PDI-Perjuangan kini tengah menjadi topik hangat lantaran peristiwa pembakaran bendera partai oleh sekelompok orang beberapa waktu lalu. Di mana hal tersebut merupakan buntut dari aksi unjuk rasa penolakan atas RUU Haluan Ideologi Pancasila (HIP). Megawati selaku Ketua Umum dari partai berlogo kepala banteng itu juga menjadi sorotan.

Sebagai politikus wanita yang berpengaruh, Megawati telah melalui berbagai dinamika sosial selama berkarir di kancah politik. Memulai segalanya dari bawah hingga berhasil mendirikan Partai PDI Perjuangan, jejak langkahnya turut mewarnai perjalanan bangsa Indonesia ketika dirinya terpilih sebagai Presiden wanita pertama di Indonesia.

Berawal dari sebagai anggota DPR dari PDI

Keterlibatan Megawati di kancah politik nasional berawal dari ajakan Sabam Sirait – yang kini menjadi politikus senior PDI Perjuangan, pada tahun 1980an. Sebelumnya, Megawati memiliki bisnis pompa bensin yang dikelola bersama Taufik Kiemas suaminya. Beruntung, ia akhirnya menerima tawaran Sabam.

Megawati Sukarnoputri [sumber gambar]
Megawati pun maju ke kancah politik bersama adiknya, Guruh Sukarnoputra pada 1987 dan terdaftar sebagai calon anggota DPR dari Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Layaknya politikus kebanyakan Megawati berkampanye dan berhasil menarik simpati masyarakat. Mereka rata-rata merindukan sosok Sukarno yang gambarnya senantiasa hadir dalam setiap kegiatannya.

Berhasil merebut simpati rakyat dan terbelahnya PDI

Simpati rakyat tersebut membuat PDI mampu merebut 40 kursi DPR pada Pemilu 1987 dan kembali meledak pada 1992. Megawati benar-benar melejit di luar dugaan. Kemajuan tersebut membuat Soeharto dan Orde Barunya khawatir. Hal serupa juga dirasakan oleh Soerjadi selaku Ketua Umum PDI yang ketokohannya merasa tersaingi.

Megawati dalam sebuah kesempatan [sumber gambar]
Rival panas antar Megawati dan Soerjadi pun terlihat saat para pendukung partai berlambang banteng pecah menjadi dua kubu. Satu mendukung Megawati, sementara lainnya berpihak pada Soerjadi. Usai Soeharto lengser pada 1998, Megawati memilih keluar dari PDI dan membentuk partainya sendiri, yakni PDI Perjuangan.

Mendirikan PDI Perjuangan dan naik takhta sebagai Presiden RI

Usai terbentuk, PDI Perjuangan langsung melesat di kancah perpolitikan Indonesia yang baru saja memasuki era reformasi. Raihan suaranya sebesar 33,74 persen pada Pemilu 1999 mengungguli PDI Soerjadi yang hanya mengantongi 0,33 persen suara. Sayang, upayanya menjadi RI satu sedikit terganjal.

Megawati Sukarnoputri saat berpidato di atas mimbar [sumber gambar]
Suara parlemen ternyata lebih memilih Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sebagai presiden. Megawati pun hanya duduk sebagai wakilnya. Baru setelah Gus Dur dilengserkan Sidang Istimewa Majelis Permusyawaratan Rakyat, ia maju dan dilantik sebagai Presiden kelima Indonesia pada 23 Juli 2001.

Partai berpengaruh yang kini eksis di pemerintahan hingga saat ini

Nama besar Megawati dan PDI Perjuangan pun terbawa hingga saat ini. Partai berlogo banteng dengan moncong putih itu, tetap eksis di pemerintahan meski telah mengalami berbagai episode dalam perjalanannya sebagai partai politik. Salah satu tokohnya yang berpengaruh adalah Ir. Joko Widodo.

Megawati dan Jokowi [sumber gambar]
Kini, pria asal Solo Jawa Tengah yang sebelumnya dikenal sebagai seorang pengusaha mebel itu terpilih sebagai presiden RI untuk dua periode, yakni pada 2015-2019 dan 2019-2024. Panasnya persaingan politik yang terjadi saat itu, tak menyurutkan popularitas PDI Perjuangan.

BACA JUGA: Punya Tanah Melimpah dan Belasan Kendaraan, Segini Ternyata Jumlah kekayaan Megawati

PDI Perjuangan kini telah menjadi salah satu partai terbesar yang memiliki pengaruh di pemerintahan. Semua hal tersebut tak lepas dari sosok Megawati yang benar-benar mengawali semuanya dari bawah, dan kerja kerasnya bersama kader, relawan, maupun simpatisan lainnya.