Berawal dari kegigihan mempelajari ilmu teknologi informasi (IT) secara otodidak, seorang Tyovan Ari Widagdo bisa menapaki sukses sebagai pengusaha rintisan (startup) penyedia aplikasi untuk belajar bahasa asing, Bahaso. Siapa sangka, semua hal besar itu berawal dari kegemarannya berkunjung ke warung internet (warnet).

Meski dihadapkan pada keterbatasan biaya, hal tersebut tak menyurutkan langkahnya untuk terus berkunjung ke sana. Dilansir dari swa.co.id, Tyovan bahkan sempat meretas tagihan warnet itu sehingga bisa browsing selama berjam-jam. Meski sempat terjun ke ‘dunia gelap’ sebagai hacker, siapa sangka jika ia kini bisa menjadi pengusaha teknologi. Meski demikian, perjalanannya menggapai kesuksesan sangatlah berliku.

Anak penjual kupat tahu yang gigih dalam mempelajari ilmu teknologi

Sebagai anak dari seorang penjual kupat tahu di Wonosobo, Jawa Tengah, keterbatasan secara ekonomi menjadi sebuah hal biasa yang dirasakan oleh Tyovan. Meski demikian, kondisi tersebut memacu dirinya untuk belajar lebih keras. Karena tertarik di bidang teknologi, ia bisa sampai dua sampai tiga kali dalam seminggu menghabiskan waktunya di warnet.

Meretas billing warnet berbekal ilmu otodidak yang dipelajarinya

Tyovan yang dulu sempat meretas biling internet [sumber gambar]
Tarif internet yang dirasa sangat mahal, membuat Tyovan memutar akal agar bisa browsing dengan waktu yang lama. Uang sakunya yang sebesar Rp 5 ribu/hari, tak cukup jika harus membayar tarif internet di warnet Rp 7 ribu per jam. Bermodal informasi di dunia maya dan buku-buku di perpustakaan daerah, ia nekat meretas tagihan warne hingga bisa digunakan selama berjam-jam. “Pengunjung warnetnya ramai, jadi saya tidak ketahuan sudah lama di sana,” ujarnya yang dikutip dari beritagar.id.

Terjun ke dunia gelap sebagai hacker jahat (blackhat hacker)

Tyovan di kantor Google [sumber gambar]
Sukses meretas billing warnet, membuat Tyovan tergoda untuk melangkah lebih jauh. Ia pun sempat terjerumus ke lembah hitam dunia maya sebagai hacker jahat (blackhat hacker). Di masa-masa itu, Tyovan kerap meretas situs, membobol kartu kredit, atau membuat virus komputer. Jenuh menjadi seorang blackhat hacker, ia kemudian memutuskan untuk banting setir menjadi pengusaha.

Mencoba menjadi pengusaha di bidang teknologi yang ternyata sukses

Usai meninggalkan dunia hacker, ia mencoba mendirikan perusahaan penyedia aplikasi untuk belajar bahasa asing, Bahaso, pada 2015. Hebatnya lagi, bisnisnya di bidang teknologi ini mendapat suntikan dana sebesar US$500 ribu atau Rp6,6 miliar meski baru dua tahun berjalan. Tercatat, Tyovan kini dikenal sebagai CEO Vemobo Group dan CEO Bahaso.

Namanya masuk dalam daftar 30 Under 30 Forbes Asia

Berbekal prestasinya di atas, nama Tyovan semakin harum lantaran tercatat di daftar 30 Under 30 Forbes Asia 2017. Tak hanya itu, ia juga berhasil masuk 100 Top World Global Young Innovator, YouNoodle pada 2013, dan lolos seleksi lima besar dari 38 peserta kompetisi inovasi di Stanford University, Amerika Serikat. Sebagai hadiah, ia sempat magang kerja di kantor pusat Google.

BACA JUGA: Kisah Hacker SMP Asal Tangerang yang Sukses Bobol Ketatnya Situs NASA di Amerika Serikat

Bisa dibilang, kisah sukses seorang Tyovan Ari Widagdo di atas merupakan bentuk nyata dari mereka yang berhasil melawan keterbatasan dengan prestasi. Meski dihadapkan pada kekurangan, ia maju lewat kegigihan agar sukses di masa depan. Terbukti, usaha yang keras tak akan mengkhianati hasil. Tyovan sukses dari nol hingga menjadi pengusaha teknologi ternama.