Seminggu terakhir ini mungkin jadi hari-hari yang membuat sulit tidur seorang Miftahul Jannah. Saya bisa pahami kenapa seperti itu, lha hampir setiap saat orang-orang membicarakan sang atlet judo itu. Dibicarakan kan bagus tho? Awalnya mungkin begitu, tapi makin ke sini apa yang diterima mbak Miftah malah jadi pedas. Lah kenapa begitu?

Seperti yang kamu tahu, kasus Miftah diawali dengan polemik jilbabnya. Di mana gara-gara ia keukeuh mempertahankan hijab, sang atlet pun didiskualifikasi dan gagal memberikan medali buat bangsa ini. Begitu cerita ini bergulir, dukungan pun membeludak untuknya. Masyarakat mulai menyalahkan komite, panitia, sampai tukang pel di gelanggang. Masa gara-gara jilbab sang atlet harus pulang tertunduk?

Miftah harus didiskualifikasi [Sumber Gambar]
Tak berhenti sampai situ, netizen juga menyuarakan dengan keras terkait diskriminasi terhadap atlet berhijab. Di sisi lain, banyak juga yang mendukung Miftah. Ia dianggap panutan karena bisa mempertahankan keyakinan sampai sebegitunya. Kalau ndak salah bahkan sang atlet sampai mau diumrohkan segala macem. Dari panitia sendiri mengatakan jika hijab ternyata tidak sesuai aturan lantaran bisa berbahaya bagi sang atlet. Tapi netizen tetap bilang, “ya nggak bisa gitu juga dong!”

Kondisi gegap gempita ini tetap menaungi Miftah, sampai akhirnya sang atlet bilang jika dirinya sebenarnya mengetahui aturan perihal hijab dalam judo. Bak mendengar ibu Ratna bilang saya pencipta hoax terbaik dalam pers conference-nya, netizen pun berbalik marah. Tak hanya menyalahkan sang atlet, bully pun begitu menderas tajam kepadanya. Ucapan mulai dari “kamu nggak layak ikut lomba” sampai “modar o wae” begitu mudah keluar dari ketikan tangan netizen.

Miftah jadi korban netizen [Sumber Gambar]
Saya sendiri juga gemas ketika melihat ini. Kalau memang dari awal sudah tahu, kenapa harus maksa? Apa maksudmu melakukan itu? Dan sederet pertanyaan menjarah jiwa lainnya. Keadaan ini pun berlanjut sampai Menpora mengatakan ucapan yang begitu bijak sekali. Begitu bijaknya sampai saya merasa adem dan akhirnya tercerahkan.

Pak Imam Nahrawi mengatakan tetap apresiatif terhadap apa yang dilakukan oleh Miftah. Namun beliau juga berpesan agar nggak mengait-ngaitkan kejadian ini dengan agama. Regulasi harusnya bisa berjalan beriringan dengan keyakinan, sehingga para atlet tak peduli apapun agamanya bisa tetap berprestasi. Begitu kira-kira yang saya simpulkan dari pernyataan pak Menteri.

Tak sampai situ, pak Imam juga bilang akan mengawal kasus ini terus sampai akhirnya bisa muncul regulasi baru yang mengatur keterlibatan atlet berhijab, khususnya pada olahraga judo. Makin semriwing hati saya. Mudah-mudahan nanti jadi menteri olahraga lagi ya pak.

Walaupun pak Imam sudah berkata sedemikian rupa, sayangnya netizen tetap keras terhadap Miftah. Dari kacamata saya ini adalah hal yang wajar, namun sudah masuk ranah ngawur jika menyalahkan sang atlet sampai berdebat mengenai agama. Kamu tahu, agama sesungguhnya adalah sesuatu yang nggak bisa didebatkan lantaran pakemnya sudah jelas. Beda lagi kalau bahas Inul harusnya boleh sepanggung atau tidak sama Bang Haji Oma, monggo debat sampai bumi jadi datar.

Pesan saya, mari kita bijak menjadi netizen. Wajar memang untuk marah atau tidak suka terhadap sesuatu yang tidak sesuai dengan hati. Namun jangan sampai hal tersebut membuat nurani kita sebagai manusia lenyap. Kita tak pernah tahu seburuk apa dampaknya bagi yang bersangkutan. Semoga tulisan ini bisa mencerahkan ya, seperti muka saya yang kata banyak orang mirip Khabib Nurmagomedov ini.