Pada ajang debat pilpres 2019 putaran kedua yang dilaksanakan beberapa waktu lalu, capres urutan nomor 2, Prabowo Subianto sempat menyinggung soal adanya Indonesia yang mengimpor air. Berdasarkan rekaman data perdagangan luar negeri dan dikompilasi oleh UN Comtrade (sebuah lembaga PBB) yang dikutip dari cnbcindonesia.com menuliskan, Indonesia melakukan impor air setiap tahunnya, setidaknya sejak 1989.

Data di atas juga mencatat data perdagangan yang dilaporkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Tak hanya air, beberapa komoditas penting yang harusnya bisa dihasilkan sendiri oleh rakyat di dalam negeri pun banyak diimpor oleh Indonesia. Hal ini seolah membuktikan, bahwa negeri yang konon katanya kaya Sumber Daya Alam (SDA), ternyata hanyalah sebuah julukan semu belaka. Lantas, apa sajakah komoditas yang diimpor masuk ke Indonesia?

Masak iya sih Indonesia impor air?

Aneh tapi nyata. Itulah kenyataan yang ada untuk bernama Indonesia saat ini. Sebagai negara iklim tropis dan memiliki banyak hutan hujan, negeri ini ternyata juga mengimpor air dari luar negeri. Dikutip dari cnbcindonesia.com, benda cair yang dimaksud dalam data perdagangan tersebut adalah semua air yang masuk dalam golongan kode HS 2201. Merujuk pada situs beacukai.go.id, defisini untuk barang dengan kode HS 2201 adalah ‘Air, termasuk air mineral alam atau artifisial dan air soda, tidak mengandung tambahan gula atau bahan pemanis lainnya maupun pemberi rasa; es dan salju’.

Oooh..ternyata impor air toh [sumber gambar]
Bahkan, jumlah impor air Indonesia mencapai 3.168 ton (asumsi masa jenis air = 1kg/liter) pada 2017 silam. Jika merujuk pada gambaran infografis yang dikutip dari cnbcindonesia.com, ada lima negara yang menjadi penyuplai air bagi Indonesia dalam satuan ton, yakni Prancis (1,294.59), Italia (760.48), Korea Selatan (666.26), Fiji (256.40), Malaysia (96.12).

Impor beras yang terjadi sepanjang 2018

Meski dijuluki sebagai negeri agraris, Indonesia pada kenyataannya harus mengimpor beras dari luar negeri. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip dari finance.detik.com menuliskan, pemerintah Indonesia telah melakukan impor beras sebanyak 2,25 juta ton dengan nilai US$ 1,03 miliar disepanjang tahun 2018. Kegiatan tersebut dilakukan secara bertahap dengan mendatangkan pada setiap bulannya selama setahun (12 bulan).

Ilustrasi impor beras di Indonesia [sumber gambar]
Rinciannya adalah, Januari masuk sebesar 13,17 ribu ton dengan nilai US$ 5,80 juta, Februari 272,89 ribu ton (US$ 130,08 juta), Maret 97,63 ribu ton (US$ 44,73) juta, April 165,34 ribu ton (US$ 76,04 juta), Mei 346,97 ribu ton (US$ 161,29 juta), Juni 223,76 ribu (US$ 106,22 juta). Lanjut pada Juli sebanyak 333,17 ribu ton (US$ 156,80) juta, Agustus 326,83 ribu ton (US$ 151,59 juta), September (236,25 ribu ton (US$ 107,26 juta), Oktober 123,65 ribu ton (US$ 53,10 juta) November 62,99 ribu ton (US$ 24,81 juta) dan pada Desember masuk sebanyak 51,10 ribu ton dengan nilai US$ 19,24 juta.

Garam pun harus didatangkan dari luar negeri

Selain beras, garam yang menjadi salah satu kebutuhan pun harus didatangkan dari luar negeri oleh pemerintah. Menurut Direktur Operasional PT Garam (Persero), Hartono yang dikutip dari finance.detik.com mengatakan, impor garam sekitar 2,2 juta ton/tahun dilakukan untuk mencukupi kekurangan di awal tahun.

Petani garam di indonesia berjuang di tengah kebijakan impor [sumber gambar]
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo telah meneken Peraturan Pemerintah (PP) terkait impor garam industri. Laman ekonomi.kompas.com menuliskan, keputusan untuk mengimpor 3,7 juta ton garam industri tinggal menunggu izin Kementerian Perdagangan (Kemendag) setelah PP terbit.

Sayuran juga masuk sebagai komoditas yang diimpor dari negara lain

Indonesia yang dicitrakan sebagai negara subur dan zamrud khatulistiwa, nyata juga terpaksa harus mengimpor sayuran dari negara lain. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip dari tirto.id mencatat, impor sayuran pada November 2018 mencapai 97 juta dolar AS. Impor sayuran terbanyak pun berasal dari Cina, dengan total 94 ton atau 81 juta dolar AS.

Sayur juga import lho… [sumber gambar]
Selain tirai negeri tirai bambu, Indonesia juga masih mengimpor sayuran dari Ethiopia dengan jumlah 3 ton senilai 3,04 juta dolar AS, Australia 1,4 ton atau senilai 1,4 juta dolar AS serta Selandia Baru sebesar 44 ton. Laman tirto.id juga menuliskan, ada lima jenis sayuran yang masih diimpor oleh Indonesia, seperti bawang putih senilai 78 juta dolar AS , kacang-kacangan 5,1 juta dolar AS, kentang potong 1,9 juta dolar AS, bawang bombai 5,9 juta dolar AS dan bawang putih potong, kering serta dalam bentuk bubuk senilai 1,5 juta dolar AS.

Impor besar pemerintah untuk mendatangkan minyak dari luar negeri

Untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, Indonesia juga mengimpor minyak dari luar negeri disamping memanfaatkan hasil produksi kilang-kilang dalam negeri. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip dari finance.detik.com, volume impor Agustus 2018 naik sebesar.

Ilustrasi impor minyak Indonesia dari luar negeri [sumber gambar]
Hal ini disebabkan oleh naiknya volume impor migas sebesar 16,39% (682.300 ton) walaupun volume impor non migas turun 5,78% (657 ribu ton). 0,16% atau 25.200 ton. Sementara itu, Filipina tercatat sebagai negara pengimpor tertinggi yang nilainya naik mencapai 119,35% pada Juli 2018. Disusul Jerman, naik 90,5%. Sementara Italia dan Polandia, tercatat mengalami penurunan paling dalam dengan jumlah yang tidak disebutkan.

Komoditas lainnya yang masih harus diimpor oleh Indonesia

Selain komoditas di atas, ada beberapa jenis barang lainnya yang juga masuk dalam kuota impor pemerintah sepanjang tahun 2018 silam. Dilansir dari cnbcindonesia.com, barang-barang dari China masih merajai pasar Indonesia dengan nilai 45, 24 miliar dolar AS (naik 28,49%) dari 13 negara yang juga menjadi pemain impor bagi tanah air.

Daging sapi asal Australia yang diimpor Indonesia [sumber gambar]
Barang-barang yang diimpor seperti Pupuk sebesar 1,904 miliar dollar AS, Senjata atau amunisi senilai 313 juta dollar AS, Serealia sejumlah 3,795 miliar dollar AS, Buah-buahan sebesar 1,310 miliar dollar AS, dan Daging hewan senilai 724 juta dollar AS.

BACA JUGA: 4 Hal Utama yang Bisa Dilakukan Presiden Baru RI Jika Telah Terpilih Pada 2019

Wacana untuk swasembada pangan, tampaknya masih akan menemui jalan terjal jika kegiatan impor komoditas seperti di atas masih berlangsung. Tentu saja, hal ini merupakan sebuah permasalahan serius sekaligus tantangan untuk semua. Bukan hanya urusan pemerintah semata, tapi juga menjadi beban bagi rakyat yang merasakan dampaknya secara langsung. Gimana menurutmu Sahabat Boombastis?