Di masa lalu, nama Kahar Muzzakar sangat lekat dengan peristiwa pemberontakan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia), dimana kelompok tersebut dianggap sebagai ancaman kedaulatan NKRI karena mendeklarasikan Republik Persatuan Islam Indonesia (RPII). Meski demikian, tokoh pemberontakan tersebut merupakan anak buah kesayangan Sukarno saat sosok proklamator tersebut masih menjadi kepala negara.

Dalam literatur “Tragedi Patriot dan Pemberontak Kahar Muzakkar” yang dikutip dari news.okezone.com, dia satu-satunya pengawal Soekarno dan Mohammad Hatta dengan bersenjatakan golok untuk melindungi bung besar dari hunusan bayonet tentara Jepang ada rapat raksasa Ikada di Jakarta, 19 September 1945. Seperti apa kisahnya? Simak ulasan berikut.

Sosok pemuda yang aktif dan memiliki kemampuan berorganisasi

Ilustrasi gerakan pemuda [sumber gambar]
Saat Jepang menyerah di Indonesia, sosok Kahar yang memang aktif berorganisasi kemudian membentuk barisan pemuda. Dilansir dari news.okezone.com, sosok kelahiran 24 Maret 1921 itu juga ikut memprakarsai lahirnya Gerakan Pemuda Indonesia Sulawesi (Gepis), kemudian bertransformasi menjadi Angkatan Pemuda Indonesia Sulawesi (APIS) yang menjadi bagian dari Angkatan Pemuda Indonesia (API). Dari situlah, ia meniti jalan panjang di dunia perpolitikan Indonesia yang kelak membuat namanya buram karena kasus pemberontakan.

Jadi anak buah kesayangan Presiden Sukarno

Sempat ikut mengawal Sukarno [sumber gambar]
Semasa pemerintahan Sukarno, Kahar juga ikut berkontribusi di bidang keamanan. Pada saat itu, ia berkesempatan menjadi pelindung Bung Karno dan Mohammad Hatta saat peristiwa Ikada pada 19 September 1945 silam. Dalam literatur “Tragedi Patriot dan Pemberontak Kahar Muzakkar” yang dikutip dari news.okezone.com, dia satu-satunya pengawal Soekarno dan Mohammad Hatta dengan bersenjatakan golok dan tampil sebagai tameng saat kedua pemimpin itu dikelilingi Bayonet Jepang. Sejak peristiwa Ikada, Kahar pun adi pengawal “kesayangan” Bung Karno yang tergabung dalam Batalyon Kesatuan Indonesia (BKI).

Dianggap memberontak pada negara karena ingin mendirikan kekhalifahan

Ilustrasi gerakan DI TII [sumber gambar]
Sayang, sikap patriotik yang sempat ditunjukkan oleh dirinya saat menjadi ‘pengawal kesayangan’ Sukarno, harus tercoreng karena aksi separatisme yang dilakukan olehnya. Dikutip dari tirto.id, Penolakan dari Alex Kawilarang atas permintaan Kahar yang ingin agar bekas anggota Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS) dijadikan Brigade atau Resimen dari TNI, menjadi penyebab dirinya membangkang pada NKRI. ia pun kemudian bergabung dengan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) pimpinan Kartosoewirjo. Namun dalam perjalanannya, Kahar lebih memilih mendirikan negara Islam sendiri yang bernama Republik Persatuan Islam Indonesia (RPII). Jika Kartosoewirjo dinggap sebagai imam dari NII, maka dirinya diangkat sebagai Pejabat Khalifah dalam struktur organisasi RPII.

Meregang nyawa setelah keberadaannya diketahui TNI

Ilustrasi Kahar Muzakkar ditumpas TNI [sumber gambar]
Karena keputusannya mendirikan RPII, Kahar pun harus bermusuhan dengan Sukarno. Sosok yang sempat dijaga olehnya pada peristiwa Ikada. Menurut catatan Kodam Siliwangi dalam Siliwangi dari Masa ke Masa (1979) yang dikutip dari tirto.id, Kahar tewas dalam penyergapan yang dilakukan oleh TNI dari kompi D pasukan Siliwangi pimpinan Letnan Satu Umar. Saat lokasi persembunyiannya diketahui, baku tembak pun tak dapat dielakkan. Kahar akhirnya meregang nyawa karena dadanya tertembus peluru yang meletup dari moncong senapan Kopral Dua Ili Sadeli. Dikutip dari tirto.id, ia tengah menggenggam granat saat baku tembak terjadi.

Dianggap sebagai pahlawan oleh sebagian masyarakat dan diyakini masih hidup

Sosok Kahar Muzakkar dianggap sebagai Pahlawan [sumber gambar]
Meski dianggap sebagai salah satu tokoh pemberontak negara, figur Kahar Muzakar ternyata masih mendapat tempat di hati beberapa masyarakat Sulawesi. Laman tirto.id menuliskan, sosoknya begitu dihormati dan dianggap pahlawan bagi warga di sekitar Luwu. Sebagai legenda Sulawesi Selatan yang pernah membangkang terhadap pemerintahan Sukarno, kedua anaknya sempat ikut dalam konstelasi perpolitikan lokal sebagai calon pejabat publik, yakni Andi Mudzakkar dan Aziz Qahar Mudzakaar.

BACA JUGA: Kisah Supriyadi, Pahlawan Pemberontak Jepang yang Hilangnya Masih Jadi Misteri

Dalam pusaran sejarah, figur Kahar Muzakkar memang telah dicap sebagai pemberontak yang bisa mengancam kedaulatan negara. Peristiwa ini seolah menjadi gambaran, bahwa Indonesia yang telah merdeka ternyata tak luput dari ancaman separatisme dan pemberontakan. Seperti peristiwa Kahar Muzakkar di Sulawesi dan  Papua Barat pada saat ini.