Sejak peristiwa berdarah yang melibatkan Partai Komunis Indonesia pada 30 September 1965 silam, semua hal yang berbau ‘kiri’ dilarang oleh rezim Orde Baru Soeharto. Termasuk lagu tradisional asal Banyuwangi Genjer-genjer yang sempat digunakan sebagai propaganda oleh PKI beberapa waktu lalu.

Lucunya, lagu tersebut sempat dikumandangkan langsung pada Soeharto yang jelas-jelas melarang peredarannya. Peristiwa ini terjadi saat dirinya berkunjung ke Kamboja untuk bertemu dengan Pangeran Norodom Sihanouk. Perasaan campur aduk pun sempat dirasakan oleh rombongan asal Indonesia. Termasuk Presiden Soeharto.

Berkunjung ke Kamboja sebagai lawatan resmi pertama setelah menjadi Presiden

Presiden Soeharto bersama Ibu Tien saat berkunjung ke Kamboja [sumber gambar]
Lawatan resmi pertama Presiden Soeharto adalah kunjungannya ke Kamboja sebagai tamu kenegaraan Pangeran Norodom Sihanouk. Pada Senin pagi, 1 April 1968, pesawat Garuda yang ditumpangi rombongan Presiden Soeharto tiba mendarat di Phnom Penh, ibu kota Kamboja. Sambutan di sana cukup meriah lantaran diiringi dengan tembakan meriam sebanyak 21 kali. Pekik “Hidup Presiden Soeharto” juga turut menggema dari rakyat yang ikut menyambut.

Genjer-genjer berkumandang saat rombongan Soeharto tiba di Pnom Penh

Presiden Soeharto saat berada di lapangan [sumber gambar]
Di tengah sambutan yang gegap gempita itu, masyarakat Kamboja yang hadir tiba-tiba menyanyi dan menari sembari diringi lagu Genjer-genjer. Karuan saja hal ini membuat gelisah rombongan pejabat yang mengiringi Soeharto. “Astaga! Tiba-tiba ribuan orang Kamboja itu menyanyi dan menari gembira: Genjer-Genjer! Itu lagu rakyat Banyuwangi yang pernah dimanfaatkan oleh PKI untuk propaganda,” tutur Duta Besar Indonesia untuk Kamboja, Boediardjo, yang dikutip dari Historia.

Rombongan terkejut hingga senyum misterius Soeharto

Presiden Soeharto dalam sebuah kesempatan [sumber gambar]
Lagu tradisional masyarakat Banyuwangi itu memang dilarang keras diperdengarkan di era Orde Baru Soeharto lantaran pernah dimanfaatkan sebagai bahan propaganda oleh PKI. Semua rombongan terkejut bukan main. Termasuk Soeharto dengan raut wajah heran. Boediarjo yang salah tingkah pun lantas berbisik pada Presiden ke-2 RI itu untuk meminta maaf. Menurut dirinya, Soeharto hanya diam saja dengan senyumnya yang misterius.

Sejarah Kamboja yang ternyata lekat dengan paham Komunis dari Indonesia

Presiden Sukarno menggandeng Pangeran Norodom Sihanouk [sumber gambar]
Adanya bubungan baik antara Pangeran Sihanouk dan Presiden Sukarno yang terjalin sejak tahun 1950-an, membuat Indonesia sangat diterima di sana. Pemimpin Kamboja juga itu dikenal sebagai pengagum gagasan Nasakom (Nasionalis, Agama, dan Komunis) yang dicanangkan oleh Bung Karno. Tak heran jika Genjer-genjer bisa berkumandang di Kamboja. Celakanya, lagu tersebut disajikan oleh Soeharto yang terang-terang melarangnya.

Pengaruh komunis yang berasal dari Vietnam dan Cina

Pangeran Norodom Sihanouk dan PM Cina Zhoun En Lai [sumber gambar]
Pengaruh komunis di Kamboja tak lepas dari menguatnya ideologi tersebut yang dipelopori oleh Vietnam dan Cina yang mulai tumbuh di negara tersebut. Sebagai salah satu kekuatan utama di Asia Tenggara dan Asia Timur, kedua negara tersebut menganut gaya kiri khas negaranya masing seperti Maoism (Cina) dan Bapak Revolusi Vietnam, Ho Chi Minh yang bercorak sosialis.

Pengalaman berkesan dari mereka yang merasakan momen unik tersebut

Presiden Soeharto di awal kekuasaannya [sumber gambar]
Jika Soeharto menanggapi sambutan Genjer-genjer dengan senyumnya yang misterius, rombongan presiden justru merasa sebaliknya. Seperti yang terjadi pada pasukan pengaman Presiden yang bingung dan ingin menghentikan lagu tersebut, hingga Boediarjo selaku Dubes RI untuk Kamboja yang merasa ketar-ketir pada saat itu. Namun siapa sangka selepas peristiwa tersebut, ia dipanggil pulang ke Indonesia dan diserahi jabatan sebagai Menteri Penerangan.

BACA JUGA: 5 Fakta Unik Presiden Soeharto yang Tak Banyak Diketahui Orang Indonesia

Setelah peristiwa lagu Genjer-genjer berlalu, Kamboja akhirnya benar-benar menjelma menjadi negara komunis yang sesungguhnya pada 1975 di bawah rezim Khmer Merah pimpinan Pol Pot. Indonesia juga pernah mengirim senapan serbu AK-47 kepada militer Kamboja di bawah Presiden Jenderal Lon Nol untuk menumpas rezim Khmer Merah.