Beberapa waktu lalu, ajang Asian Para Games 2018 sempat dihebohkan oleh atlet Judo asal Indoneia yang didiskualifikasi karena enggan melepas hijabnya. Dilansir dari sport.okezone.com, olahragawan yang bernama Miftahul Jannah itu sedianya akan turun di kelas 53 kg putri blind judo menghadapi wakil dari Mongolia, Gantulga Oyun.

Saat pertandingan akan dimulai, Miftahul Jannah justru didiskualifikasi lantaran tidak mau melepas hijab yang ia kenakan pada saat itu. Alhasil, banyak pihak yang menyesalkan atas terjadinya peristiwa tersebut. Terlebih, hijab yang merupakan simbol seorang muslimah dalam agam Islam. Meski banyak polemik di sana-sini, hal ini tentu tak bisa dipandang dari dari satu sisi saja. Apalagi jika dikait-kaitkan dengan sentimen agama. Ntar dulu sob.

Enggak etis jika dikait-kaitkan dengan faktor agama

Atlet Judo yang terdiskualifikasi karena langgar aturan teknis [sumber gambar]
Kasus diskualifikasi pejudo Miftahul Jannah karena masalah jilbab, memang menuai pro dan kontra. Bagi netizen yang malas cari tahu informasi sebenarnya, pasti bakal langsung menuding tanpa bukti jelas bahwa kejadian itu dianggap tak menghargai keyakinan yang dianut. Ya, isu agama memang laris manis digunakan sebagai tameng untuk menyalahkan-nyalahkan di Tanah Air. Entah sesuai atau tidak dari peristiwa yang ada. Terlebih, netizen di Indonesia memang rata-rata bertipe “maha benar” alias benar-benar menurut hawa nafsu dan pendapatnya pribadi tanpa melihat dari berbagai sisi. Padahal, ada beberapa alasan masuk akal di balik pelarangan dirinya bertanding.

Kesalahan justru datang dari pihak Tim Judo Indonesia

Peristiwa dsikualifikasi Miftahul Jannah berasal official mereka sendiri [sumber gambar]
Kasus diskualifikasi yang dialami oleh Miftahul Jannah, sejatinya datang dari official mereka sendiri. Dilansir dari sports.okezone.com, Pelatih Judo Indonesia ternyata tak memahami materi dan peraturan pertandingan yang disampaikan dalam Bahasa Inggris saat acara Technical Manager Meeting. Otomatis, mereka pun tak melarang atlet yang berjilbab saat akan bertanding. Sayang, rule yang disepakati ternyata tak memperbolehkan pemakaian kerudung di dalam arena. Miftahul Jannah pun akhirnya didiskualifikasi karena tak mengikuti aturan yang telah ditetapkan.

Pentingnya belajar Bahasa Inggris bagi orang Indonesia

Pentingnyabelajar Bahasa Inggris sebagai komunikasi di ajang internasional [sumber gambar]
Meski pihak National Paralympic Committee (NPC) Indonesia telah meminta maaf, kejadian semacam ini sejatinya sangat memalukan. Baik bagi tim yang bersangkutan maupun untuk Bangsa Indonesia. Bayangkan, hanya karena tidak memahami Bahasa Inggris saat mengikuti Technical Manager Meeting, Tim Judo Indonesia justru bikin blunder karena atletnya dianggap tak memenuhi peraturan. Hal ini justru membuktikan, masih banyak orang-orang Indonesia yang ternyata masih awam dengan Bahasa Inggris. Padahal, Indonesia kerap menjadi tuan rumah bagi acara-acara yang bertaraf internasional. Sekedar saran, enggak usah malu deh belajar bahasa asing. Daripada ntar malu-maluin.

Kenapa penggunaan jilbab dilarang dalam pertandingan judo?

Aturan yang kurang dipahami oleh pelatih Tim Judo Indonesia [sumber gambar]
Bukan masalah tak menghormati keyakinan, tapi memang itulah peraturan pada olahraga yang identik dengan gerakan bantingan tersebut. Dilansir dari sports.okezone.com, aturan pelarangan berhijab bagi atlet karena dikhawatirkan akan menutupi pandangannya matanya. Terlebih, peraturan yang masuk dalam ranah teknis itu juga bisa dimanfaatkan lawan untuk menarik dan kemungkinan bisa membuatnya tercekik. Ingat, judo adalah olahraga yang identik dengan tarik menarik dan membanting. Tentu, peraturan yang dibuat bukannya tak menghormati keyakinan suatu agama. Tapi lebih bagaimana agar atlet bisa bertanding secara maksimal tanpa harus membahayakan dirinya sendiri.

Pro kontra memang sudah biasa terjadi di Indonesia. Tapi yang jelas, kita harus berani melihat dan menelisik lebih jauh kebenaran dan keakuratan suatu peristiwa yang ada. Peristiwa ini juga bisa menjadi evaluasi sekaligus masukan bagi penyelenggara Asian Para Games. Di mana ke depannya mereka bisa membuat peraturan yang mengakomodasi kebutuhan bagi atlet muslimah berhijab. Tak lupa, kontingen Indonesia harus membekali para official, kru, atlet dan manajernya dengan pengetahuan bahasa asing yang memadai. Masak perwakilan ajang Internasional enggak bisa Bahasa Inggris? Wkwkwkk…