Waktu tidak akan pernah melangkah mundur, agaknya menjadi pepatah yang harus benar-benar diresapi oleh para korban gempa Bumi di Palu Sulawesi Tengah. Kendati awan duka masih pekat menyelimuti mereka, tapi jika tidak memikirkan langkah apa yang tepat untuk kehidupan korban ke depan tentu akan hasilkan goreskan luka lebih pedih lagi. Terkusus untuk pemerintah yang ditugasi menanggulangi masalah bencana ini mereka harus benar-benar memprioritas hal itu.

Kehidupan pasca bencana mungkin terlihat sepele, namun jika ditimbang dengan evakuasi korban reruntuhan gendung bisa dikatakan memiliki berat yang sama. Urgennya hal ini mengacu kepada dampak ditimbulkan sebuah fenomena alam macam itu tidak hanya menghajar perkenomian, tapi juga psikis dan berbagi macam hal penting lain manusia yang ada kaitannya dengan kehidupan. Lalu apa sajakah hal yang terjadi setelah bencana kok harus dipersiapkan? Simak ulasan berikut.

Permasalahan kesehatan menjadi hal pasti muncul

Rumah sakit Palu [Sumber Gambar]
Seperti halnya hukum kausalitas (sebab/akibat) yang sering digunakan oleh para praktisi sejarah. Bisa dibilang setiap bencana yang merengkut sebuah wilayah padat penduduk memang lahirkan sebuah penyakit. Entah itu besar atau kecil, tentunya dalam keadan porak-poradak akan banyak virus negatiff tersebar. Bahkan mitosnya mayat-mayat yang menjadi korban sebuah fenomena alam bisa sebarkan penyakit. Jika benar begitu, para korban gempa di Palu baik yang selamat atau terluka harusnya mendapatkan penangan yang tepat. Dilansir Tempo.com ada 7 penyakit yang kini mengetai warga Palu yakni Kolera,Demam Tifoid, Disentri, Hepatitis A dan E, Balantidiasis, Leptospriosis, dan Gigitan atau sengatan binatang

Rusaknya sarana-prasana memunculkan masalah pada sektor ekonomi

Ekonomi BBM [Sumber Gambar]
Jika, berbicara permasalahan pasca bencana selain kesehatan apa yang ada dipikranmu? Ya, betul sekali, berbagai problem yang berhubungan dengan ekonomi. Seperti menjadi bahan bakar untuk sebuah kendaran, permasalah mengenai nominal-nominal uang memang penting untuk segera dilekasaikan. Pasalnya, tanpa hal itu kisah menjual air yang melambung dan kasus penjarahan akan lebih marak terjadi. Maka dari itu seperti melansir Liputan6, Presiden Jokowi mengutuskan jajarannya untuk segera mengambilan ekonomi Palu Donggala secepat mungkin. Menurutnya dengan hal itu masyarakat lebih cepat bangkit dari insiden gempa tersebut.

Trauma akan sebuah musibah menjadi barang acap kali muncul pasca bencana

Kisah Pilu [Sumber Gambar]
Selain dua hal tadi, masalah trauma ternyata juga menjadi hal pasca gempa yang hinggap pada warga Donggala. Menurut Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana ( BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan kondisi yang tidak menentu di Sulawesi Tengah menyebabkan terjadinya priode panik. Seperti dikutip laman Kompas.com, bapak 48 ini juga mengungkap kalau beberapa korban atau yang selamat memerlukan trauma healing atau penyebuhan trauma. Berkaca dari hal itu bisa dibilang psikis juga menjadi barang wajib yang harus juga mendapatkan penangan serius. Jangan sampai para korban menjadi strees dan memilih bunuh diri saja.

Berita Hoax menjadi hal negatif terus mengintai

Berita Hoax [Sumber Gambar]
Mungkin dalam kehidupan sehari-hari berita Hoax bukanlah hal yang asing di telinga kita. Bahkan bila diukur jaraknya hal tersebut amatlah dekat dengan kehidupan kita. Ngomong-ngomong masalah itu, pasca insiden tsunami dan gempa di Palu rupanya Hoax juga mejandi hal ancaman untuk para korban. Layaknya lintah mereka sedikit demi sedikit menghisap kesadaran atau kewarasan akan informasi masyarakat di sana. Dilansir laman Detik.com, hingga tulisan ini dibuat tercatat ada delapan berita kaleng yang muncul di setelah bencana tersebut. Mulai dari pernerbangan gratis sampai gerak cepat relawan FPI membantu korban bencana.

Potensi bencana susulan menjadi bahaya harus diwaspadai

Alat pencatat gempa [Sumber Gambar]
Bukan rahasia lagi jika sebuah fenomena alam merupakan hal yang sulit untuk diprediksi. Bahkan kemungkinan mereka yang bisa membacanya hanya memiliki tingkat keakuratan sebesar 60-75 %. Pergerakan alam yang dinamis dan kerap tiba-tiba menghasilkan sesutu menjadi penyebab hal itu. Hal ini juga bisa dicontohkan dengan bagaimana BMKG Palu yang mencabut bahaya Tsunami tapi malah tiba-tiba fenomena alam itu muncul lagi. Peristiwa-peristiwa itulah yang menjadikan potensi bencana susulan di sana terbuka lebar peluang terjadi. Bukan untuk menakuti-nakuti tapi dari penulusuran memang hal ini nyata terjadi.

Beberapa ulasan ini adalah sedikit gambaran jika dalam sebuah fenomena alam macam gempa dan Tsunami di Palu ternyata selain mitigasi, hal-hal berhubungan dengan rehabilitas dan rekontruksi adalah sebuah tindakan penting. Seperti halnya waktu tidak pernah menunggu memang dengan memperhatikan apa yang terjadi kedepan kita akan jauh lebih siap satu langkah untuk melawannya. Besar harapan permasalahan saudara di Palu segera teratasi.