Puncak Everest bagi sebagian orang mungkin hanya legenda yang hanya bisa mereka bayangkan saja, tak bisa mereka taklukkan. Ya, di samping butuh latihan fisik yang sungguh-sungguh, pengalaman yang luar biasa, dan pastinya uang, waktu serta kesiapan untuk mati seandainya gagal dalam pendakian. Tak heran, jika puncak tertinggi dunia ini menjadi mimpi buruk untuk sebagian orang.

Tetapi tidak bagi kedua perempuan tangguh asal Indonesia ini. Adalah Mathilda Dwi Lestari dan Fransiska Dimitri Inkiriwang yang sukses taklukkan puncak Everest serta pulang ke tanah air dengan selamat. Penasaran dengan bagaimana kisah pendakian mereka? Simak terus ulasan Boombastis.com berikut ini ya.

Ikut dalam misi The Women of Indonesia’s Seven Summits Expedition Mahitala-Unpar (WISSEMU)

Mathilda dan Deedee (nama panggilan Fransiska) adalah mahasiswa hubungan internasional (HI) Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung. Mereka berdua tergabung dalam organisasi mahasiswa pencinta alam kampus Unpar yang bernama Mahitala. Misi mendaki tujuh puncak tertinggi di tujuh benua itu diberi nama The Women of Indonesia’s Seven Summits Expedition Mahitala-Unpar (WISSEMU), mengutip Jawapos.com.

Mathilda dan Deedee [Sumber gambar]
Mereka memulai misi ini dari tahun 2014 lalu. Saat itu, puncak pertama yang menjadi sasaran (dari 7 puncak tertinggi dunia) adalah: 1. Carstenz Pyramid (4.884 mdpl) yang sukses pada 13 Agustus 2014. Setelahnya, Deedee dan Mathilda menuntaskan misi lima puncak tertinggi lain dalam kurun waktu berturut-turut dari 2. Elbrus (5.642 mdpl) 15 Mei 2015; 3. Kilimanjaro (5.895 mdpl) 24 Mei 2015; 4. Aconcagua (6.962 mdpl) 30 Januari 2016; 5. Vinson Massif (4.892 mdpl) 5 Januari 2017; 6. Denali (6.190 mdpl) 2 Juli 2017, seperti yang diwartakan oleh gesuri.id.

Sampai puncak Everest dengan perasaan bangga

Tentu merupakan sebuah perjuangan yang sangat susah untuk bisa sampai di gunung paling tinggi tersebut. Deedee dan Mathilda menceritakan perjalanan Panjang mereka dari Jakarta menuju Everest. Bersama timnya, mereka sampai di Kathmandu pada 30 Maret. Setelanya langsung bersiap menuju Everest Base Camp (EBC) yang memakan waktu lima hari dengan kendaraan roda empat. Di Base Camp ini, jika gunung-gunung di Indonesia hanya butuh beberapa jam pemberian materi, di sini mereka butuh waktu selama enam hari.

Sampai puncak membawa nama Indonesia [Sumber gambar]
Layaknya black forest, Everest tak bisa didaki secara langsung, mereka harus menikmati sepotong demi sepotong perjalanannya. Untuk barang-barang, ada porter khusus (hewan Yak) yang ikut membawakan semua keperluan mereka. Umumnya, para pendaki akan memanfaatkan waktu istirahat dengan tidur, guna memulihkan tenaga. Deedee, Mathilda dan timnya sendiri membutuhkan waktu 57 hari pendakian (2 bulan) sebelum berhasil mengibarkan merah putih di Puncak Everest dan pulang dengan selamat.

Persiapan yang dilakukan sebelum mendaki

Keduanya sangat paham jika pendakian ini taruhannya nyawa. Layaknya pendaki yang sering kita temui di Indonesia, mendaki Everest pasti tidak cukup mempersiapkan diri hanya dalam waktu satu atau dua bulan. Deedee dan Mathilda sendiri memang sudah terlatih mendaki gunung-gunung yang ada di Indonesia. Selain itu, tidak sembarang orang yang boleh melakukan pendakian ke sana. Untuk menuju puncaknya, dibutuhkan CV yang berisi pengalaman ke mana saja gunung es ekstrem yang sudah pernah didaki.

Penghargaan untuk Mathilda dan Deedee [Sumber gambar]
Saat hendak mendaki Everest, keduanya mengatakan bahwa tidak ada latihan fisik khusus, pendakian gunung pertama sampai keenam mereka jadikan sebagai media belajar. Pada pendakian-pendakian sebelumnya, mereka menggunakannya untuk belajar bagaimana menyiapkan diri menghadapi ketinggian. Juga, belajar menghadapi kondisi medan yang bergletser atau bongkahan es yang telah membatu, seperti dilansir dari Jawapos.com.

BACA JUGA: Bukan Tak Berperikemanusiaan, Ini Mengapa Jasad Abadi di Everest Dibiarkan Begitu Saja

Berdasarkan catatan pencapaian ini, Deedee dan Mathilda adalah dua orang Asia Tenggara pertama yang menyelesaikan misi mendaki tujuh puncak tertinggi dunia. Misi ini sendiri tuntas dalam waktu kurang lebih 4 tahun (2014-2018). Keduanya jelas membuat Indonesia bangga, bahkan secara pribadi mendapat pujian dari Presiden Joko Widodo sebagai srikandi Indonesia.