Jika mendengar pepatah, seperti membeli kucing dalam karung, kira-kira apa yang terlintas dalam pikiranmu? Yaa, betul sekali sebuah hal menggambarkan seseorang telah tertipu lantaran tidak melakukan kroscek secara detail. Sebagai sebuah hal yang identik dengan hal jual beli, pepatah ini ternyata juga kerap menghiasi urusan perekrutan pemain di jagat sepak bola. Meski kini hal itu sudah bisa diminimalisir, namun masih ada saja tim merasakannya.

Bahkan dalam perkembangannya banyak tim elite di olahraga ini merasakannya. Tentu fenomena itu menjadi sebuah kejadian yang tidak mengenakan untuk mereka. Pasalnya, acap kali kesebelasan-kesebelasan elite tersebut mengeluarkan dana tidak kecil untuk mendatangkan sang-pesepakbola. Dan berikut beberapa tim sepak bola pernah merasakan pepatah tersebut.

Manchester United kala mendatangkan seorang Bebe

Meski tidak pernah benar-benar menjadi bintang di MU, namun nama Tiago Manuel Dias Correia atau kerap disapa Bebe, bisa dibilang akan terus diingat oleh fans klub asal Inggris tersebut. Hal ini lantaran, dalam sejarahnya pria 28 tahun ini merupakan pembelian terburuk klub.

Mantan pemain Manchester United Bebe [Sumber Gambar]
Didatangkan, hanya lantaran recomendasi pemandu bakat, Bebe benar-benar tidak bersinar sama sekali ketika di Manchester. Dan parahnya lagi uang mencapai angka 7,4 juta poundsterling menjadi mahar yang harus dibayarkan Manchester United ke Vitoria de Guimaraes untuk mendapatkan pemain penuh tato itu. Hayo siapa kira-kira masih ingat sosoknya?

Tim Spanyol Real Madrid, ketika merekrut pemain West Ham

Seperti halnya dengan Manchester United tadi, kesebelasan elite Negeri Matador yakni Real Madrid juga pernah merasakan hal sama. Ketika itu bahkan dari penelusuran penulis, ada dua kejadian di mana pemenang Liga Champions 13 kali itu merasakan peristiwa membeli kucing dalam karung. Pertama adalah saat merekrut Jonathan Woodgate dengan biaya £13,4 juta, lalu saat mengontrak seorang Julien Faubert dari West Ham United musim 2008-2009.

Aksi Julien Faubert bersama Real Madrid [Sumber Gambar]
Khusus untuk nama terakhir tersebut, malahan sampai disebut-sebut memakan gaji buta di klub identik warna putih tersebut. Pasalnya, selama berkarier di Madrid, eks Borneo FC ini hanya dua kali saja bertanding. Dan saking banyaknya menghiasi bangku cadangan El-Real, Faubert sempat ketiduran kala laga Real Madrid Vs Villarreal.

Raksasa Italia Juventus ketika mendatangkan seorang Felipe Melo

Setali tiga uang dengan klub-klub tadi, Juventus juga sempat merasakan nestapa perekrutan pemain yang berujung seperti membeli kucing dalam karung. Bahkan dalam perjalanannya ada lebih dari 5 pembelian yang berakhir kerugian. Salah satu yang tersohor adalah ketika mendatangkan gelandang bertahan asal Brazil yakni Felipe Melo dari Fiorentina.

Felipe Melo [Sumber Gambar]
Saat itu pada tahun 2009, pesepakbola yang pernah menjadi kiper dadakan tersebut direkrut dengan biaya mahal. Di mana uang sebesar 25 juta euro menjadi mahar untuk menggunakan jasanya. Namun, ketika membela panji Juventus Melo malah gagal menjawab harga mahalnya tersebut.  Dirinya sulit beradaptasi dan acap kali mengeluarkan tabiat buruk dengan kerap mempunyai masalah di luar lapangan.

Klub Indonesia, Mitra Kukar juga sempat merasakan hal tersebut

Selain klub-klub besar Eropa tadi, ternyata usut punya usut kisah membeli kucing dalam karung juga sempat beberapa kali terjadi di sepak bola Indonesia. Klub-klub yang pernah merasakannya adalah Persib Bandung, Sriwijaya FC, hingga Mitra Kukar dan beberapa tim pernah mendatangkan Marquee Player.

Marcus Bent [Sumber Gambar]
Pada umumnya, meski dulu pernah berlaga di kompetisi kasta tertinggi Eropa namun pemain-pemain mahal yang menghabiskan dana miliaran, seperti Marcus Bent, Carlton Cole, sampai Tijani Belaid, gagal tunjukan tajinya di kompetisi Indonesia. Bahkan juga beberapa kali malah duduk di bangku cadangan.

BACA JUGA: Memiliki Bayaran Termurah, Prestasi Pemain Ini Kalahkan Seluruh Pesepakbola Indonesia

Melihat kisah-kisah tadi, agaknya sedikit menjadi bukti kalau proses mendapatkan pemain yang cocok dan mampu bertaji untuk tim bukan perkara mudah. Selain itu juga menunjukkan kalau, profesi pencari pemain di olahraga ini, bukan pekerja seperti membalikkan tahun di penggorengan. Namun, terlepas dari hal tersebut kondisi tadi juga jadi gambaran kalau tidak semua harga mahal mempengaruhi wujud.