Nama Ingvar Kamprad mungkin terdengan kurang familiar di telinga masyarakat Indonesia. Tapi tidak dengan IKEA, perusahaan furnitur dunia yang kantornya tersebar di seluruh dunia. Termasuk Indonesia. Ya, sosok Ingvar Kamprad adalah pendiri sekaligus tokoh di balik kejayaan bisnis perabot asal Swedia tersebut.

Meski dikenal kaya raya berkat bisnisnya, sosok Ingvar Kamprad merupakan tipe pengusaha yang tetap memelihara kebiasaan lamanya. Bersikap sederhana dan tampil apa adanya. Berkat dirinya pula, masyarakat di seluruh belahan dunia bisa merasakan perabot dengan harga terjangkau. Tentu saja, perjalanan hidupnya yang inspiratif sangat menarik untuk diselami.

Pria miskin yang berjuang keras sedari muda

Masa kecil Ingvar Kamprad [sumber gambar]
lahir dan tumbuh di Smaland pada 1926, Kamprad yang akrab dengan kemiskinan sedari muda merupakan figur yang pekerja keras. Dilansir dari tirto.id, ia memerah sapi serta berjualan korek, pensil, biji-bijian, dan kaus kaki sejak berusia lima tahun dan hidup mandiri. Hasil dari bekerjanya itulah yang digunakan Kamprad membiayai sekolahnya. Saat beranjak dewasa, Kamprad mencoba peruntungan dengan mendirikan bisnis sendiri di bidang furniture.

Mulai mendirikan bisnis di bidang furniture

Mulai dirikan IKEA [sumber gambar]
Pada 1943, di usia 17 tahun, Kamprad mendirikan IKEA. Sumber dari tirto.id menuliskan, nama usahanya itu berasal dari ladang milik keluarganya (Elmtaryd), dan nama desa tempat tinggalnya (Agunnaryd). IKEA bergerak di bidang pembuatan perabotan untuk keperluan rumah tangga. Seka pertama didirikana, Kampard berjibaku mengembangkan bisnis IKEA sampai menjadi perusahaan kelas dunia saat ini.

Sukses melebarkan jangkauan bisnis IKEA

Sukses melebarkan jangkauan bisnis IKEA [sumber gambar]
Seiring kemajuan usahanya, Kamprad mulai berekspansi untuk meluaskan jangakuan bisnisnya. Pada 1953, Kamprad membuka showroom di Almhult yang akhirnya menjadi toko IKEA pertama pada 1958. Setelah itu berlanjut di Norwegia (1963), Denmark (1969), Swiss dan Jerman menyusul pada 1973 dan 1974. Amerika Utara (1976), toko IKEA dibuka di Kanada. Baru pada 1985 toko IKEA dibuka di Amerika Serikat. Dilansir dari viva.co.id, IKEA sendiri telah masuk pada 1991 di Indonesia, dan baru membuka toko pertama mereka di tahun 2014.

Sosok kaya raya yang persiapkan masa pensiunnya di hari tua

Persiapkan pensiunnya di hari tua [sumber gambar]
Berkat IKEA, Kamprad hidup mewah bergelimang harta. Menurut Bloomberg Billionaires Index yangdikutip dari New York Times, Kamprad adalah orang terkaya kedelapan di dunia, dengan jumlah kekayaan 58,7 triliun dolar AS. Pada 2006 lalu, Forbes bahkan menempatkan dirinya di peringkat keempat sebagai orang terkaya di dunia. Meski demikian, ia sudah tidak lagi mengemban tugas operasional sejak 1998, namun masih dilibatkan sebagai penasihat senior. Pendek kata, Kamprad telah mempersiapkan pensiunnya sejak jauh-jauh hari.

Tetap berprinsip hidup sederhana meski bergelimang kemewahan

Tetap sederhana di hingga akhir kehidupannya [sumber gambar]
Meski bergelimang harta, Kamprad tak serta merta merubah gaya hidupnya secara drastis. Hal ini terlihat dari gaya hidupnya yang tetap sederhana dan tampil apa adanya. Dilansir dari tirto.id, ia kerap naik kelas ekonomi dalam pesawat dan gerbong kelas dua saat bepergian dengan kereta. Kamprad bahkan memiliki rumah yang sederhana dengan sebuah mobil volvo tua miliknya. Diketahui, ia telah menulis apa yang disebut sebagai “Wasiat Pedagang Perabot”. Di mana nilai-nilai IKEA seperti rendah hati, rapi, dan berbudi dalam bekerja kehidupan, wajib dilakukan. Kamprad pun tutup usia di umur 91 tahun dengan tenang di tanah kelahirannya, Smaland.

Baca Juga: Sederhana Tak Banyak Gaya, Pemuda Ini Ungkap Rahasia Bisnis Dengan Omset Miliaran Rupiah

Sukses memang tidak hanya bisa diukur dengan jumlah kekayaan yang dimiliki. Namun, keberhasilan yang hakiki adalah bagaimana kita menyikapi hidup dengan harta berlimpah yang dimiliki. Sama seperti sosok Ingvar Kamprad di atas. Ia tetap sederhana dan tampil apa adanya hingga akhir hayat. Bukan hanya soal harta, tapi bagaimana kita memaknai kekayaan tersebut dengan lebih bijaksana.