Ningsih Tinampi bukanlah nama asing lagi di kalangan sebagian orang. Sosok asal Pasuruan ini terkenal sebagai spesialis dalam bidang supranatural dan penyembuh kesurupan. Dalam tahun 2019 ini, ia viral karena membludaknya jumlah pasien yang datang untuk berobat. Bahkan, selama satu tahun ke depan, sudah ada listnya siapa saja yang harus datang kepada Ningsih.

Sayang, sosok yang selama ini dianggap nyentrik dan kocak malah membuat geram netizen karena videonya yang beredar beberapa waktu lalu. Dalam unggahan Twitter @poponkerok yang berdurasi lebih dari satu menit tersebut, Ningsih tampak sedang mengobati perempuan yang dirasuki oleh arwah korban pemerkosaan.

Ningsih kemudian mengeluarkan sebuah pernyataan yang menyulut emosi dan memancing para feminis atau SJW harus speak up. Statement tersebut dirasa sangat sarat akan konflik, dan semua orang memang harus membantah apa yang seharusnya dikatakan oleh Ningsih.

Awalnya, ia menanyakan terkait sebab di pasien diperkosa. Si pasien yang masih belum sadar tersebut menjawab dengan bilang bahwa dirinya tidak tau. “Orang diperkosa itu, jangan menyalahkan orang yang memperkosa. Bapak Ibu yang punya anak-anak perempuan, orang yang merkosa, jangan menyalahkan orang yang merkosa. Karena apa, orang yang memperkosa itu adalah nafsunya datang dari orang yang diperkosa. Jadi semua itu adalah salahnya wonge, salah wedhoke (perempuannya), dia pakai baju yang minim-minim dan dia selalu genit-genit di depan orang. Jadi, itu yang membuat muncul pemerkosaan. Jadi, pemerkosaan bukan berarti orang yang memperkosa salah, tidak.” Ucapnya.

Bu Ningsih sendiri memberikan pendapat bahwa dirinya sendiri berpihak kepada lelaki yang memperkosa, karena memang si wanita yang memamerkan tubuhnya. Ningsih sempat menjadi trending topic karena netizen yang menentang dirinya. Mereka mengeluarkan statement untuk melawan apa yang disampaikan oleh Ningsih.

Menjadi trending di Twitter [sumber gambar]
“Perempuan harus menutup badannya agar tidak diperkosa, laki-laki harus ditutup apanya agar tidak memerkosa??” komentar @viv_viviant.

“Berhenti menyalahkan korban. Emangnya ada orang yg pengen di perkosa? Nggaklah goblok”

“Itu perempuan siapa sik?? Bikin naik darah. Trus itu orang2 kenapa pada ngumpul mideoin? Suatu hari kalo ibuk diperkosa, jangan nyalahin pemerkosanya ya bu… Salahin diri ibu sendiri karena idup & bernafas”

Masih ada banyak sekali komentar lain yang gemas terhadap pernyataan itu. Kenyataannya, orang-orang seperti Ningsih Tinampi ini masih banyak sekali di sekitar kita, Sahabat Boombastis. Namun jika merujuk wanita sebagai biang dari aksi ini nampaknya juga kurang bijak, mengingat banyak kejadian perkosaan yang korbannya bahkan masih bocah. Belum lagi soal korban yang mengalami perlakukan tidak menyenangkan dari masyarakat sampai akhirnya dikucilkan.

Lelaki juga harus jaga nafsu dan keinginan untuk memperkosa dong [sumber gambar]
Benarlah kata-kata Shandy Aulia yang pernah bilang kalau pelecehan, sexual harassment, dan serta pemerkosaan itu terjadi karena pikiran kotor si pemerkosa. Kalau sudah dari sananya dia dirty mind, mau perempuan memakai busana lengkap dari atas ke bawah pun bisa menjadi target.

Kita sudah terlalu kenyang disodorkan dengan berita anak SD, SMP, bahkan ada loh bayi yang baru berumur hitungan bulan menjadi korban pemerkosaan. Kalau sudah begini, apakah masih mau menyalahkan cara berpakaian perempuan? Jika masih berpikir demikian, maka sama saja kita melazimkan para pelaku melakukan aksinya lantaran pakaian yang dikenakan korban. Para ibu-ibu juga harusnya nggak protes kepada suaminya ketika si pasangan matanya jelalatan melihat wanita-wanita cantik. Ya kan?

BACA JUGA: 5 Kasus Perkosaan Terparah Selama 2016 Ini Akan Membuatmu Berpikir jika Indonesia Tak Lagi Aman

Dengan adanya kejadian ini tak lantas kita juga membenci Ningsih Tinampi, meski memang pernyataannya tak bisa dibenarkan. Namun jadi tambahan pengetahuan untuk kita semua bahwa patriarki dalam budaya kita mulai perlu dievaluasi seiring dengan perkembangan jaman, terutama praktik-praktiknya yang berpotensi arogan dan merugikan perempuan.