Ketua Banggar DPR RI Said Abdullah membuat pernyataan mengejutkan saat menggelar rapat kerja dengan Menkes Terawan Agus Putranto. Dalam rapat tersebut, Said mengatakan ada rumah sakit di sejumlah daerah yang sengaja membuat pasien dinyatakan positif Covid-19 demi mendapatkan anggaran corona, seperti yang dilansir dari Kumparan (15/07/2020).

Pernyataan yang kemudian viral dan kadung menyebar ke mana-mana itu, jelas menjadi sebuah laporan yang mengejutkan. Terlebih di situasi pandemi seperti saat ini, masyarakat juga terkadang merasa acuh terhadap protokol kesehatan yang diberlakukan pemerintah, atau bahkan tak percaya jika Covid-19 benar-benar ada.

Masyarakat termakan informasi yang salah terkait Covid-19

Ilustrasi informasi Covid-19 [sumber gambar]
Sejak Covid-19 menjadi pandemi di Indonesia, ada banyak informasi keliru alias hoax terkait keberadaan virus tersebut. Kabar simpang siur yang belum jelas sumbernya ini banyak tersebar di pesan-pesan berantai via aplikasi perpesanan seperti WhatsApp misalnya. Bahkan, ada yang menganggap Covid-19 adalah teori konspirasi belaka.

Banyak yang mengira Covid-19 adalah teori konspirasi

Ilustrasi teori konspirasi Covid-19 [sumber gambar]
Covid-19 juga sempat menjadi bahasan hangat yang dikaitkan dengan teori konspirasi. Hal semacam ini bahkan semakin menguat tatkala banyak publik figur yang membahas virus corona dari sudut pandang tersebut. Banyak yang terbelah soal yang satu ini. Ada yang percaya Covid-19 adalah sebuah wabah, tapi tak sedikit pula yang menganggap hal tersebut adalah ulah segelintir elite global yang menjadi obyek utama dari teori konspirasi.

Merasa sehat dan melihat tak ada gejala yang timbul akibat infeksi Covid-19

Ilustrasi orang tanpa gejala di tengah-tengah masyarakat [sumber gambar]
Banyak masyarakat yang tak percaya dengan adanya Covid-19 karena mereka tak melihat penderitanya secara langsung. Selain itu, mereka yang menganggap diri sehat dan tak merasa terpapar oleh Covid-19 juga menjadi salah satu penyebabnya. Padahal, pemerintah telah mewanti-wanti adanya Orang Tanpa Gejala atau OTG. Yakni mereka yang sejatinya telah tertular namun terlihat baik-baik saja.

Dipengaruhi rasa bosan terkait pemberitaan yang intens soal Covid-19

Ilustrasi pemberitaan soal Covid-19 [sumber gambar]
Pemberitaan yang intens soal Covid-19 di awal-awal kemunculannya, lama kelamaan membuat masyarakat merasa jenuh dengan hal tersebut. Terlebih dengan sikap pemerintah yang kerap berubah-ubah soal penanganan pandemi, masyarakat pun merasa ragu akan upaya tersebut.

Masyarakat ragu dengan data yang dikeluarkan oleh pemerintah

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto [sumber gambar]
Berdasarkan ‘Survei Nasional Pandangan Masyarakat Terhadap Penanganan Pandemi Covid-19′, Sabtu, 23 Mei 2020’ dari lembaga kajian Roda Tiga Konsultan yang dikutip dari Medcom (23/05/2020) menemukan, ada 45,2 persen masyarakat percaya dengan data pemerintah terkait covid-19. Namun 51,8 persen atau separuhnya ragu-ragu dan tidak percaya dengan data tersebut.

BACA JUGA: 4 Teori Konspirasi Seputar Corona, dari Senjata Biologis Sampai Kejahatan Amerika

Terlepas dari percaya atau tidaknya, Covid-19 kini telah menjadi pandemi di hampir seluruh wilayah Indonesia. Virus corona juga telah memakan korban jiwa dari masyarakat sipil maupun tenaga kesehatan. Sekarang pilihan ada di tangan kita. Namun yang jelas kenyataan sudah terpampang di depan mata.