Pemberontakan yang terjadi pasca deklarasi kemerdekaan di Indonesia, ibarat sebuah duri dalam daging. Salah satunya yang dilakukan oleh kelompok bersenjata bernama Permesta. Tak kepalang tanggung, aksi separatisme tersebut disokong secara diam-diam oleh pemerintah Amerika Serikat lewat organisasi intelijennya, CIA.

Berperang secara senyap pada operasi timur jauh, CIA banyak memberikan bantuan kepada Permesta untuk menggulingkan pemerintahan Indonesia. Selain suplai persenjataan lengkap yang melebihi kekuatan militer TNI, agen rahasia tersebut juga mengirim intelijen khusus di lapangan. Permesta pun siap beradu kekuatan dengan tentara Republik Indonesia.

Gara-gara kekecewaan yang berujung pemberontakan

Sakit hati yang berujung pemberontakan [sumber gambar]
Gerakan Permesta sendiri lahir sebagai akibat dari kekecewaan rakyat Minahasa terhadap keadaan ekonomi. Kala itu, Jakarta sebagai pemerintah pusat memonopoli perdagangan kopra dengan menutup Pelabuhan Bitung di Sulawesi Utara. Dari situ, bentuk protes menjalar pada gerakan bersenjata yang mematikan.

Keterlibatan CIA di balik pemberontakan Permesta

CIA terlibat pemberontakan Permesta [sumber gambar]
Ventje Sumual menjadi salah satu tokoh kunci yang penting bagi aksi pemberontakan bersenjata. Dirinya lah yang terlibat langsung dan menjadi penghubung dengan agen CIA. Keikutsertaan Amerika Serikat serikat sendiri karena tidak ingin Indonesia jatuh pada paham komunis. Karena itu, ospi membantu Permesta dirasa paling tepat untuk menggulingkan Soekarno yang kala itu terlihat mesra dengan Blok Timur dan sekutunya.

Bantuan terbesar Amerika Serikat yang kalahkan militer Indonesia

Dukung Permesta dengan alutsista canggih [sumber gambar]
Untuk melancarkan pemberontakan Permesta, Amerika Serikat lewat CIA menggelontorkan alutsista yang terbilang canggih pada saat itu. Seperti senapan ringan kaliber 12,7mm, RPG atau bazoka, granat semiotomatis, senapan serbu infanteri, dan senjata‐senjata penangkis serangan udara. Tak hanya itu, agen lapangan mereka juga ikut membantu dengan menggelar berbagai persiapan. AU AS menolong untuk memodifikasi peswat B-26, Angkatan Darat memberikan pelatihan dan satuan laut membantu infiltrasi dan dukungan lewat kapal selam.

Muka CIA tercoreng karena insiden Allen Poppe

Allen Pope jatuh, tanda awal kekalahan Permesta [sumber gambar]
Untuk menumpas pemberontakan, pemerintah kemudian melancarkan operasi militer gabungan yang diberi nama Operasi Merdeka, dipimpin oleh Letnan Kolonel Rukminto Hendraningrat. Operasi ini sangat berjalan secara berimbang karena Indonesia juga memiliki persenjataan modern buatan Uni Soviet yang tak kalah kuatnya. Terbukti dengan ditembaknya Pesawat Angkatan Udara Revolusioner (Aurev) yang dikemudikan oleh Allan L. Pope seorang agen CIA.

Permesta dikalahkan, CIA dan Amerika Serikat mundur teratur

Permesta berhasil dikalahkan, prajurinya diberi amnesti [sumber gambar]
Setelah insiden penembakan pesawat Allan L. Pope, Pasukan TNI berhasil menduduki kota-kota penting di utara Sulawesi. Pemerintah pusat pun menawarkan ampunan bagi tentara Permesta yang menyerahkan diri. Atas hasil ini, CIA menarik dukungan dan Amerika Serikat Kehilangan muka. Sumual sendiri, setelah riwayatnya tamat di gerakan Permesta, kemudian beralih profesi menjadi seorang pengusaha. Pelan tapi pasti, riwayat pemberontakan paling legendaris di wilayah Sulawesi itupun berakhir.

Bukanlah hal yang baru jika Indonesia kerap dirongrong oleh pihak asing. Caranya pun bermacam-macam. Pelemahan Secara ekonomi, kegiatan spionase hingga mendanai pemberontakan. Sama halnya seperti kejadian OPM di Papua, apakah ada indikasi keterlibatan negara lain? Sahabat Boombastis pasti punya jawabannya.