Mendengar kata-kata penjara, pasti langsung terlintas bayangan yang buruk akan suasana suram berikut penghuni di dalamnya. Terlebih jika penjara tersebut merupakan peninggalan era kolonial Belanda. Namun hal di atas tidak berlaku pada Ahmad. Sosok 49 tahun itu dengan setia menjaga penjara Banceuy yang termasuk situs warisan sejarah.

Pekerjaan yang dilakoninya sejak tahun 1986 itu, memuat banyak kisah suka maupun duka. Hanya karena berbekal kepeduliannya akan keberadaan bangunan kuno tersebut, ia setia menjalankan tugasnya.

Bekerja ikhlas dan tanpa pamrih [sumber gambar]
Selama pembangunan komplek pertokoan dari 1983 sampai 1986, Saya jadi security di situ. Setelah pembangunan selesai, Saya yang menjaga situs penjara Sukarno dari tahun 1986 sampai sekarang,” ujar Ahmad yang dilansir dari bandung.merdeka.com.

Mirisnya, pemerintah daerah setempat seolah tutup mata dengan penjara Banceuy. Ia bahkan harus pontang-panting ke sana kemari mencari dana untuk perawatan situs. Tak jarang, pria kelahiran 7 Juli 1966 itu harus rela tekor karena mengeluarkan dana pribadinya.

Sejak 1986, bertahan hingga kini [sumber gambar]
Biaya perawatan kan harus ada untuk keperluan beli alat-alat kebersihan dan juga membayar listrik. Karena tidak ada bantuan dari pemerintah, saya nyari sendiri. Apalagi kalau hari-hari bersejarah minimal harus ada pengecatan,” katanya.

Baru pada 24 Juli 2014, itus Penjara Banceuy mulai mendapat perhatian Pemprov Jabar yakni melalui Balai Pengelolaan Kepurbakalaan, Sejarah dan Nilai Tradisional (BPKSNT) Disbudpar Provinsi Jabar. Dirinya pun mendapat honor sebesar Rp 750 ribu yang diambilnya selama dua bulan sekali.

Terima bantuan dari pemerintah [sumber gambar]
Untuk biaya listrik per bulan Rp 150 ribu ditambah peralatan kebersihan. Minimal Rp 250 ribu untuk pengeluaran per bulan. Karena tidak ada biaya khusus perawatan, Saya keluarkan uang dari honor saya per bulan,” ucap Ahmad.

Hati Ahmad sempat berbunga-bunga lantaran pemerintah melakukan renovasi terhadap penjara Banceuy. Hal tersebut dikarenakan adanya penyelenggaraan acara peringatan HUT ke 60 Konperensi Asia Afrika (KAA) pada April 2015.  Namun apa lacur. bak habis manis sepah dibuang, tak ada sepatah kata terima kasih satu pun pada Ahmad dan warga sekitar yang turut menjaga penjara.

Direnovasi tanpa ada ucapan terimakasih [sumber gambar]
Gak ada ucapan terima kasih kepada warga masyarakat. Saya dengan warga masyarakat kalau gak peduli mungkin bangunan itu sudah hancur,” katanya.

Tak hanya sekedar menjaga situs, Ahmad pun tak pernah keberatan saat ada yang ingin berkunjung di malam hari. Bukan mengharap donasi dari pengunjung, melainkan niat mulianya agar generasi penerus bangsa ini tahu bahwa sejarah penjara banceuy benar adanya.

Ikhlas demi generasi muda agar melek sejarah [sumber gambar]
Kunjungan banyak pas liburan sekolah. Kalau ada donasi diterima, kalau gak juga gak apa-apa. Yang terpenting anak sekolah harus lebih tahu mengenai sejarah,” pungkasnya.

BACA JUGA: 6 Penjara Paling Humanis yang Memperlakukan Napi dengan Sangat Istimewa

Sangatlah langka mencari sosok seperti Ahmad di atas. Terlebih, dunia modern dengan pernak-pernik hedonismenya, telah membutakan mata generasi muda untuk tak acuh terhadap peninggalan para pendahulunya. penggalan pidato Bung Karno”Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah,” apakah masih berlaku di benak para pemuda? Entahlah.