Masa depan memang menjadi selubung misteri bagi setiap manusia di dalam kehidupan ini. Tak ada yang tahu pasti, apa yang bakal terjadi nantinya. Hanya dengan bekal doa, usaha cerdas dan niat yang tulus, masa depan telihat samar bisa diubah menjadi sebuah kesuksesan yang cerah.

Hal inilah yang diterapkan oleh Budi Harta Winata. Kehidupan keras yang membayangi dirinya saat tiba di Jakarta, ditepisnya dengan semangat dan kerja keras. Tak banyak yang tau, kesuksesannya tersebut ternyata berasal dari kebiasaan uniknya. Hal tersebut tak pernah ia tinggalkan hingga berakhir menjadi sebuah kisah inspiratif yang menarik.

Berawal dari cita-cita sebagai pelaut

Sempat ingin menjadi seorang Pelaut [sumber gambar]
Sebelum merantau ke Jakarta, kehidupan Budi amatlah berliku. Lahir dan besar di Banyuwangi, Jawa Timur, Ia kemudian pindah bersama orang tuanya menuju Palopo, Sulawesi Selatan. Di kampung halaman sang ayah itu, terbersit niat Budi untuk menjadi seorang pelaut. Anak-anak muda di Palopo kebanyakan memang bercita-cita menjadi seorang pelaut.

Pelautnya yang ikut kapal pesiar. Kan duitnya banyak,” ujar budi yang dilansir dari detik.com.

Kehidupan keras Jakarta yang menempa dirinya

pernah Bingung saat mencari kerja di Jakarta [sumber gambar]
Karena tak tau seluk beluk menjadi seorang pelaut, Budi pun akhirnya memilih ikut merantau ke Jakarta bersama sang kakak. Ia pun akhirnya sampai di daerah Cilincing, Jakarta Utara. Malangnya, Budi harus tinggak sendiri karena sang kakak diterima bekerja di Singapura. Bekal ijazah lulusan STM mesin, ia kebingungan untuk mencari pekerjaan.

“Akhirnya saya melamar kerja. Tapi bedanya, kalau saya sebelum melamar, malamnya saya tahajud. Ya Allah, saya mau melamar kerja,” ceritanya yang dilansir dari detik.com.

Keputusan panjang yang menentukan masa depannya

pilih resign dan belajar menggambar konstruksi [sumber gambar]
Budi pun akhirnya diterima di sebuah perusahaan otomotif. Ia ditempatkan bagian pembuatan velg truk. Sayang, ia tak betah kerja lantaran pengalaman yang ia dapat dianggap minim. “Terus sampai sekitar tahun ’95 saya mikir, kalau kerja kaya gini ilmunya di mana?” ceritanya. Mujur, ia melihat sebuah pabrik yang tengah direnovasi. Tertarik untuk menjadi kontraktor di dalamnya, budi pun mulai menyusun siasat.

Doa dan shalat tahajud jadi senjata utamanya

Doa dan shalat Tahajud jadi jalan sukses [sumber gambar]
Untuk menjadi seorang kontraktor, Budi diharuskan untuk menguasai teknik menggambar atau drafting. Karena merasa tak cukup ilmu, Budi pun mulai berdoa seperti kebiasaannya dulu. “Malamnya saya berdoa sama Allah, Ya Allah, saya mau kerja seperti itu. Saya mau jadi kontraktor,” ungkapnya dilansir dari detik.com. Singkat cerita, Budi pun berhasil menguasai ilmu tersebut selama empat bulan belajar. Dari sinilah proyeknya mulai berjalan.

Sukses jadi bos perusahaan konstruksi

Karirnya yang terus berkembang membuat Budi berpikir ingin mendirikan usaha sendiri. Ia pun akhirnya mundur dari perusahaan lama sebagai juru gambar, lalu membuka bisnis pertamanya sebagai tukang las keliling. Hingga akhirnya, PT Artha Mas Graha Andalan pun berhasil ia dirikan. Seolah tak lupa dengan rutinitas, slogan perusahaannya pun tak jauh-jauh dari nasihat agama, yakni ‘Utamakan Sholat dan Keselamatan Kerja’.

Saya cuma lulusan STM. Tapi sekarang anak buah saya ada yang insinyur, sarjana ekonomi. Tapi bukan sombong, masih pinteran saya. Dari visi dan cara pikir. Karena saya sekolahnya di alam. Dan saya banyak berdoa sama Allah,” ungkapnya.

Tidak ada yang tak mungkin. Bukti kuasa Tuhan dalam setiap rezeki mahkluknya, melekat erat pada kisah inspiratif di atas. Tak sekedar niat dan berusaha, doa pun mempunyai peranan penting untuk membentuk jalan kesuksesan bagi seorang Budi Harta Winata. Jika masih belum sukses, jangan patah semangat ya Sahabat Boombastis.