Antara miris sekaligus mringis, itulah ekspresi kebanyakan orang saat Tik-tok mulai tersebar secara masif di Indonesia. Masyarakat pun seakan berada di persimpangan jalan. Ikut-ikutan menghujat dan menilai sebagai aplikasi unfaedah, tapi juga jadi munafik karena ikut-ikutan mringis dan betah menikmati konten yang disajikan.

Dilansir dari gadgetren.com, Tik-tok sendiri merupakan aplikasi sosial media berbasis video yang penggunanya dapat membuat video pendek dengan beragam cara. Alhasil, baik tua maupun muda, tak peduli punya anak hingga mereka yang mengalami pubertas kedua, ikut-ikutan memainkan Tik-tok.

Tak heran popularitasnya pun meroket dengan cepat di Indonesia. Dilansir dari entertainment.kompas.com, Tik Tok telah menjadi aplikasi paling viral dan paling banyak di-download, yaitu sebanyak 45,8 juta. Meninggalkan YouTube, WhatsApp, Instagram, Facebook dan WeChat!. Betul-betul program favorit sejuta alay di Indonesia.

Mendadak populer di Indonesia [sumber gambar]
Saking banyaknya mudharat dibanding manfaat, pemerintah pun secara resmi memblokir Tik-tok dari Indonesia. Alasannya juga cukup menohok.

Pornografi, pelecehan agama, banyak sekali pelanggarannya,” kata Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kominfo, Semuel Abrijani yang dikutip dari cnnindonesia.com.

Tiktok pun resmi diblokir pemerintah [sumber gambar]
Berangkat dari pemikiran pihak berwenang di atas, entah apa yang ada dalam di dalam benak milenial di Indonesia saat ini. Kalaulah Tik tok digunakan secara bijak, tentu pemerintah tak akan sembarangan main semprit begitu saja. Terlebih, banyak masyarakat yang memberi rating negatif pada aplikasi buatan Tiongkok tersebut.

Menkominfo ditemui perwakilan Tiktok [sumber gambar]
Salah satu contoh bentuk kebodohan pengguna Tik tok di Indonesia adalah, saat seorang oknum Bidan yang tengah asyik memainkan sebuah wajah bayi di sebuah RSIA yang viral di media sosial. Belum lagi anak-anak muda lainnya. Berjingkrak-jingkrak sendirian, mimik wajah yang dibuat-buat agar terlihat lucu, plus akting absurd yang menambah daftar panjang penderita akibat terjangan syndrom Tik tok.

Enggak salah kalau akhirnya Tiktok di blokir [sumber gambar]
Tak salah jika netizen menganggap Tik tok sebagai pembodohan. Karena memang fakta menunjukan hal tersebut. Mirisnya lagi, saat mengetik kata “Aplikasi Goblok” pada kolom pencarian di Google Playstore, akan muncul nama Tik tok. Secara tidak langsung hal ini juga melabelkan apa yang termuat dalam aplikasi ini.

Coba sendiri deh..!! [sumber gambar]
Selain hal di atas, Tik tok juga dikategorikan sebagai aplikasi yang membuang-buang waktu. Alhasil, banyak anak-anak muda dan ironisnya juga mereka yang telah dewasa, ikut-ikutan terjebak dalam perangkap. Dikutip dari rumaysho.com, Ibnul Qoyyim rahimahullah menuliskan sebuah bait syair yang menggetarkan hati,

Jika waktu hanya dihabiskan untuk hal-hal yang membuat lalai, untuk sekedar menghamburkan syahwat (hawa nafsu), berangan-angan yang batil, hanya dihabiskan dengan banyak tidur dan digunakan dalam kebatilan, maka sungguh kematian lebih layak bagi dirinya.” (Al Jawabul Kafi, 109).

Bermain Tiktok yang melalaikan [sumber gambar]
Ibarat candu, Tik tok yang digunakan secara buruk adalah narkotika lembut dalam bentuk digital. Meski tak membuat kesehatan kolaps secara tiba-tiba, efeknya yang sangat halus mampu merusak karakter generasi muda. Alangkah lebih baik dan mulianya jika Tik tok berubah menjadi aplikasi yang mencerdaskan masyarakat. Bukan hiburan receh ala anak alay yang justru membuat bangsa ini semakin tertinggal. Sebenarnya bisa kok Tiktok jadi wadah kreativitas, asal penggunaannya pun cerdas.

Harapan Bung besar tertunda sementara [sumber gambar]
Padahal, pada pundak anak-anak muda yang notabene adalah generasi penerus bangsa, tersemat harapan dan cita-cita dari para pendahulunya. “Beri aku 10 pemuda, maka akan kuguncang dunia“. Begitulah pesan dari Presiden Soekarno saat berpidato. Sayangnya, angan-angan Bung besar nampaknya masih belum terealisasi jika pemudanya masih “terjajah” oleh keberadaan Tik tok yang disalahgunakan.

Kini, keberadaan aplikasi video itu akan diamankan sementara waktu oleh pemerintah Indonesia. Meski banyak protes di sana-sini, toh menjaga marwah bangsa dan mental pemudanya jauh lebih penting dibandingkan secuil manfaat yang ada pada Tik tok. Soal bikin goblok atau tidak, Sahabat Boombastis pasti punya jawabannya masing-masing.