tidak dapat dihentikan adalah karena rapinya praktek pengaturan skor ini. Biasanya hampir semua elemen dalam pertandingan sepak sudah diberikan uang. Dan uang hadiah yang tidak pernah di transfer membuatnya sangat sulit untuk dilacak. Biasanya mereka sangat pintar dalam menjaga rahasia, bahkan sangat sulit untuk ditebak apakah itu macth fixing atau tidak, karena pertandingannya sangat rapi diatur dan sangat natural.

Cerita pengaturan skor tentu menjadi momok yang sangat besar untuk persepakbolaan Indonesia. Apabila hal ini terus dibinyarkan kehancuran persepakbolaan di negara kita hanya perlu menunggu waktu saja. Meskipun akan sulit untuk memberantas tapi apa bila ada dukungan dari pemerintah dan juga pemain sendiri, bersih dari praktek curang ini pasti dapat untuk dilakukan oleh sepak bola Indonesia.