Semua muslim dan muslimah adalah saudara. Ibarat satu tubuh, perbedaan warna kulit, bahasa, negara, adat dan budaya, bukanlah menjadi penghalang bagi hal mulia tersebut. Pun dengan para tentara India yang ditugaskan oleh Inggris untuk memerangi pejuang republik di tanah air. Alih-alih melaksanakan tugas, mereka akhirnya memilih desersi dari unitnya dan balik memihak Indonesia.

Terlebih pada saat menjelang bulan Ramadan tiba, gelombang “pengkhianatan” yang dilakukan oleh serdadu asing di Indonesia semakin menjadi-jadi. Para pembelot tersebut, merupakan prajurit asal India yang didatangkan Inggris sebagai bagian dari pasukan mereka. Namun apa daya, atas “nama persaudaraan seiman”, kisah heroik pembelotan mereka akhirnya berhasil tercatat oleh tinta sejarah.

Saudara seiman menjadi pemicu untuk membantu perjuangan Indonesia

Sebagai pasukan Inggris yang ditugaskan di Indonesia, para serdadu India yang muslim ini ditugaskan untuk mengatasi ganasnya serangan pejuang republik. Namun, semuanya berubah ketika mereka sadar tengah memerangi prajurit Indonesia yang ternyata sesama muslim. Semua berawal dari kisah Ghulam Ali, yang merupakan anggota Brigade Infantri I Divisi India ke-23.

Membelot atas nama persaudaraan muslim [sumber gambar]
Dilansir dari historia.id, ia terharu begitu melihat tulisan bismillahirochmanirrohim di pintu rumah dan menemukan Alquran di dalam rumah-rumah penduduk yang kosong. Saat itu, ia dan unitnya tengah berpatroli dari kampung ke kampung. Dari sinilah, ia mengetahui bahwa sebagian besar penduduk Indonesia adalah Muslim. Menurut Firdaus Syam, dosen Ilmu Politik Universitas Nasional Jakarta yang dikutip dari historia.id, di sinilah awal mula mereka mulai membelot dan melakukan desersi.

Bantu perjuangan Indonesia lewat fisik dan propaganda

Ada kejadian unik saat pertempuran Surabaya antara pasukan Inggris dan pejuang republik. Menurut Des Alwi dalam Pertempuran Surabaya November 1945, terdengar teriakan Allah Akbar dari tentara negeri Ratu Elizabeth itu. Sementara ia sendiri tidak mengetahui apakah mereka muslim atau bukan. Tak hanya itu, pekik takbir juga dikumandangkan oleh pejuang republik yang notabene muslim. Jadi, ada dua takbir yang terdengar dari dua kubu.

Tentara India yang membelot ke Indonesia dalam Pertempuran Surabaya [sumber gambar]
Oleh Sukarno, seperti yang dikutip dari historia.id, ia menganjurkan agar mengajak mereka untuk bergabung, membantu kemerdekaan RI. “Sebagai sesama Muslim kita semua bersaudara, tidak boleh saling bunuh-membunuh dan diadu domba oleh kekuatan kolonial,” Sukarno mengingatkan. Alhasil, banyak dari mereka yang sebagian besar Muslim India itu, membelot dari Inggris dan balik memihak Indonesia. Tak hanya memberikan sumbangsih berupa perjuangan fisik, tapi juga melalui propaganda lewat selebaran, pamflet, dan siaran radio berbahasa Inggris dan Hindustani.

Jumlah “pengkhianatan” yang kian bertambah jelang bulan Ramadan

Menjelang bulan suci ramadan, jumlah para pembelot semakin menjadi-jadi. Menurut laporan Divisi India Ke-26 di Sumatra menunjukkan, aktivitas tersebut meningkat tajam selama bulan Ramadan pada Agustus 1946. Para serdadu India yang ada, kebanyakan melakukan desersi pada malam hari dengan cara meninggalkan barak. Namun, ada pula yang nekat melakukannya ketika tengah melakukan operasi militer.

Tentara India yang membelot dan membantu Indonesia di Medan, Sumatra Utara [sumber gambar]
Merujuk tulisan Soeloeh Merdeka, 21 November 1945, yang dikutip dari historia.id menunjukkan, ada dua tentara India di surakarta yang membelot menyerukan rekan-rekannya dalam bahasa Urdu melalui corong radio agar meninggalkan tentara Inggris. Di sejumah tempat seperti 8/8 Punjab di Sumatra dan 6/8 Punjab di Jawa yang notabene dua batalion yang sama, kehilangan banyak pasukan yang semuanya Muslim.

Para tentara asing yang berjasa pada kemerdekaan Indonesia

Dalam kelompok International Volunteers Brigade, terdapat seorang komandan bernama Abdul Matin dengan wakilnya Ghulam Ali. Satuan ini dibentuk oleh Menteri Pertahanan Amir Sjarifuddin pada 30 Agustus 1947, di mana kesemua anggotanya merupakan sukarelawan asing yang berasal dari Tionghoa, Filipina, dan Malaysia. Pasukan ini akhirnya disebar ke front-front untuk membantu tentara Indonesia. Mereka juga ikut bertempur selama agresi militer Belanda II dari hutan-hutan secara gerilya.

Kelompok Internasional Volunteers Brigade yang bersikan sukarelawan asing muslim [sumber gambar]
Setelah Indonesia merdeka, beberapa dari pasukan muslim asing yang tersisa ada yang memilih pulang dan sebagian menetap di tanah air. Salah satunya adalah wakil Dalam kelompok International Volunteers Brigade, Ghulam Ali. Dilansir dari historia.id, ia tetap tinggal di Indonesia dan melanjutkan karirnya di Brimob Polri, hingga dianugerahi penghargaan Satyalencana Janautama oleh Presiden Soeharto pada 1967. Ghulam Ali terus berkarir di satuan elit milik Polri itu hingga pensiun pada 1971 dan tutup usia di tahun 1980-an.

BACA JUGA: Nggak Nyangka 5 Orang Belanda ini Justru Berjuang Untuk Kemerdekaan Indonesia

Sebagai saudara seiman, pantang bagi para tentara asing di atas untuk menyerang pejuang republik yang notabene sesama muslim di medan juang. Aksi mereka pun tercatat dalam sejarah, dengan banyaknya pembelotan dan akhirnya memihak perjuangan Indonesia melawan tentara kolonial. Meski telah menjadi kepingan sejarah, peristiwa di atas patut dikenang dan bisa direfleksikan pada kehidupan Indonesia saat ini. Di mana persatuan adalah salah satu kunci bagi kemenangan demi kedaulatan sebuah negara.