Pelecehan yang dialami oleh perempuan adalah hal yang sudah seringkali terjadi. Parahnya lagi, pelecehan ini seringkali disertai dengan video korban yang tersebar di media sosial.

Nah, baru-baru ini juga ada video berdurasi 26 detik yang tersebar di Twitter dan Instagram. Korban tampak seperti seorang siswi, dan pelaku adalah teman lelakinya sendiri.

Kronologi pelecehan dan keroyokan yang mengundang amarah netizen

Dalam video yang beredar tampak sekali kalau siswi tersebut tidak bisa melawan karena tangan dan kakinya dipegang oleh beberapa anak lelaki. Namun, bukan tanpa perlawanan sebenarnya, siswi ini sudah mencoba berteriak, tidak terima atas apa yang dilakukan oleh sekelompok lelaki tersebut.

Sekelompok siswa SMA lecehkan temannya [sumber gambar]
Video ini memancing banyak sekali reaksi kemarahan dari netizen yang melihat. Mereka mengutuk perilaku tak senonoh sekelompok anak lelaki yang melecehkan tersebut. Berdasarkan bahasa yang digunakan oleh korban dan juga pelaku, kejadian ini terjadi di Sulawesi Utara. Karena siswi ini masih memakai seragam putih abu-abu, lokasi yang paling memungkinkan adalah ruang kelas kosong.

Pelaku sebut bercanda, Pemprov seriusi kasus dengan gandeng polisi

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Sulawesi Utara Mieke Pangkong, sudah mendapatkan informasi terkait video tersebut. “Informasi diduga terjadi di wilayah Bolaang Mongondow. Saya sudah koordinasi dengan DP3A Kabupaten Bolaang Mongondow, dan mereka masih mengecek lokasi sebenarnya di mana,” kata Mieke, melansir dari kompas.com.

Karena video ini memantik kemarahan publik, maka yang turun menangani masalah ini tak hanya Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak saja, melainkan juga pemprov Sulawesi Utara dibantu oleh polisi.

Polisi dan KPPA Turun tangan [sumber gambar]
Info terkini, para pelaku perundungan dan pelecehan ini sudah dibekuk oleh polisi. Lima orang yang terlibat berinisial RM, NP, PL –ketiganya adalah lelaki, NR dan PN (perempuan). Lima orang tersebut memang merupakan teman satu sekolah korban.

“Status masih kita amankan. Penetapan tersangka menunggu hasil pemeriksaan atau setelah 24 jam,” terang Kabid Humas Polda Sumut Kombes Polisi Jules Abraham Abast, melansir merdeka.com. Belum selesai kegeraman publik, kenyataan pahit lainnya muncul. Pelaku mengaku perbuatannya adalah bentuk candaan sambil menunggu guru yang mengajar masuk kelas.

FYI guys, kejadian tersebut sebenarnya terjadi pada hari Rabu (26/2). Namun kasusnya baru saja terbongkar setelah salah satu pelaku berinisial NR mengunggah video rekaman berisi aksi pelecehan seksual tersebut pada hari Senin (9/3) di story whatsapp-nya.

Darurat pelecehan, Indonesia butuh payung hukum kasus serupa

Kasus bullying, pelecehan, serta sederet perundungan lain–terlebih jika pelakunya masih di bawah umur, umumnya hanya berakhir dengan damai dan pendampingan. Karena setelah ditanya oleh pihak berwajib, motifnya tak jauh dari seputar kelakar dan candaan. Padahal, pelecehan seperti ini terus mengakar, dilakukan berulang, serta lagi dan lagi menelan korban karena memang tak ada payung hukum yang jelas serta melindungi korban.

Bahkan, untuk pelaku yang seharusnya sudah bisa terjerat hukum pun tetap bisa lolos. Untuk meminimalisir terjadinya pelecehan lagi dan lagi di masa mendatang, maka memang sudah seharusnya pemerintah bertindak dengan mengesahkan RUU PKS tentang pelecehan dan kekerasan seksual. Keberadaan RUU –yang sudah dari 2017 dirancang ini—akan sangat membantu menciptakan aturan baru (hukum tindak pidana) bagi pelaku.

Selain itu, masyarakat juga akan mengerti tentang pelecehan dan pihak mana yang seharusnya ditempatkan di posisi yang salah. Korban dari pelecehan juga akan lebih berani bersuara, melapor kepada pihak berwajib, serta tau bahwa mereka adalah korban.

BACA JUGA: Makin Marak, Begini Cara Melawan Pelaku Pelecehan Seksual Biar Kapok dan Tobat

Dampak dari bullying dan pelecehan ini juga akan sangat berdampak pada psikis korban. Bahkan, trauma tersebut bisa saja membekas hingga mereka dewasa, menempatkan korban dalam posisi yang semakin sulit.