Nasib dan masa depan seseorang, tak ada satupun yang bisa mengetahui secara pasti. Jika rezeki bukan di tanah air sendiri, siapa tau melimpah ruah di negeri orang. Sosok sukses seperti Mahmudi ini membuktikannya. Berkat kerja keras dan usahanya yang tak kenal lelah, ia kini dikenal sebagai bos kontraktor besar di Jepang.

Bukannya tanpa hambatan. Pria asal Tulungagung, Jawa Timur tersebut juga melalui jalan terjal yang berliku sebelum menggapai kesuksesan. Mengawali karir sebagai pegawai perhotelan di pulau Bali, Mahmudi terus merajut asanya untuk menggapai sukses. Bukan di negeri sendiri, kisahnya berjuang hingga berhasil di perantauan sangat inspiratif untuk diteladani.

Anak desa sederhana dengan sejuta mimpi

Berawal dari hidup prihatin di Desa [sumber gambar]
Lahir di sebuah desa yang serba kekurangan, tak menghalangi mimpi besar seorang Mahmudi untuk mengubah nasibnya. Pekerjaan sebagai pemetik buah kelapa, dilakoninya agar sekedar bisa sekolah di tingkat tsanawiyah (SMP) dengan upah Rp 100 rupiah per bulan. Masuk jenjang Aaliyah (SMA), Mahmudi terpaksa nyambi jadi petugas kebersihan sekolah agar terbebas dari biaya SPP.

Ibu meninggal ketika saya umur dua tahun, dan bapak cuma buruh tani. Saking miskinnya, kalau ditanya apa cita-cita saya, ya asal bisa makan dan hidup, itu sudah lebih dari cukup,” tutur Mahmudi memulai kisah hidupnya yang dilansir dari finance.detik.com.

Cinta lokasi menjadi takdirnya untuk mengubah nasib

Jatuh cinta dan menikahi wanita Jepang [sumber gambar]
Sebelum menginjakkan kakinya di negeri matahari terbit, Mahmudi pernah bekerja sebagai karyawan hotel di Bali. Di sana, ia giat belajar bahasa Jepang dengan seorang guru. Karena dianggap masih belum lancar, Mahmudi pun dikenalkan dengan seorang perempuan Jepang asli untuk memperlancar upaya belajarnya. Karena sering bertemu, benih-benih cinta pun terjalin. Ia pun menikahi teman guru lesnya tersebut yang merupakan wanita kewarganegaraan Jepang. Dari situ, ia akhirnya memantapkan diri untuk hijrah ke Jepang dan menetap di sana.

Jatuh bangun membangun karir di negeri orang

Sempat jatuh bangun rintis karir di Jepang [sumber gambar]
Meski telah menikahi warga Jepang asli, toh jalan Mahmudi tak serta merta mulus. Sesampainya di sana, ia bekerja sebagai petugas cleaning service, kuli bangunan, hingga sopir selama enam tahun pertama. Padahal, sang mertua yang bernama Fukumoto itu, merupakan sosok yang cukup berada. Mahmudi sebagai menantu, pantang menengadahkan tangan meski hidup susah. Sementara Fukamoto sang mertua, bukanlah tipe orang yang mudah trenyuh untuk begitu saja mengulurkan bantuan.

Saya menjalani semuanya sebagai proses magang untuk memperlancar Bahasa Jepang, mengenal jalanan, hingga teman dan relasi,” kata Mahmudi yang dilansir dari finance.detik.com.

Titik terang berawal dari teman sesama kuli bangunan

Sukses berkat usaha dengan rekan-rekannya [sumber gambar]
Kegigihan dan kerja keras Mahmudi, rupanya menarik perhatian rekan kerjanya sesama kuli bangunan. Dari situ, ia kemudian diajak bekerjasama mendirikan usaha konstruksi milik temannya yang pernah bangkrut. Dengan mengusung nama perusahaan Keihingroup, Mahmudi yang bertindak sebagai direktur operasional mulai menuai sukses. Dari situ, ia kemudin merambah bisnis travel yang bernama Keihin Tour. Usahanya yang bergerak di bidang jasa pelayanan transportasi, akomodasi, mediator, EO, ini, banyak dipakai oleh para pejabat tinggi Indonesia kala berkunjung ke Jepang.

Bahkan saya juga ikut cawe-cawe ketika RI-2 berkunjung ke sini,” kenang lelaki kelahiran Tulung Agung, 16 Juli 1974 itu yang dilansir dari finance.detik.com.

Mantan kuli yang kini menatap kesuksesan di negeri orang

Sukses dikenal menjadi pengusaha [sumber gambar]
Sukses sebagai bos konstruksi dan beragam bisnis lainnya, membuat gaya hidup dan pergaulan Mahmudi semakin luas. Ia kini kerap menjamu rekan dan kolega bisnisya dengan bermain golf bersama. Kesibukannya yang semakin bertambah, membuat dirinya kerap mondar-mandir Jakarta-Jepang untuk urusan bisnis.

Ini sudah kebutuhan, bukan gaya hidup. Mengajak golf mitra bisnis di Jepang itu legal, bagian dari servis,” kata Mahmudi yang dilansir dari finance.detik.com.

Kisah di atas membuktikan, latar belakang bukanlah faktor yang dominan untuk menentukan kesuksesan dalam hidup. Hanya kerja keras, do’a dan niat tulus untuk mengubah nasib, menjadi kunci untuk menggapai keberhasilan. Sama seperti sosok Mahmudi di atas, kita pun bisa melakukannya. Semangat ya Sahabat Boombastis!