Barangkali, tak ada yang menyangka jika Sukarno yang merupakan presiden pertama RI dan tokoh proklamasi, ternyata sempat merasa ‘kecut’ dengan salah seorang pewira militer Indonesia. Dilansir dari historia.id, sosok tersebut adalah Mayor Jenderal Moersjid, yang dikenal memiliki perilaku apa adanya, dia merupakan salah seorang perwira tinggi terpenting di akhir kekuasaan Presiden Sukarno.

Bahkan saat terjadi kup berdarah oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) yang memakan korban Menteri/Panglima AD (Menpangad) Letjen TNI Ahmad Yani, namanya sempat diajukan sebagai penggantinya. Meski akhirnya dibatalkan, bagaimana sepak terjang sosok pemarah yang disegani oleh Sukarno tersebut?

Sosok perwira yang mengawali karir militer Sebagai tentara PETA

Mengawali karir sebagai anggota PETA [sumber gambar]
Dilansir dari historia.id, Moersjid mengawali karir militernya di satuan Pembela Tanah Air (PETA). Saat itu, pangkatnya pertamanya adalah shondanco atau setara komandan peleton. Setelah Indonesia meraih kemerdekaannya, Moersjid menapak ke jenjang perwira menengah dan menjabat sebagai mayor pada 1951. Dari komandan batalion, Moersjid promosi menjadi komandan resimen Divisi Siliwangi.

Ikut berjasa memadamkan pemberontakan Permesta di Sulawesi

Terlibat penumpasan pemberontakkan Permesta di Sulawesi [sumber gambar]
Setelah meraih kemerdekaan, kondisi Indonesia pada saat itu banyak diwarnai dengan peristiwa pemberontakkan yang terjadi di daerah-daerah. Moersjid pun tampil sebagai salah satu tokoh yang memadamkan salah satu konflik bersenjata itu. Laman historia.id menuliskan, Moersjid memimpin “Operasi 17 Agustus” untuk melumpuhkan Permesta di Sulawesi Utara bersama Ahmad Yani.

Perwira berpengaruh nomor dua di satuan Angkatan Darat

Figur yang berpengaruh di Angkatan Darat setelah Letjen Ahmad Yani [sumber gambar]
Dalam Pledoi Omar Dani: Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran, dan Tanganku yang disusun Benedicta Surodjo dan J.M.V. Soeparno yang dikutip dari laman historia.id menuliskan, nama Moersjid sempat disodorkan sebagai calon Menteri/Panglima AD (Menpangad) menggantikan Letjen Ahmad Yani yang menjadi korban G30S/PKI. Saat itu, dirinya menjabat sebagai Deputi I Menpangad yang membidangi urusan operasi. Dari garis struktural, Moersjid merupakan orang kedua setelah Yani di jajaran TNI AD.

Bikin gaduh di arena rapat dan disegani Sukarno karena sikap tegasnya

Disegani Sukarno dan sempat gaduh dengan Subandrio [sumber gambar]
Namun Moersjid akhirnya batal menjadi calon Menpangad karena adanya penolakan dari Sukarno. “Wah, tak bisa, Moersjid itu pemarah.” ujarnya seperti yang dikutip dari historia.id. Di lain kesempatan, sikap temperamental itu terjadi saat rapat kabinet yang dihadiri Presiden Sukarno. Di mana ia menantang ‘berkelahi’ terhadap Wakil Perdana Menteri I merangkap Menteri Luar Negeri Soebandrio karena telah menyindir dirinya sebagai jenderal muda yang arogan.

BACA JUGA: TB Simatupang, Jenderal Legendaris Indonesia yang Pernah Berkelahi Dengan Soekarno

Meski sosoknya dikenal temperamental, Figur Mayor Jenderal Moersjid dikenal sebaagai perwira penting dalam perjalanan sejarah militer Indonesia di satuan Angkatan Darat. Sejumlah jasa-jasanya seperti penumpasan Permesta hingga loyalitasnya pada pucuk pimpinan, menjadi salah satu teladan yang diberikan Moersjid kepada generasi muda Indonesia di masa depan. Tak salah bila seorang Sukarno merasa segan terhadap dirinya.