in

Ada Sejak Puluhan Tahun Lalu, Ini 4 Kuliner Legendaris Malang yang Jadi Saksi Sejarah

Malang adalah kota yang terkenal dengan suasana adem dan objek wisata alam yang masih asri. Selain itu, kota kecil yang berada di Jawa Timur ini juga banyak menyimpan kuliner enak menggugah selera. Berbicara tentang kuliner, karena zaman semakin maju, pastinya semua penjual terus berinovasi dan membuat makanan kekinian yang tak kalah buat ngiler.

Tetapi, ada banyak makanan tradisional Indonesia yang masih tetap dinikmati dan tidak lekang oleh waktu loh Sahabat. Beberapa di antaranya akan Boombastis bahas dalam artikel ini. Meski mereka sudah berpuluh tahun eksis, pindah tangan ke generasi ke generasi, cita rasa yang khas membuat makanan tersebut terus dicari. Apa saja kira-kira? Mari sejenak #trowbek17an dengan menyimak uraian berikut.

Rawon Kiroman

Rawon mungkin adalah kuliner yang sudah tak asing lagi karena mudah ditemukan di Malang. Tetapi jika membahas warung yang sudah berdiri puluhan tahun, mungkin bisa dihitung jari, salah satunya ada Rawon Kiroman. Warung nuansa vintage yang berada di Jl. Yulius Usman atau disebut sawahan ini sudah berdiri sejak tahun 1950.

Bu Jazilla, Pemiik Rawon Kiroman

Lokasinya tepat di pinggir jalan, sekarang dikelola oleh generasi kedua yang kerap disapa Bu Jazilla. Dalam sejarahnya, Rawon Kiroman dulu hanya menjual rawon saja. Seiring dengan berkembang dan banyak pembeli, ada banyak jenis makanan yang disajikan, seperti Soto, Nasi Campur, serta Gule yang semuanya bikin ngiler dan menggugah selera.

Rawon Kiroman

Berusia sudah hampir 80 tahun, ternyata kunci tetap terus bertahan adalah cita rasa yang tidak berubah yang disajikan oleh pemilik warung ini. Karena terkenal dengan kelezatannya, tak heran jika ia didatangi oleh tokoh seperti Wiranto, atau artis-artis ibukota.

Warung lama H. Ridwan

Kata ‘lama’ tak hanya mengacu pada waktu saja, tetapi juga betapa legendarisnya warung ini. Sudah eksis sejak 1919, H.Ridwan menjual pada zaman dulu dengan dipikul, menu utamanya adalah Nasi Rawon. Pada 1925, keberadaan pasar besar yang mulai dibangun membuatnya punya lapak tetap yang ditawarkan oleh Belanda. Nah, untuk membuat warungnya tetap dikenang dan berlangsung lama, diberilah nama ‘Warung Lama H.Ridwan’.

Potret H. Ridwan

Di era penjajahan tersebut, Alm. H. Ridwan berjuang untuk bisa mendapatkan beras dengan sembunyi-sembunyi dan menyelundupkannya dalam wadah susu. Ketika itu pun ada menu andalan tambahan yakni sate komoh, tempe, serta ayam goreng.Warung ini tak jarang menjadi tempat persinggahan para pejuang pribumi untuk sekedar mengganjal perut.

Pak Yusuf dan suasana warung

Karena sangat melegenda, beberapa stasiun televisi sempat meliput tempat ini, ditambah pengunjungnya juga banyak yang berasal dari mancanegara. Di tangan generasi ke-3, Pak Yusuf, cita rasa warung Lama H.Ridwan akan terus dikenang oleh masyarakat. Pak Yusuf juga menceritakan jika rasa yang terus terjaga tersebut juga dari tangan sang istri, yang memasak dengan sepenuh hati.

 Warung Tahu Lontong Lonceng

Lontong Lonceng sudah ada sejak tahun 1935, ketika masa penjajahan. Dulu, Lontong yang kini sudah dikelola oleh generasi ke-3, Muhammad Priyono -yang kerap disapa Pak Prio- ini masih belum punya lapak alias masih pakai rombong (gerobak) di pinggir jalan. Sejak tahun 1989 oleh Hj. Buang (Ayah Pak Prio), barulah dibelikan lapak yang sekarang.

Pak Prio dan gerobak lontong lonceng

Nama lonceng punya makna tersendiri, karena awalnya tahu lontong ini berada bawah ‘lonceng’ jam besar merah. Sekarang bentuknya sudah jadi tugu dengan jam kecil di atasnya. Pengujung yang datang juga dari berbagai kalangan termasuk wisatawan dari luar kota, jakarta, bandung, kalimantan dll. Anak-anak dari teman generasi pertama juga masih terus datang, apalagi ketika hari raya lebaran.

Suasana warung lontong lonceng

Yang unik, rombong atau gerobak yang sekarang dipakai adalah gerobak dari tahun 1935. Ketika masa penjajahan, lokasi yang berada di pusat kota ketika itu membuat jualan ini laris manis, mereka baru akan tutup warung saat sudah ada bunyi sirene pemerintah belanda.

Ronde Titoni

Di tengah dinginnya kota Malang, Ronde Titoni mungkin bisa menjadi makanan yang mengenyangkan sekaligus membuat hangat suasana. Warung Ronde sudah berdiri tiga tahun setelah merdeka, 1948 oleh Bapak Abdul Hadi. Jika dihitung, pada tahun 2018 ini, ia sudah eksis selama 70 tahun.

Pak Sugeng pemilik ronde

Sebelum mempunyai warung tetap, Abdul Hadi memikul dagangannya dan sering berjualan di sekitar daerah Titoni. Nama Titoni sendiri diambil dari nama toko Arloji di dekat lapak berjualannya dulu. Pada 1985, Ronde ini pindah ke Jl. Zainal Arifin dan menetap di sini.

Dapur dan suasana di Ronde Titoni

Hingga sekarang, warung yang selalu ramai ini dikelola oleh anak Abdul Hadi, Sugeng dan putranya. Selain Ronde,ada Angsle, Cakwe, serta Kacang Kuah. Masalah rasa jangan ditanya, nikmatnya membuat orang rela antri panjang.

Kuliner di atas adalah warisan budaya yang terus dijaga dari satu generasi ke generasi lain yang sukses membawamu #trowbek17an ke masa penjajahan dulu. Jika kamu bertanya mengapa mereka masih bertahan walaupun ada yang sudah berusia hampir satu abad, maka jawabannya adalah cita rasa yang terus sama, sehingga menjadikan mereka makanan legenda.

Written by Ayu

Ayu Lestari, bergabung di Boombastis.com sejak 2017. Seorang ambivert yang jatuh cinta pada tulisan, karena menurutnya dalam menulis tak akan ada puisi yang sumbang dan akan membuat seseorang abadi dalam ingatan. Selain menulis, perempuan kelahiran Palembang ini juga gemar menyanyi, walaupun suaranya tak bisa disetarakan dengan Siti Nurhalizah. Bermimpi bisa melihat setiap pelosok indah Indonesia. Penyuka hujan, senja, puisi dan ungu.

Leave a Reply

Lewat Perjuangan Keras Pemain Ini Ubah Nasibnya dari ‘Nahas’ Sampai Jadi Bintang Timnas

Sering Diikuti, Inilah 4 Lomba Agustusan yang Ternyata Punya Kisah Sedih di Baliknya