Problematika hijab di atas matras judo Asian Para Games 2018 rupanya masih berkelut. Padahal, Miftahul Jannah, sang atlet, sudah menegaskan bahwa dirinya tahu mengenai regulasi dari International Judo Federation (IJF), tentang tidak boleh mengenakan penutup kepala apapun, kecuali sedang berada dalam kondisi cedera berat. Namun, ia bersikeras mendobrak stigma tersebut.

Caranya? Tetap menggunakan hijab ketika akan bertanding di Asian Para Games 2018. Sempat diulas oleh Boombastis.com dalam artikel berjudul Atlet Judo yang Tersingkir karena Pakai Hijab, Sentimen Agama atau Hal Teknis?, pelatih Miftahul Jannah pun tak begitu paham soal peraturan dalam regulasi IJF karena berbahasa Inggris. Sehingga, ia meminta kawan untuk menerjemahkannya.

Miftahul Jannah Asian Para Games [sumber gambar]
Namun, di sisi lain, masyarakat memojokkan panitia Asian Para Games 2018 dan juga IJF, karena tidak menghargai agama Islam. Deskriminasi, ketidakadilan, tidak profesional, pun datang dari jari-jari netizen di media sosial. Padahal, jika ditelisik lebih lagi, mundurnya Miftahul Jannah dari pertandingan blind judo di Asian Para Games 2018 adalah masalah teknis, bukan soal agama.

Tommy Kurniawan dan Deddy Corbuzier [sumber gambar]
Hal ini pun membuat dua artis tanah air, Tommy Kurniawan dan Deddy Corbuzier angkat bicara. Opini Tommy Kurniawan bersumber dari ulasan grid.id, yang berjudul Tommy Kurniawan Mati-matian Bela Miftahul Jannah, Atlet Judo Tuna Netra yang Didiskualifikasi dari Asian Para Games 2018. Sedangkan opini Deddy Corbuzier ia sampaikan sendiri melalui kanal YouTube-nya. Mari simak opini dari Tommy Kurniawan terlebih dahulu. Pesinetron yang juga merambah dunia politik ini mengungkapkan bahwa dirinya salut dengan apa yang dilakukan Miftah di Asian Para Games 2018. “Ia memutuskan untuk tidak bertanding karena mempertahankan prinsip,” ungkap Tommy. Ia juga menyayangkan kondisi di mana tanah air sudah jarang memiliki anak muda seperti Miftah, yang mempertahankan prinsipnya, sehingga rela didiskualifikasi ketika akan bertanding.

Kenapa judo enggak boleh berhijab [sumber gambar]
Bicara soal prinsip, hal ini juga menjadi poin penting bagi Deddy Corbuzier. Melalui video dalam kanal YouTube-nya, ia menyebutkan “its good, I’m agree with that, bagus, gua setuju banget dengan hal tersebut,” ketika mengetahui bahwa Miftah didiskualifikasi karena mempertahankan agama dan prinsipnya. Namun, yang membuat Deddy Corbuzier gerah adalah media tidak mengupas tuntas apa yang sebenarnya terjadi di lapangan, belum lagi beberapa pejabat membandingkan dengan atlet karate dan panahan di Asian Games 2018 yang diperbolehkan menggunakan hijab. Deddy, sebagai pecinta dan telah menguasai beberapa seni bela diri menjelaskan hal ini dari segi teknis.

Ia menyebutkan judo sebagai seni bela diri yang berada di tengah-tengah (bukan stand ataupun ground), seperti sumo. Sehingga, ketika para atlet judo “bergulat” di bawah, penutup kepala bisa berbahaya. “Peraturan internasional itu memang enggak boleh,” ungkap Deddy. “Ini bahayanya kenapa, karena kalau judo, kalau ketika dia dibanting dan hijabnya kepegang, orangnya jatuh, hijabnya kepegang, lehernya patah,” tambahnya. Pernah dengar pepatah “peraturan itu dibuat untuk ditaati, bukan untuk dilanggar?” IJF memberikan peraturan macam ini tentu bukan dari kemarin sore. Banyak hal yang menjadi pertimbangan mereka ketika membuat peraturan, salah satu yang penting adalah keselamatan atlet itu sendiri. Enggak lucu, kan, memaksa bertanding dengan tetap menggunakan hijab tapi ending-nya tercekik?

Aksi Wojdan Shaherkani [sumber gambar]
Nah, pelajaran yang bisa kita ambil dari opini Tommy Kurniawan dan Deddy Corbuzier adalah; mempertahankan prinsip boleh, sangat boleh malah, tetapi tetap berada dalam batasan-batasan. Seperti kasus Miftahul Jannah ini, mempertahankan prinsip di mana peraturan bicara jelas-jelas tidak boleh ya beresiko didiskualifikasi. Kalau masih protes, berarti belum seutuhnya menjadi atlet atau manusia yang profesional. Atlet judo dari Arab Saudi, Wojdan Shaherkani, saja bisa tetap bertanding dengan hijab modifikasi, kenapa Miftahul Jannah tak mencoba menirunya?