Meski banyak mengatakan kalau Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 lebih baik dari pada sebelum-belumnya, namun Pesta Demokrasi tahun ini tidaklah sedang baik-baik saja. Selain banyak diwarnai perdebatan antar golongan, hajatan besar bangsa tersebut juga goreskan beberapa cerita nestapa. Terutama, kalau kita berbicara orang-orang menjadi panitia atau petugas di ajang politik tersebut.

Yaa, seperti telah banyak diketahui di Pemilu 2019 mereka adalah salah satu korban dari enaknya coblosan yang kalian lakukan. Bahkan, kalau dilihat-lihat lagi baik panitia atau orang terlibat di dalamnya harus bekerja dengan ekstra sangat keras, mulai sebelum Pemilu sampai pasca hajatan itu. Sampai-sampai kerja mereka dibanding-bandingkan dengan kegiatan romusha dan rodi saat masa penjajahan dahulu. Belum percaya? Buktikan di ulasan berikut ini.

Banyak orang gugur dalam Pesta Demokrasi 2019

Berbicara pemilu 2019, selain janji-janji politik sampai fanatisme buta pelakunya, hajatan besar bangsa ini juga ukir kisah sedih mengenai korban jiwa. Dari penelusuran penulis, tercatat sekurangnya ada lebih dari 80 orang yang berpulang di Pesta Demokrasi tahun ini.

Salah satu petugas gugur [Sumber Gambar]
Pada umumnya, kerja berat hingga punya riwayat penyakit menjadi penyebab tingginya angka kematian para petugas Pesta Demokrasi tersebut. Dan kabarnya, kisah pilu tersebut menjadi salah satu terbanyak dibandingkan dengan Pemilu yang sudah-sudah. Melihat fakta tersebut, memang sudah saatnya hajatan besar ini dilakukan evaluasi.

Demi kelancaran Pemilu, kinerja para petugas bagai kerja romusha dan rodi

Selain hal tadi, Pemilu 2019 juga hadirkan cerita perjuangan yang tidak bisa dikatakan biasa-biasa saja. Apalagi kalau kita berbicara tentang pendistribusian logistik untuk hajatan bangsa ini. Terlihat para petugas dan orang terlibat di dalamnya harus kerahkan tenaga ekstra untuk melawan medan-medan sulit.

Kerja Keras Pengiriman Logistik [Sumber Gambar]
Bahkan sejumlah wilayah yang tidak bisa dilalui dengan transportasi darat harus melibatkan hewan macam sapi dan kuda. Itu baru sebelum coblosan, pasca ajang ini petugas juga disibukkan dengan penghitungan yang tidak kenal waktu. Sampai-sampai perjuangan mereka disamakan dengan kerja romusha dan rodi saat masa penjajahan dahulu.

Sudah kerahkan semua tenaga masih dihujat sana-sini

Kisah nestapa lain yang juga dirasakan oleh para petugas Pemilu 2019 adalah hadirnya sikap kurang apresiasi atas kinerja mereka. Seperti telah kalian lihat, kerja keras mereka beberapa kali berbalas dengan sebuah hujatan dan pandangan sebelah mata. Khusus untuk hal terakhir tersebut, beberapa waktu lalu jagat Twiteer diramaikan oleh aksi salah satu oknum yang berpendapat.

Penghitungan Surat Suara [Sumber Gambar]
Kalau kerja keras petugas belum ada apa-apanya bila dibanding dengan mereka yang berkecimpung di start up atau dunia TV. Lalu ada juga menggunjing kalau KPU lambat dalam pengumpulan data C1. Melihat hal ini, pastinya sangatlah miris lantaran mereka seperti lupa bagaimana menghargai sebuah kerja keras seseorang.

Menerima uang dedikasi yang kecil

Tidak hanya berhenti di hal-hal tadi saja. Cerita pilu panitia Pesta Demokrasi di tahun shio Babi Tanah ini juga muncul dalam bentuk upah (Baca:uang dedikasi). Kendati pada tahun ini alami kenaikan dibandingkan 2014 lalu, namun kalau melihat kinerjanya yang harus menyelesaikan seluruh proses pemilu 24 jam non stop pastinya masih perlu dinaikkan lagi.

Ilustrasi uang [Sumber Gambar]
Dilansir Boombastis dari JPN.com para petugas hajatan politik ini menerima upah sebesar Rp 550000 sampai 500000. Dan nahasnya jumlah tersebut masih dipotong pajak sehingga uang dedikasi mereka semakin kecil. Bagaimana menurut kalian?

BACA JUGA: Anti Golput Golput Club, 11 Artis Indonesia yang Tinggal di Luar Negeri Pamer Foto Nyoblos

Berkaca dari kondisi tersebut, agaknya apresiasi besar patut disematkan kepada para orang yang terlibat dalam hajatan besar bangsa ini. Yaa, kalau bintang jasa berlebihan, mungkin bisa uang dedikasi yang dilebihkan. Dan buat mereka yang masih menghujat mereka dengan kerja seperti itu, agaknya hati nurani mereka patut dipertanyakan.