Sebuah pelajaran berharga, bisa dipetik dari kejadian yang satu ini. Dulu sempat heboh dan dipuji banyak pihak, kini listrik dari pohon kedondong temuan Naufal Raziq, bocah 15 tahun asal Aceh yang baru duduk di kelas 3 MTS Negeri 1 Langsa itu, malah mangkrak dan tak berfungsi sama sekali.

Sebagai bukti, Desa Tampur Paloh, Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur, sempat merasakan ‘terang sesaat’ yang dihasilkan dari pohon kedondong yang dirangkai dengan kabel. Kini, wilayah mereka pun kembali gelap gulita. Tak banyak harapan yang bisa disandarkan pada pohon kedondong itu. Buka apa-apa. Sejumlah keganjilan dan tanda tanya besar yang diulas berikut ini ,ternyata masih mengiringi penemuan tersebut.

Penemuan yang sempat menghebohkan

Penemuan yang sempat menghebohkan [sumber gambar]
Naufal Raziq sempat membuat masyarakat Indonesia bangga akan kejeniusannya menemukan sumber listrik alternatif. Bukan dengan barang yang canggih, melainkan dari sebuah batang pohon kedondong. Alhasil, percobaan bocah 15 tahun itu pun menarik perhatian Pertamina EP dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Penemuan itu pun diujicobakan kepada warga Tampur Paloh yang sebelumnya belum pernah merasakan cahaya lampu.

Cahaya yang ternyata semu belaka

Listrik kedondong gagal, Desa Tampur Paloh menjadi gelap gulita [sumber gambar]
Mimpi bakal mendapatkan penerangan, warga Desa Tampur Paloh kegirangan bukan main. Mereka pun mencoba menanam pohon kedondong di beberapa rumah yang digunakan sebagai lokasi uji coba. Para petinggi Pertamina EP dan Pejabat setempat pun turut hadir pada saat proses peresmian. Listrik pun berhasil menyala saat dicoba. Sayang, cahaya terang itu rupa-rupanya hanya bertahan sesaat. Setelah para pejabat pulang, listrik pun mulai redup secara perlahan dan kemudian padam total. Desa Tampur Paloh pun kembali gelap gulita.

Temuan mengejutkan di balik teknologi listrik pohon kedondong

Warga Desa Tampur Paloh temukan baterai di balik pohon kedondong [sumber gambar]
Menurut Hasbi, salah satu warga Desa Tampur Paloh yang dilansir dari news.detik.com, keberadaan listrik dari pohon kedondong itu mulai memancing kecurigaan warga. Setelah usai diresmikan, beberapa dari mereka mencoba melihat rangkaian pada kabel yang dipasang pada batang kedondong. Ternyata, ada sejumlah baterai di dalamnya yang memang sengaja dilekatkan. Jadi, listrik yang selama ini menyala hanya bersumber dari benda buatan pabrik tersebut. Sementara batang pohon kedondong, hanyalah kamuflase semata.

Saya menemukan beberapa baterai yang dipasang di pohon kedondong. Kalau pakai baterai, jangankan pohon kedondong, semua pohon juga bisa,” ungkap Hasbi yang dilansir dari news.detik.com.

Klarifikasi dari Pertamina EP dan tanggapan BPPT

Klarifiksi BPTT soal listrik kedondong [sumber gambar]
Dilansir dari tekno.tempo.co, Pertamina mengakui bahwa energi listrik alternatif pohon kedondong itu masih harus dikembangkan ulang dan terus diuji coba. Selain itu, pihak mereka juga mengakui bahwa penemuan Naufal ini belum bisa diterapkan untuk mengganti kebutuhan listrik sehari-hari yang ada pada masyarakat. Sementara itu, Kepala Balai Besar Teknologi Konversi Energi BPPT (B2TKE ‎) Andika Prastawa mengatakan, pohon kedondong tersebut menunjukkan hasil produksi tenaga listrik yang belum memadai untuk memenuhi kebutuhan besar.

Dengan demikian, meskipun terbukti pohon kedondong dapat menghasilkan listrik, namun masih belum mencukupi kebutuhan listrik secara wajar,” tutur Andika yang dilansir dari liputan6.com.

Skema teknologi pohon kedondong yang dinilai mampu menghasilkan listrik

Penemuan inovatif yang harus diteliti lebih dalam [sumber gambar]
Dilansir dari liputan6.com, saat diuji coba, Andika Prastawa selaku Kepala Balai Besar Teknologi Konversi Energi BPPT, menggunakan enam pohon kedondong yang telah dipasang elektroda Zn-Cu (seng dan tembaga). Dari rangkaian seri-paralel di ujung elektroda, diperoleh pengukuran tegangan total sebesar 2,774 Vdc. Pohon ini lalu dihubungkan pada converter arus searah pada baterai tegangan 3,5 Vdc. Berikutnya inverter dihubungkan ke beban lampu LED 5 Watt 220 Vac. Pada saat lampu dinyalakan, setelah 10 menit, terukur tegangan dari pohon energi turun dari 2,774 Vdc menjadi 1,870 Vdc. Hasil tersebut, memungkinkan enam pohon kedondong hanya mampu menghidupkan lampu tidak lebih dari 20 menit, dengan perkiraan energi sekitar 1,7 Wh/Watt hour (Wh), atau 1,7, Watt selama 1 jam.

Meski pohon kedondong di desa Tampur Paloh telah beralih fungsi menjadi kayu bakar, toh nyatanya penemuan ini masih diteliti lebih jauh lagi. Mungkin, warga dan masyarakat sekitar sudah berharap lebih terhadap penemuan inovatif ini. Hingga ternyata gagal, mereka pun merasa dibohongi. Siapa yang salah? Warga Tampur Paloh atau Naufal si penemu? Gimana menurutmu Sahabat Boombastis?