Berawal dari kehidupan susah yang dialaminya pada masa silam, tak membuat seorang Muhtadi berkecil hati. Pria tamatan SD dikenal sebagai pengusaha olahan ikan presto yang sukses di tempatnya. Dilansir dari ekonomi.kompas.com, ia dikenal oleh tetangganya sebagai usahawan yang merintis bisnisnya dari nol.
Sebelum dikenal sebagai pengusaha sukses, pria yang akrab disapa Mumu ini sempat melakoni berbagai profesi.

Laman ekonomi.kompas.com menuliskan, ia nekat merantau ke kota pada 1983 silam. Hal ini terpaksa dilakukannya setelah letusan gunung di tahun 1982 silam meluluh lantakkan kampung halamannya. Alhasil, ekonomi keluarganya yang merupakan seorang petani lumpuh total. Ia pun nekat pergi ke kota dengan harapan bisa merubah nasib.

Ilustrasi berjualan ikan [sumber gambar]
Di kota, ia menumpang rumah saudaranya yang berjualan ikan cuik. Ia pun kerap membantu sembari mengumpulkan uang dari bekerja sebagai kuli panggul selama santun di pasar. Ia pun sempat tertarik mendirikan usaha sendiri dengan mengambil ikan cuik dari pemasok. Karena tanpa modal, ia pun mengantongi pemasukan sebesar Rp 3.000–Rp 4.000 per hari. Laman ekonomi.kompas.com menuliskan, hal tersebut tak lama dijalaninya karena ia tertarik untuk bekerja sebagai buruh pabrik.

Hanya 10 bulan bertahan sebagai buruh pabrik, pria kelahiran 6 Maret 1968 ini memutuskan berhenti. Dengan upah Rp 19.000 per minggu, ia merasa gajinya sangat kurang dibanding dengan profesinya dulu sebagai pedagang. Seperti yang ditulis laman ekonomi.kompas.com, Mumu oun mencoba menekuni kembali usaha jualan ikan pindang. Tak disangka, bisnisnya ini semakin maju dari hari ke hari. Ia pun tertantang untuk berinovasi.

Ilustrasi olahan ikan [sumber gambar]
Bermodalkan uang Rp 4 juta, ia membeli peralatan dan belanja bahan baku ikan sebanyak 100 kg pada awal 1990-an. Saat itu, Mumu mencoba usaha berkat ilmu meramu ikan dari tukang pindang yang dia kenal. Laman ekonomi.kompas.com menuliskan, ia sempat mencoba berkali-kali karena selalu diliputi kegagalan. Ujian ini pun bisa dilewatinya hingga bisnisnya perlahan menunjukkan kemajuan. Namun sayang, badai krisis moneter yang datang pada 1997 memporak-porandakan usahanya. Mumu pun kembali ke titik nol kembali.

Di tengah kekalutan tersebut, Mumu mencoba bangkit dengan menekuni usaha kredit barang. Bukan tambah membaik, kondisi tersebut malah memperparah keadaan ekonominya. Usaha kreditnya pun kehabisan nafas karena modalnya tidak kembali dan banyaknya kredit macet yang terjadi. Mumu yang akhirnya terpaksa menutup bisnisnya tersebut.

Ilustrasi kredit barang [sumber gambar]
Setelah berhasil melewati masa-masa sulit, Mumu kembali mencoba bisnis pindang yang pernah ditekuninya dulu. Tak disangka, usahanya kali ini berkembang lebih pesat dari sebelumnya. Laman ekonomi.kompas.com menuliskan, ia memperoleh omset Rp 20 juta perhati dari harga produk di kisaran Rp 22.000-Rp 24.000 per kg. Usahanya pun telah memasok kebutuhan ke pasar-pasar tradisional di Depok antara lain Pasar Agung, Pasar Musi, Pasar Kemiri, dan Pasar Pucung.

Di balik kisah suksesnya di atas, Mumu memiliki cita-cita mulia, yakni ingin menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang yang lebih tinggi. Ia merasa, pendidikan sangat penting sebagai bekal hidup agar bisa bersaing di zaman yang semakin kompleks dan rumit. Jika ia dulu hidup susah dan tak mampu mengenyam pendidikan tinggi, ia ingin agar anak-anaknya bisa lulus hingga menjadi sarjana.

Berharap sang anak menjadi sarjana [sumber gambar]
BACA JUGA: Belajar Meneladani Sukses Mantan Kuli Bangunan yang Kini Jadi Pejabat Tinggi Negara

Menjalani hidup dengan beragan ujian di dalamnya, merupakan salah satu bentuk kasih sayang dari Tuhan untuk hambanya agar berusaha merubah hidupnya menjadi lebih baik. Sama seperti kisah Muhtadi alias Mumu di atas, ia tak pernah lelah mencoba meski sempat berkali-kali tersungkur dalam kegagalan. Semangat yang patut ditiru ya Sahabat Boombastis.