Kembali terjadinya kasus penembakan di Papua beberapa waktu lalu, tentu menjadi kabar yang memilukan. Pasalnya, di tengah gelontoran dana besar negara untuk pembangunan wilayah tersebut, kisah ini seperti menjadi episode yang tidak menemui kata tamat. Apalagi dalam kejadiannya selalu menimbulkan korban. Seperti saat di Kabupaten Nduga kemarin terdapat sekuranganya 31 Karyawan PT Istaka Karya merasakan getir tersebut.

Berbicara kasus penembakan, ternyata Nduga bukan satu-satu wilayah yang menyimpan kisah menakutkan dari arogansi kelompok separatis. Beberapa wilayah di Bumi Cenderawasih juga menyimpan hal sama. Malahan, sebelum Nduga di sana sudah kerap menghadirkan cerita penembakan seperti ini. Daerah-daerah Papua mana sajakah itu? Simak ulasan berikut ini.

Wilayah Puncak Jaya sempat makan korban TNI

Mendengar Puncak Jaya, tentu bukan sesuatu aneh kalau banyak orang akan langsung teringat nama salah satu gunung tertinggi di Indonesia. Kondisi ini tentu lantaran nama wilayah dan bentukan alam tersebut hampir-hampir mirip. Tapi di balik hal ini, Puncak Jaya bisa dikatakan sempat mempunyai kisah nahas mengenai penembakan.

Ilustarsi aksi TNI [Sumber Gambar]
Melansir laman Merdeka.com, pada Januari 2018 lalu seorang prajurit AD yang melakukan patroli di Yambi masih daerah tersebut, diserang oleh kelompok kriminal sipil bersenjata (KKSB). Meski belum diketahui apa motifnya, namun ketika terdapat lima prajurit mengalami luka. Di wilayah sama sempat pada Bulan Juni lalu, petugas Pilgub Papua ditembaki sampai hadirkan korban jiwa tiga orang.

Tolikara Papua juga menyimpan kisah penembakan

Masih terkait aksi brutal penembakan di tanah Papua, wilayah Tolikari juga menyimpan cerita kelam terkait hal ini. Bahkan disana dalam satu insiden ada banyak orang menjadi korban. Melansir laman Sidonews, ada 11 warga sipil yang menjadi korbannya dan satu di antara harus merenggang nyawa. Kejadian tersebut sendiri terjadi di tengah perayaan Idul Fitri tahun 2015.

Ilustrasi Polisi Baku tembak [Sumber Gambar]
Dalam peristiwa tersebut ada dua versi yang menjadi tersangkanya. Dilansir Boombatis dari BBC, disebutkan Kapolri Jenderal Badrodin Haiti, jika tersangkanya adalah dua orang anggota Gereja Injil di Indonesia (GIDI) di Tolikara, Papua. Sedangkan menurut Kapolda Papua, Inspektur Jenderal Yotje Mende, insiden itu ada keterlibatan oknum polisi dalam kasus penembakan tersebut. Meski sudah lama, hal tersebut mempertegas kalau disana kerap ada kasus penembakan.

Penembakan Enarotalali munculkan kisah kelam penjaga petugas PLN

Selain kedua kejadian tadi, di daerah Enarotalali Kabupaten Pinai Papua juga menggoreskan kisah hitam tentang penembakan. Saat kejadian yang menjadi korban adalah dua orang personel TNI yang menjadi pendamping petugas PLN. Kronologi peristiwa sendiri saat mengawal petugas PLN melakukan survey, para prajurit tersebut diserang oleh kelompok separatis bersenjata.

Ilustrasi penyerangan [Sumber Gambar]
Kejadian memilukan itu, menyebabkan dua orang TNI yang bertugas alami luka yang serius. Selain itu tiga pucuk senjata yang dibawanya juga berhasil dirampas dan di bawa kabur para oknum penyerangan. Meski dapat selamat, namun kejadian tersebut jelas memilukan lantaran menambah catatan kelam insiden semacam ini. Tapi belakang diketahui selain penembakan, saat kejadian kelompok separatis juga melukai korban dengan benda tajam.

Daerah Mimika juga mempunyai kisah kelam penembakan

Kisah mengenai insiden semacam ini juga terjadi di wilayah Papua lain yakni Mimika. Pada tahun 2017 lalu, disana terjadi penembakan yang melibatkan kelompok separatis dan anggota Brimob. Insiden berlangsung selama tiga hari itu menyebabkan 6 brimob mengalami luka-luka dan satu anggota harus rela merenggang nyawa lantaran tertembak.

Ilustrasi penembakan Mimika [Sumber Gambar]
Meletusnya peristiwa nahas tersebut lantaran kelompok separatis bersenjata mencoba menghalangi langkah aparat untuk melakukan penggeledahan di markas kelompok UINI. Melansir Liputan 6, menurut Kapolda Papua, Irjen Pol Boy Rafli Amar mengatakan apabila pelaku penembakan diduga dari Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) pimpinan Sabinus Waker yang biasa menempati sekitar Gunung Sangker, Kalibua, Kampung Utikin, Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua, sebagai markasnya.

BACA JUGA: 5 Aksi Separatisme Inilah yang Bikin OPM Harus Segara Dienyahkan dari NKRI

Melihat kisah-kisah tentu kata pilu agaknya cukup pantas menggambarkan kondisi tersebut. Pasalnya, di tengah perkembangan wilayah Indonesia lain, Bumi Cenderawasih masih terus alami konflik bersenjata. Besar harapan para oknum pembelot tersebut segera ditangkap dan kejadian semacam ini tidak terulang.