Bagi pemain tanah air atau Indonesia mampu berlaga di Eropa pastinya adalah prestasi besar. Sebagai sebuah kompetisi bola benua biru memang kerap jadi barometer pencapaian pesepakbola. Jadi tidak heran apabila pencapaian Egy Maulana Vikri saat ini adalah sesuatu yang wah untuk ukuran pemuda Indonesia. Kendati sebenarnya ia bermain untuk klub antah berantah Benua Biru. Hal ini berkaca dari kiprah timnya sekarang yakni Lechia Gdansk di Eropa.

Namun, bukan bermaksud meremehkan, pesepakbola tanah air sebelumnya juga ada yang berlaga di klub berpredikat seperti itu. Kendati ada yang bisa tembus tim macam Sampdoria, namun mereka tidak mendapatkan sebuah tempat inti di klub. Bahkan tidak bermain sejak terikat kontrak. Apakah Egy akan bernasib sama? Dari pada memikirkan hal tersebut. Yuk mari simak kisah pemain-pemain Indonesia yang pernah abdikan diri untuk klub Eropa di ulasan ini.

Luzern menjadi klub Kurniawan Dwi Yulianto di Benua Biru

Aksi Kurniawan di Eropa [Sumber Gambar]
Kiprah Kurniawan Dwi Yulianto di Eropa bisa dikatakan bagus. Berangkat bersama tim Indonesia yang dibiayai untuk berlatih di Italia, dirinya mampu mencuri perhatian Sampdoria. Namun kesebelasan Italia tersebut tidak berjodoh dengannya, lantaran tak bisa menembus skuad utama. Berkat hal tersebut akhirnya dirinya dipinjamkan ke klub Swiss. Kendati terlempar, Fc Luzern ternyata mampu berikan dirinya kesempatan berlaga di Eropa. Tercatat Kurniawan mampu torehkan pertandingan sebanyak 10 kali dengan klub Swiss tersebut.

Gelandang terbaik Indonesia, Bima Sakti arungi Eropa dengan Helsinborg IF

Bima Sakti [Sumber Gambar]
Selain Kurniawan, putra terbaik tanah air Bima Sakti juga sempat berlaga di kompetisi Benua Biru. Namun lagi-lagi bukan Real Madrid atau Manchester United yang diperkuat, melainkan klub ‘antah berantah’ dari Swedia. Bersama Helsinborg IF gelandang pemilik tendangan geledek tersebut arungi kerasnya liga di Eropa. Selama berkiprah di sana Bima Sakti hanya torehkan satu musim saja yakni 1995-1996.

Lulusan tim Spanyol, Arthur Irawan bermain untuk Waasland-Beveren

Arthur Irawan [Sumber Gambar]
Kerasnya persaingan sepak bola Eropa rupanya juga dirasakan seorang Arthur Irawan. Sempat berlaga dan berlatih di Espanyol B dan Malaga B, dirinya rupanya kesulitan untuk mengembangkan karier. Alhasil dirinya harus pergi ke Belgia untuk bisa mendapatkan prestasi yang lebih baik lagi. Saat di negara Eropa Barat itu, ia bergabung dengan Waasland-Beveren. Namun di klub barunya itu nasib baik juga tidak kunjung datang. Selama berlaga di Belgia ia hanya torehkan satu pertandingan saja dan sialnya harus menelan sebuah kekalahan.

Bersama CS Vise, Alfin Tuasalamony berkesempatan berlaga di Eropa

Alfin Tuasalamony di Eropa [Sumber Gambar]
Bagi sebagian orang Indonesia klub CS Vise pastinya masih asing di telinga. Namun untuk pemain asal timur Indonesia yakni Alfin Tuasalamony merupakan kesebelasan yang memiliki sejarah besar untuknya. Berkat kesebelasan itu dirinya sempat merasakan bagaimana atmosfer sepak bola Eropa. Disana pemain Arema itu, bermain selama dua musim dengan mampu tunjukkan sebuah performa yang lumayan bagus. Dan Jumlah waktu dua musim itu tergolong banyak untuk pesepakbola asal Indonesia.

Kiper andalan Timnas, Kurnia Sandy berlaga untuk Sampdoria di Italia

Kurnia Sandy Sampdoria [Sumber Gambar]
Tidak hanya Kurniawan Dwi Yulianto saja yang merasakan tuah tanah Italia, mantan kiper andalan Timnas yakni Kurnia Sandy juga rasakan hal sama. Berkat berlatih di negerinya Paulo Maldini itu, mantan kiper Persik Kediri tersebut rasakan bergabung dengan kesebelasan Eropa. Namun sayang penjaga gawang berperawakan tinggi itu tidak pernah sekalipun bermain untuk tim Negeri Pizza itu di laga resmi. Alhasil satu musim di sana, ia memutuskan kembali untuk memperkuat Pelita Jaya.

Apa yang ditorehkan beberapa pemain ini adalah gambaran, bila untuk level klub besar, putra Indonesia masih kesulitan untuk bergabung. Namun terlepas klub itu antah berantah atau tim besar yang mampu di tembus. Mampu tampil di lirik serta bergabung klub Eropa adalah prestasi besar yang harus terus di apresiasi. Pasalnya berkat mereka juga sepak bola Indonesia sedikit alami perkembangan.