Melihat orang bertengkar, tentunya hati kita tergugah untuk merekamnya. Eh, bukan bukan. Maksudnya tergugah untuk melerai mereka dari pertengkaran tersebut. Dan kita sebisa mungkin memberikan kedua belah pihak jalan tengah. Tapi, itu hanya bisa dilakukan kalau mereka mau berterus terang tentang masalah apa yang sedang dihadapi.

Namun, terkadang niat baik seperti itu, tak diterima oleh orang-orang yang terlibat permusuhan tadi. Malahan pihak yang berselisih malah membuat si pelerai jadi bernasib apes. Seperti orang-orang di bawah ini yang ketiban sial gara-gara ingin melerai sebuah pertengkaran.

Babak belur karena ingin melerai pertengkaran pasangan suami istri

Di akhir Maret lalu, ada kejadian kurang menyenangkan di Kendal, Jawa Tengah. Pada pukul 23.40 dini hari, ada pasangan suami istri yang sedang bertengkar di depan minimarket. Entah apa masalahnya, tapi sang suami dengan teganya memukul belahan jiwanya tersebut. Sampai-sampai perempuan itu terjungkal dari tempat duduknya.

Melerai pasutri yang berakhir dengan luka serius [Sumber Gambar]
Tidak tahan akan perlakuan sang pria, salah satu lelaki di sana yang bernama Muhamad Yahya berusaha melerai perselisihan keduanya. Tapi, bukannya berhenti, lelaki tadi langsung memukul Yahya hingga mengalami luka serius. Akibatnya, Yahya dilarikan ke RSUD Kendal, sedangkan si pelaku diamankan oleh pihak kepolisian.

Berniat memisahkan orang bertengkar, tapi akhirnya terkena sabetan senjata tajam

Susianto, warga Pakisaji, Kota Malang harus merelakan dirinya dirawat di rumah sakit. Pasalnya ia mendapatkan luka bacok di kepala akibat ingin melerai orang-orang yang bertengkar di sebelah rumah. Bermula dari Susianto yang berkunjung ke rumah kawannya yaitu Sutari untuk pesta minuman keras. Namun, di tengah-tengah pesta, terjadi keributan di sebelah rumah. Alhasil, Susianto ingin melerai mereka agar tak ada perdebatan lagi.

Hendak melerai, Susianto (kiri) dibacok Idrus (kanan) [Sumber Gambar]
Tapi, bukannya selesai, tiga orang yang ribut tadi malah membacok kepala dan pelipis Susianto menggunakan mandau. Dan akhirnya, korban dibawa ke puskesmas untuk mendapatkan penanganan. Sedangkan salah satu pelaku bernama Idrus sudah diamankan dan dua kawannya tadi masih melarikan diri.

Mendapat bogem mentah ketika ingin menghentikan pertikaian

Tak berhenti di atas, peristiwa serupa juga terjadi di Kota Malang. Di awal Maret lalu, seorang lelaki bernama Lefi melihat ada dua orang bertengkar di gapura menuju rumahnya. Lantas, ia langsung saja melerai keduanya agar pertengkaran cepat berhenti. Namun, apa yang dilakukan Lefi, malah membuatnya terjerumus menjadi korban. Salah satu orang yang bertengkar memberikan bogem mentah kepadanya karena tak terima dilerai.

Ilustrasi mendapat bogem mentah [Sumber Gambar]
Alhasil, Lefi menderita luka pada rahang dan pipi kirinya. Setelah melakukan perbuatan tersebut, pelaku yang bernama Daud ini langsung melarikan diri. Akan tetapi, teman Lefi yang kebetulan melihat kejadian itu tak tinggal diam. Ia membawa Lefi ke rumah sakit dan melaporkan Daud ke polisi.

Dihantam dan dicekik ketika ingin melerai perselisihan

Seorang pria asal Bangli bernama Sang Gede Sudiana melaporkan penganiayaan yang dialami oleh dirinya ke Polsek Kintamani. Ia terluka di bagian pelipis karena dirinya menjadi korban pemukulan dan pencekikan saat hendak melerai sebuah pertengkaran. Pada awalnya, pertikaian tersebut terjadi karena lelaki bernama Sang Gede Kemarayana, menolak tawaran dari I Wayan Loster untuk pesta miras.

Dihajar dan dicekik oleh pelaku pertengkaran [Sumber Gambar]
Tak terima, I Wayan Loster pun langsung mencari Sang Gede Kemarayana sampai ketemu. Setelah bertatap muka, mereka berdua pun berselisih dan mengakibatkan keributan di kampung Sang Gede Sudiana. Melihat ada pertengkaran, Sang Gede Sudiana melerai keduanya. Tidak terima dengan peleraian, I Wayan Loster menghajar dan mencekik Sang Gede Sudiana. Aksi penganiayaan ini berakhir setelah warga berdatangan untuk melerai mereka.

BACA JUGA : Geger Pertengkaran Kakek Nenek Dan Dokter Karena Tidak Mau Antri

Melerai pertengkaran merupakan perbuatan yang sangat baik. Namun di beberapa kasus, hal ini justru membuat si pelerai menjadi korban. Tapi, dengan adanya kejadian seperti ini, seharusnya tidak membuat kita takut untuk menghentikan perselisihan.