Kisah pendudukan Jepang di zaman pergolakan revolusi Indonesia, menyisakan banyak cerita kelam di dalamya. Seperti sosok Sukiryano berikut ini. Pernah menjadi bagian dari tentara kerajaan Dai Nippon sebagai anggota PETA, apa daya ia harus merasakan kejamnya perlakuan pasukan negeri Sakura itu.

Saat itu, Sukiryano muda masih berusia 18 tahun saat menjadi anggota PETA. Kebetulan, kota Blitar yang menjadi tempatnya bermukim, merupakan basis terbesar bagi kelompok bersenjata itu. Di PETA, Sukiryano bertugas di bagian penghubung yang sehari-harinya mengantarkan surat dinas Jepang dari Batalyon Blitar ke Batalyon lain di seputaran Jawa Timur. Seperti Kediri, Tulungagung dan Nganjuk.

Ilustrasi pasukan PETA [sumber gambar]
Saat terjadi pemberontakan PETA pada 14 Februari 1945 yang berujung kegagalan, ia sempat bertemu dengan Supriyadi saat siang hari. Sosok yang hingga kini belum diketemukan rimbanya itu, sempat bercakap-cakap dengan Sukiryano. #trowbek17an

Saat saya tanya, mau ke mana Pak. Jawabnya yo arep ngulon, pokok e ngulon (mau ke barat. Pokoknya mau ke barat),” ungkapnya yang dilansir dari news.detik.com.

Sempat bertemu dengan Supriyadi [sumber gambar]
Hingga keesokan paginya, Sukiryano tak lagi menjumpai sang Komandan. Dirinya bahkan langsung djemput sebuah sedan berwarna hitam. Sesaat setelah usai latihan perang dengan kawan-kawannya. Hal tersebut merupakan buntut dari kegagalan pemberontakan PETA yang dilancarkan oleh Supriyadi yang merupakan atasannya.

Sebanyak 78 anggota ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Enam orang divonis mati, beberapa orang dihukum seumur hidup. Dan sisanya diputuskan pengadilan sesuai dengan kesalahannya masing-masing. Sukiryano dan sang teman sendiri, hanya bisa pasrah saat dibawa menuju kantor Kempetai Kediri. Sembari diinterogasi, ia bahkan sempat dimasukan ke dalam kandang anjing herder.

Ilustrasi petugas Kempetai [sumber gambar]
Tanggal 15 Februari pagi, saya dan Moekiran orang Talun tiba-tiba dinaikkan sedan. Ternyata kami dibawa ke Kempetei Kediri. Di sana saya disiksa suruh ngaku kalau kerjasama dengan Supriyadi. Dua malam saya ditaruh di kandang anjing herder,” bebernya yang dilansir dari news.detik.com.

Beruntung, Sukiryano hanya ditahan selama dua malam. Ia pun dibebaskan seteah melalui interogasi horor Kempetai Jepang. Dengan Langkah gontai, ia kemudian pulang berjalan kaki dari Kediri menuju rumahnya di kawasan Sananwetan Kota Blitar sembari menahan sakit. Diketahui, Sukiryano sempat mengalami siksaan fisik berupa luka sayatan pedang samurai di tangan kirinnya.

Ilustrasi sempat menerima siksaan dari Jepang [sumber gambar]
Yang memilukan, ia mendengar kabar tentang kawan-kawannya saat di tengah perjalanan pulang. Beberapa dari mereka ada yang dipancung di kawasan Blitar Selatan. Sementara sisanya, ditinggalkan begitu saja oleh tentara Jepang di dalam areal hutan dan dilarang keluar. Hingga menjelang, proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Sukiryano akhirnya bergabung dengan Tentara Perintis Kemerdekaan. #trowbek17an

Dengan pasukan barunya itu, Sukiryano sempat mencicipi ganasnya palagan perang bersama arek-arek Suroboyo melawan tentara Inggris. Beberapa perang masa agresi militer Belanda I yakni 21 Juli – 5 Agustus 1947. dan agresi militer Belanda II, 19 Desember 1948, masih tetap dilakoninya.

Menjadi saksi perjuangan Indonesia di masa penjajahan Jepang [sumber gambar]
Kini di masa tuanya, ia merasa bersyukur bisa menikmati kemerdekaan. Hasil jerih payahnya di masa lalu. Sukiryano pun tetap setia menunggui Kantor Pejuang Perintis Kemerdekaan yang berada di areal monumen Peta di Jalan Sudanco Supriyadi Kota Blitar. Meski kini usianya telah beranjak tua, Sukiryano memiliki harapan yang besar. Utamanya terhadap kaum muda. #trowbek17an

Kalau zaman saya tantanganya penjajah. Kalau sekarang, harus pinter semua. Karena tantangannya melawan kebodohan biar bisa mengisi kemerdekaan,” pungkasnya.